Bagaimana Mikel Arteta Menepati Janjinya di Arsenal Saat Gelar Juara Menghapus Penantian Puluhan Tahun
Dewi Rahayu May 20, 2026 08:40 PM

Arsenal mengambil risiko besar ketika menunjuk Mikel Arteta pada tahun 2019 — keputusan yang kini terbukti membuahkan hasil setelah mereka menjuarai Liga Premier Inggris.

“Saya akan menumpahkan setiap tetes darah demi klub sepak bola ini agar menjadi lebih baik,” janji sang pelatih asal Spanyol kala itu.

Perkembangan Arsenal pada awal masa kepemimpinan Arteta berlangsung perlahan, dengan fokus tidak hanya pada hasil di lapangan, tetapi juga pada pembentukan budaya tim. Fondasi kuat itulah yang kemudian membawa mereka ke puncak.

Kini, Arteta tidak hanya berhasil membuat Arsenal lebih baik, tetapi juga menjadikannya yang terbaik. Lebih baik daripada dalam 22 tahun terakhir. Penantian terpanjang klub untuk meraih gelar liga sejak Perang Dunia II akhirnya usai.

Dengan final Liga Champions melawan Paris Saint-Germain masih menanti, ada kemungkinan besar musim ini akan menjadi yang terbaik dalam sejarah Arsenal.

Apa pun hasil di Budapest pada 30 Mei nanti, parade kemenangan akan digelar di jalan-jalan London Utara keesokan harinya. Melihat suasana di luar Stadion Emirates pada Selasa malam, acara itu akan menjadi perayaan luar biasa.

Itu akan menjadi luapan kelegaan — pelepasan emosi setelah berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun penuh tekanan. Bagi semua yang berada di dalam klub dan para pendukungnya, perjalanan ini sungguh menguras tenaga.

Dari 25 kemenangan Arsenal di liga musim ini, 13 di antaranya hanya berselisih satu gol, dan delapan di antaranya berakhir 1-0.

Pertandingan yang menegangkan ini baru menjadi pola tetap sejak Desember. Sebelumnya, Arsenal sempat mencatat delapan kemenangan beruntun di semua kompetisi tanpa kebobolan.

Kemudian datang kemenangan 2-1 atas Wolverhampton Wanderers. Arsenal kebobolan gol penyeimbang di menit ke-90, namun berhasil mencetak gol kemenangan di masa tambahan waktu.

Para pemain sangat frustrasi karena Wolves sempat kembali ke permainan. Declan Rice bahkan menyuarakan kekesalannya di ruang ganti dengan nada tegas kepada rekan setimnya.

Sejak saat itu, pola permainan Arsenal terbentuk. Mereka harus bertahan dengan penuh ketegangan di 20 menit terakhir untuk mengalahkan Brighton setelah gagal menuntaskan pertandingan lebih awal.

Saat ditanya apakah cara bermain seperti itu bisa terus dipertahankan, mengingat energi emosional yang terkuras, Arteta menjawab: “Ya. Dari sisi saya, ya.” Ujian berat datang setelahnya — dan pada akhirnya, ia terbukti benar.

Reset besar pertama musim ini terjadi setelah kekalahan dari Manchester United pada Januari. Tiga laga tanpa kemenangan membuat keunggulan Arsenal di puncak klasemen terpangkas menjadi empat poin.

Arteta menonton ulang pertandingan itu dua kali secara penuh sebelum mengadakan pertemuan tim. Fokus pembahasan diarahkan pada tujuan besar yang masih bisa dicapai, bukan pada hasil buruk terakhir. Hasilnya, Arsenal mencatat 14 pertandingan tanpa kekalahan setelahnya.

Pada periode ini, Josh Kroenke berkunjung ke tempat latihan setelah harapan LA Rams di Super Bowl pupus. Ia makan siang bersama Arteta, dengan siapa ia memiliki hubungan baik. Kroenke dikenal sering memberikan dukungan di masa-masa sulit dan semakin aktif dalam urusan klub.

Ia bahkan dikenal sering mengirim pesan kepada pemain yang membuat kesalahan atau mengalami cedera. Setelah kemenangan atas Burnley pada Senin malam, Kroenke memeluk erat Ben White di lapangan.

Setelah kekalahan dari United, Arteta tampil penuh keyakinan di depan publik. “Naiklah ke perahu ini karena ini akan menyenangkan,” katanya kepada para penggemar Arsenal. “Banyak hal luar biasa akan terjadi — hal-hal yang bahkan belum bisa kita bayangkan.”

Konsep “perahu” itu kemudian menjadi tema berulang. Sebelum leg kedua semifinal Liga Champions melawan Atletico Madrid, sebuah tifo besar bertema Armada Spanyol terpampang di stadion.

