Laporan Jemaah Haji Riau dari Arab Saudi, Ibnu Mas’ud
TRIBUNPEKANBARU.COM, MAKKAH - Menjelang puncak ibadah haji, suasana hotel tempat jamaah Indonesia menginap mulai menghadirkan cerita-cerita kecil yang justru terasa paling dekat dengan kerinduan kampung halaman. Setelah sepekan dua pekan berada di Makkah dengan menu katering yang teratur, sebagian jamaah asal Riau mulai membuka 'harta karun' yang dibawa dari tanah air berupa sambal, ikan kering, rendang, dan beberapa lauk tahan lama yang sengaja disimpan untuk waktu tertentu.
Di beberapa kamar hotel, jamaah bahkan mulai berkumpul sederhana sambil menikmati lauk yang dibawa dari rumah. Ada yang diam-diam membeli kompor listrik kecil untuk menghangatkan makanan, lalu makan bersama di lorong kamar hotel sambil bercanda dan melepas rindu dengan suasana rumah di Indonesia.
Bagi jamaah, momen seperti itu justru menjadi penyemangat di tengah padatnya aktivitas ibadah dan cuaca panas Kota Makkah. Aroma sambal dan lauk kampung yang tercium dari kamar-kamar jamaah seolah menjadi pengobat rindu setelah berhari-hari menjalani rutinitas ibadah di Tanah Suci.
Di sisi lain, menjelang fase puncak haji yang dimulai pada 8 Zulhijjah 1447 Hijriah atau 25 Mei 2026, jamaah haji asal Riau tetap antusias berburu ibadah di Masjidil Haram. Terlebih beberapa hari lagi layanan bus shalawat akan dihentikan sementara menjelang Armuzna.
Terlihat jamaah Indonesia masih cukup ramai memadati bus shalawat saat waktu Subuh maupun menjelang Magrib dan Isya. Bus-bus tersebut terus hilir mudik menjemput jamaah dari hotel menuju terminal sekitar Masjidil Haram.
Waktu Subuh, Magrib, dan Isya menjadi jam paling ramai bagi jamaah Indonesia untuk beribadah di Masjidil Haram. Selain suhu udara lebih bersahabat, suasana malam di sekitar Masjidil Haram juga terasa lebih nyaman untuk jamaah lanjut usia.
Sementara pada waktu Zuhur dan Ashar, aktivitas jamaah sedikit berkurang karena cuaca panas yang cukup menyengat. Banyak jamaah memilih beristirahat di hotel, mencuci pakaian, memeriksa kesehatan, atau membeli kebutuhan harian di sekitar penginapan.
Menariknya, kawasan hotel jamaah Indonesia kini terasa seperti 'mini pasar Indonesia'. Di bagian lobby maupun lantai dasar hotel banyak terdapat kedai kecil milik warga Bangladesh yang menjual berbagai kebutuhan jamaah. Mulai dari minuman dingin, makanan ringan, perlengkapan ibadah, pakaian, hingga oleh-oleh khas haji tersedia hampir sepanjang hari.
Beberapa kedai bahkan menyediakan makanan hangat seperti mi instan ala Indonesia, teh susu, kopi panas, hingga makanan cepat saji yang cukup akrab di lidah jamaah Indonesia.
Yang lebih ramai lagi adalah munculnya pasar-pasar dadakan di sekitar hotel jamaah. Setiap pagi hingga malam, kawasan sekitar penginapan dipenuhi penjual makanan khas Indonesia seperti bakso, bakwan, mie ayam, hingga sate Madura. Dengan harga mulai 2 sampai 10 riyal, tempat-tempat seperti ini selalu ramai didatangi jamaah yang rindu makanan kampung halaman.
Meski demikian, secara umum pelayanan konsumsi dari pemerintah Indonesia dinilai cukup baik. Sudah beberapa tahun terakhir jamaah haji reguler tidak lagi memasak sendiri di kamar karena makanan disediakan rutin tiga kali sehari hingga menjelang kepulangan ke tanah air.
Menjelang fase Armuzna, pemerintah Indonesia juga mulai memperkuat layanan konsumsi bagi jamaah. Kementerian Haji dan Umrah RI menyiapkan distribusi makanan siap santap atau Ready To Eat untuk mendukung kebutuhan jamaah saat menjalani puncak ibadah haji yang dikenal sangat padat dan melelahkan.
Skema makanan siap santap tersebut disiapkan agar jamaah tetap mendapatkan asupan makanan tepat waktu di tengah tingginya mobilitas selama berada di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Pemerintah berharap layanan konsumsi ini dapat membantu jamaah menjaga stamina dan tetap fokus menjalankan rangkaian ibadah haji dengan baik.
(Tribunpekanbaru.com/Alexander)