Di Balik Kemenangan Liga Primer Arsenal dan Intervensi Penting yang Mengubah Perebutan Gelar
Agus Firmansyah May 20, 2026 07:52 PM

Saat Mikel Arteta akhirnya dapat menikmati momen bersejarah ini, ia terus mengulang beberapa kata yang tak henti-hentinya terlintas di pikirannya sepanjang musim. “Dua puluh dua tahun,” ujarnya kepada siapa pun yang mendengarkan. “Dua puluh dua tahun. Terlalu lama bagi klub sebesar Arsenal.”

Dan kini, setelah sekian lama menahan frustrasi dan penantian itu, Arteta dan skuadnya akhirnya bisa berkata bahwa masa itu telah berakhir. Pada hari Minggu, ia akan mengangkat trofi Liga Primer Inggris, gelar pertama klub sejak 2004 dan yang ke-14 sepanjang sejarah.

Pelatih asal Basque itu sangat menyadari dampak panjangnya penantian tersebut. Ia bisa merasakannya sepanjang musim — bahaya yang tiba-tiba muncul saat segalanya tampak akan terlepas begitu saja, seperti yang banyak orang khawatirkan.

Jika ada satu keunggulan terbesar dari kampanye Arsenal musim ini, itu adalah bagaimana Arteta mampu mengelolanya; bagaimana ia memastikan timnya tetap dalam kendali.

Kendali itu terkadang rapuh. Setidaknya ada empat momen besar krisis emosional ketika Arteta merasa perlu turun tangan. Triknya selalu sama: membuat para pemain melihat situasi dari sudut pandang baru, mengingatkan mereka bahwa mereka lebih memilih berada di posisi ini daripada sebaliknya.

Hal itu menjadi bukti ketangguhan mereka, yang sering kali diragukan.

Namun ada satu momen penting ketika salah satu pemain justru membuat Arteta sendiri melihat semuanya dari perspektif baru.

Kai Havertz mencetak satu-satunya gol kemenangan atas Burnley.

Hari-hari setelah kekalahan 2-1 di kandang dari Bournemouth mungkin merupakan titik terburuk musim ini, terlebih karena kekalahan itu terjadi tepat sebelum laga besar melawan Manchester City — lawan yang sudah lama menjadi momok bagi Arsenal dan harus mereka kalahkan.

Masalah yang muncul saat itu bukan hanya soal mental. Secara fisik, para pemain Arsenal tampak dan merasa kelelahan.

Hal itu sebagian karena padatnya jadwal, tetapi juga karena tuntutan latihan dari Arteta sendiri. Respons sang pelatih terhadap setiap kemunduran adalah bekerja lebih keras lagi di lapangan latihan. Etos kerja itu bisa dianggap mengagumkan dalam situasi tertentu, tetapi tidak ideal bagi atlet yang tubuhnya sudah sangat terlatih. Dampaknya terlihat dari krisis cedera yang selalu melanda setiap bulan April.

Lalu, Eberechi Eze, salah satu pemain baru yang dikenal santai, mendekati manajernya. Dengan kata-kata sederhana, ia menyampaikan pesan kepada Arteta: kami bisa melakukannya, tapi kami butuh sedikit ruang.

Arteta mendengarkan.

Hari libur pemain pun ditambah. Intensitas sesi latihan dikurangi. Pada minggu sebelum mereka memastikan gelar, Arteta memberi mereka tiga hari libur disusul dengan acara barbeku.

Di tempat latihan, Arteta juga memutuskan untuk “mematikan semua kebisingan” dengan menonaktifkan saluran olahraga dan berita. Sebagai gantinya, diputar musik dari era 90-an dan awal 2000-an — kebetulan masa ketika Arsenal terakhir kali menjuarai liga.

Hal-hal kecil seperti ini mungkin tampak sepele, tetapi justru menjadi elemen penting yang sering tak terlihat — pembeda antara tim yang berhasil merebut gelar dan yang tidak.

