Laporan Wartawan TribunPriangan.com, Muhamad Nandri Prilatama
TRIBUNPRIANGAN.COM, BANDUNG - Nonton bareng laga Persib melawan PSM pada Minggu (17/5/2026) malam berakhir dengan adanya sebuah aksi pembacokan yang terjadi di sekitar Taman Maluku, kota Bandung. Korbannya bernama Jaeni yang merupakan mahasiswa semester akhir di Universitas Cipasung Tasikmalaya.
Jaeni masih mendapatkan perawatan intensif di RSHS Bandung lantaran mengalami banyak luka sabetan senjata tajam di tubuhnya, seperti di tangan, telinga, dan lengan bahunya.
Adik Jaeni, Jaelan yang ketika itu bersama-sama mengikuti nobar Persib di Taman Maluku tampak panik setelah melihat kakaknya sudah tergeletak bersimbah darah pascagol kedua yang dicetak oleh pemain Persib di penghujung laga.
"Saat Persib cetak gol kedua, banyak bobotoh yang merayakannya dan banyak yang lalu lalang membuat saya dan kakak saya terpisah saking banyaknya orang. Tiba-tiba setelah perayaan gol itu terjadi kericuhan, dan saya panik mencari kakak. Ternyata, kakak sudah tergeletak bersimbah darah dengan ada bobotoh lain yang menolong meminggirkannya," katanya ditemui di RSHS Bandung, Rabu (20/5/2026).
Jaelan mengaku ketika nobar kemarin, dia dan kakaknya memakai jaket biasa tak mengenakan jersey Persib. Ketika nobar berjalan pun awalnya kondusif sebelum gol kedua Persib tercipta.
Baca juga: Polda Jabar Ingatkan Bobotoh dan Suporter Tertib Saat Jalani Konvoi
"Tapi, setelah gol penentu itu banyak yang merayakannya hingga terjadi kericuhan. Luka yang dialami kakak, ada di tangan, telinga, dan lengan bahu," ujarnya seraya mengaku baru pertama nobar di Taman Maluku itu lantaran ada teman kakaknya yang berjualan kopi di sana, sehingga sambil nongkrong.
Dia pun berharap, apa yang menimpa kakaknya menjadi peristiwa terakhir dan tak terulang ke korban-korban lainnya. Dia juga meminta kepada para bobotoh untuk merayakan kemenangan atau juara Persib dengan aman dan tertib.
Sepupu Jaeni yang memang warga Bandung, Azhari meminta perhatian terhadap pemerintah, seperti Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dan Wali Kota Bandung, M Farhan, atau manajemen dari Persib Bandung maupun komunitas bobotoh untuk dapat membantu keponakannya ini. Pasalnya, kata Azhari, biaya pengobatan seluruhnya ditanggung sendiri.
"Korban memerlukan operasi yang besar dan harapan keluarga untuk perhatian semua pihak. Korban juga hanya niat nobar dan ikut euforia Persib. Tapi, kondisi Bandungnya tak kondusif dengan adanya momentum ditambah ada oknum yang membuat onar," katanya.(*)