Bursa transfer Januari berakhir tanpa aktivitas. Arsenal sudah berbelanja besar di musim panas sebelumnya untuk menghindari musim yang terganggu cedera.

Namun ketika Mikel Merino, Kai Havertz, dan Martin Odegaard absen bersamaan — sementara Ethan Nwaneri dipinjamkan — keputusan untuk tidak mendatangkan pemain baru sempat terlihat berisiko.

Keraguan terhadap mentalitas tim pun muncul kembali setelah hasil imbang melawan Wolves pada Februari yang membuat Arteta marah besar. Skuad mengadakan pertemuan internal yang disebut “panas” setelahnya.

Beberapa orang di dalam klub merasa bahwa situasi saat itu unik — gol-gol yang bersarang ke gawang Arsenal sebagian besar berasal dari kesalahan individu atau tendangan luar biasa dari lawan.

Namun masa sulit belum usai. Arsenal tersingkir dari dua kompetisi dalam waktu singkat — kalah dari Manchester City di final Piala Carabao dan disingkirkan Southampton di Piala FA.

Kekalahan beruntun dari Bournemouth dan City di Liga Premier membuat perubahan menjadi keharusan.

Kali ini, Arteta menurunkan tensi. Konferensi persnya yang sebelumnya sangat intens mulai ia kendurkan. Ia sempat menyerukan kepada fans untuk “bawa makan siang, bawa makan malam” menjelang laga melawan Bournemouth. Beberapa hari kemudian, sebelum leg pertama perempat final melawan Sporting, Arteta tampil “membara”.

Sejak itu pesannya menjadi lebih tenang, membiarkan perjalanan musim ini berbicara sendiri.

Setelah kekalahan dari City, Arteta memberi libur dua hari kepada para pemain. Ia ingin skuadnya bernapas sejenak sebelum menegaskan kembali pesan yang disampaikannya di ruang ganti Etihad: kini liga dimulai kembali. Lima laga tersisa untuk mewujudkan mimpi mereka.

Arteta menyoroti hal positif dari performa melawan City, dan itu bukan sekadar omongan publik. Keyakinan baru benar-benar tumbuh di dalam tim, seolah kehilangan posisi puncak justru membebaskan mereka dari tekanan.

Sejak saat itu, Arsenal memenangkan empat pertandingan liga terakhir tanpa kebobolan, mengamankan gelar juara sekaligus tiket ke final Liga Champions.

Seperti musim sukses lainnya, beberapa hasil menjadi tonggak penting. Kemenangan di kandang Brighton terasa besar, apalagi disertai kabar bahwa Manchester City bermain imbang melawan Nottingham Forest. Untuk pertama kalinya, para suporter Arsenal menyanyikan: “Kami akan juara liga.”

Musik keras terdengar dari ruang ganti tim U-18 di Stadion Amex. Max Dowman dan Marli Salmon, yang tak bisa berganti di ruang ganti tim utama karena usia mereka, merayakan dengan cara mereka sendiri.

Kemenangan itu dilampaui oleh hasil melawan Everton pada bulan Maret, ketika Dowman mencatat sejarah sebagai pencetak gol termuda dalam sejarah Liga Premier.

Arsenal berusaha melindungi pemain berusia 16 tahun itu, menolak permintaan wawancara pasca-pertandingan meski ia sangat ingin berbicara tentang momen bersejarahnya.

Namun karena gelar tidak dipastikan di atas lapangan, pertandingan melawan West Ham mungkin akan dikenang sebagai momen paling menentukan. The Gunners nyaris kehilangan kendali dalam perburuan gelar karena keputusan VAR di masa tambahan waktu.

Kemenangan itu akhirnya menjadi titik penentu. Saat Bournemouth menahan City imbang, para pemain Arsenal yang berkumpul di tempat latihan pun berpesta merayakan keberhasilan mereka meraih gelar.

Sambil melambaikan botol sampanye, Myles Lewis-Skelly berseru kepada Bukayo Saka: “Mereka bilang kami pengecut — sekarang kami yang pegang botolnya!”

Piero Hincapie berpura-pura minum dari botol air berlogo Arsenal, sebagai sindiran terhadap penggemar City yang dulu mengejek mereka. Declan Rice mengangkat Andrea Berta ke udara, dan sang direktur olahraga ikut “crowd-surfing” di antara para pemain.

Rice juga mengunggah pesan di media sosial. Setelah kekalahan di Etihad, kamera menyorot dirinya yang berkata kepada Martin Odegaard: “Belum selesai.”

Beberapa menit setelah gelar juara resmi diraih dan 22 tahun penantian berakhir, Rice menyampaikan pesan terakhirnya — simbol dari tekad yang akhirnya terbayar lunas.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.