Terutama bagi tim seperti Arsenal, yang bermain dengan margin sangat tipis.

Tentu ada perdebatan lebih besar seputar estetika dan gaya juara baru ini, serta pengaruh luas mereka terhadap permainan.

Namun pada dasarnya, kisah ini tetap tentang kendali: seorang manajer yang berusaha memaksimalkan setiap aspek yang dimilikinya.

Mungkin tidak selalu terasa demikian dari sisi gaya menyerang yang ekspansif, tetapi pendekatan itu membuat Arsenal menjadi tim paling seimbang di liga. Dan karena itulah mereka menjadi juara baru.

Hal ini juga memperkuat tema yang mungkin tidak terlalu populer dalam perdebatan seputar Arsenal, tetapi tetap benar adanya: ini adalah kisah tentang performa di atas ekspektasi; tentang mengalahkan lawan yang jauh lebih kaya melalui perencanaan dan strategi matang. Gaji Manchester City dari laporan terakhir masih £80 juta lebih tinggi daripada Arsenal — setara dengan lima Bukayo Saka.

Kesenjangan kedalaman skuat itu jelas berpengaruh, sehingga Arteta harus menyesuaikan strategi dengan cara berbeda.

Ia duduk bersama pimpinan sepak bola saat itu, Tim Lewis dan Andrea Berta, untuk merancang cara meraih keunggulan, baik dalam permainan maupun komposisi skuat.

Dari sinilah fokus pada bola mati dan kekuatan fisik muncul. Arteta bisa melihat arah perkembangan sepak bola modern dan ikut memperkuat tren itu. Oleksandr Zinchenko dilepas karena tidak memenuhi kebutuhan fisik tersebut.

Pendekatan baru itu juga terlihat dari aktivitas transfer musim panas.

Arteta telah melalui masa-masa sulit setelah beberapa kali finis di posisi kedua — kenangan pahit yang membuat keberhasilan ini terasa jauh lebih melegakan. Namun setiap keterpurukan selalu diikuti dengan refleksi mendalam tentang apa yang bisa diperbaiki.

Masalah paling jelas pada musim 2024-25 adalah kedalaman skuat dan dampak cedera. Menyadari betapa padatnya kalender baru, Arteta sadar ia butuh pelapis di setiap posisi.

Sempat ada pertimbangan untuk merekrut Alexander Isak, dan bahkan rencana paket transfernya sudah disiapkan. Arteta sangat menyukai penyerang asal Swedia itu.

Namun harganya terlalu tinggi untuk seorang penyerang yang masih diragukan kemampuannya tampil konsisten dua kali seminggu. Keputusan untuk tidak merekrutnya akhirnya terbukti tepat.

Viktor Gyokeres telah mencetak 21 gol untuk Arsenal musim ini.

Situasi itu juga memberi Arteta keuntungan lain yang selama ini ia dambakan: kemampuan untuk menghadapi pertandingan tanpa lawan mengetahui konfigurasi pemain yang akan ia turunkan.

Karena itu, ia sering memainkan strategi dengan menyembunyikan informasi cedera, bahkan meminta media klub agar tidak menampilkan pemain yang baru pulih.

Namun, di balik semua strategi itu, kemenangan gelar ini pada dasarnya lahir dari pemikiran mendalam di setiap aspek permainan. Menurut salah satu sumber, Arteta berusaha “mengendalikan setiap elemen pertandingan”. Ia bahkan melatih tim di Stadion Emirates agar bisa memanfaatkan posisi tribun untuk menyempurnakan garis pressing mereka.

Arteta digambarkan sebagai “orang yang berpikir berdasarkan probabilitas”. Ia tahu bahwa jika Arsenal mampu menciptakan sekitar 2,0 xG per pertandingan sambil menahan lawan di angka 0,5 dan menjaga clean sheet, serta mencetak gol dari bola mati, maka peluang mereka untuk memenangkan liga akan sangat besar.

Semua itu membuat kampanye musim ini terasa metodis, bahkan terkadang membosankan. Hanya ada sedikit momen ketika Arsenal menunjukkan kilau seperti musim 2022-23. Namun para pendukung Arteta berpendapat bahwa ia melakukan apa yang diperlukan.

Meski begitu, di tengah pendekatan penuh perencanaan itu, tetap ada momen-momen penting di mana tim harus menampilkan kemampuan terbaiknya.

Salah satunya adalah kemenangan comeback 2-1 di kandang Newcastle United pada akhir September, yang dianggap banyak pemain sebagai titik balik penting. Momen itu juga menandai peran penting bola mati, dengan Gabriel mencetak gol kemenangan dari situasi tersebut. Pola itu terus berulang.

Kemenangan 4-1 atas Aston Villa saat Natal juga menjadi salah satu penampilan terbaik Arsenal sepanjang musim. Para pemain bahkan bernyanyi di ruang ganti, “set-piece lagi, ole ole.”

Martin Zubimendi mencetak gol kedua dalam kemenangan tersebut.

Kemenangan 4-0 di kandang Leeds United sangat penting untuk meredakan ketegangan setelah kekalahan 3-2 dari Manchester United, sementara kemenangan 4-1 di markas Tottenham Hotspur memberi efek serupa setelah hasil imbang mengejutkan 2-2 melawan Wolves.

Sepanjang perjalanan, ada perasaan bahwa beberapa pemain terlalu terpengaruh oleh tekanan dari luar. Bahkan pemain lawan menyadari ketegangan itu, sementara orang dalam klub melihat Arsenal tampil lebih santai di Liga Champions.

Staf Arteta berpendapat hal itu juga karena ketatnya persaingan di Liga Primer musim ini.

Setiap pertandingan terasa seperti pertempuran, diperparah oleh kelelahan mental dan fisik yang mulai menumpuk. Mereka seharusnya bisa unggul beberapa poin di akhir musim dingin dan awal musim semi.

Menjelang pertengahan April, ketika efek dari gol terobosan Max Dowman melawan Everton mulai memudar, kelelahan benar-benar terasa. Cedera menumpuk. Martin Zubimendi, yang direkrut untuk menjaga kendali permainan, terlihat sangat lelah.

Arteta pun kembali mengingat pesan Eze.

Momen itu datang tepat sebelum laga melawan City. Meskipun kekalahan 2-1 itu menyakitkan, cara mereka kalah justru memberi semangat baru. Ada kesan bahwa City merayakan kemenangan itu terlalu berlebihan. Arsenal merasa lebih percaya diri. Ucapan Declan Rice, “ini belum berakhir,” bukan sekadar kata-kata.

Para pemain kembali percaya. Performa di Liga Champions juga membantu.

Begitu pula dengan keputusan Arteta mengikuti momentum positif timnya.

Ia melihat Myles Lewis-Skelly bekerja keras dan memutuskan untuk memanfaatkan energinya. Suasana tim menjadi lebih lepas.

Secara perlahan, para pemain kunci mulai kembali fit.

Mereka memang belum tampil sepenuhnya dominan, tetapi cukup kuat untuk melewati rintangan.

Saat menang atas Burnley, Arteta hampir memiliki skuat lengkap.

Mereka menampilkan seluruh karakteristik khas musim ini: gol dari bola mati, kemenangan tipis 1-0, dan sedikit kontroversi VAR — namun yang terpenting, tidak ada lagi tudingan “gugup di akhir musim”.

Kini justru City yang kehilangan momentum, terutama setelah hasil imbang 3-3 melawan Everton.

Arteta telah mengembalikan ketangguhan dan rasa hormat diri dalam tubuh Arsenal.

Mereka kembali menjadi tim yang serius. Dan mereka kembali menjadi juara.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.