TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kulon Progo berupaya menangkap peluang dari keberadaan Embarkasi Haji DIY di Yogyakarta International Airport (YIA). Salah satunya untuk mengangkat produk UMKM lokal.
Ruang Terbuka Publik (RTP) Bulak Tabak di Kapanewon Temon pun disiapkan sebagai tempat promosi UMKM lokal. Sebab jaraknya tidak jauh dari hotel yang difungsikan sebagai Asrama Haji DIY.
Namun, hampir sebulan berjalan, efek keberadaan Embarkasi Haji DIY belum dirasakan oleh pelaku UMKM di RTP Bulak Tabak. Seperti yang diungkapkan oleh Marsiwi Nurhayati.
"Bisa dibilang tidak sesuai ekspektasi, jumlah barang yang terjual masih sangat minim," ungkap Marsiwi pada Rabu (20/05/2026).
Adapun ia berjualan produk bawang goreng. Biasanya, ia berjualan secara daring atau online dari rumah, namun mencoba peruntungannya di RTP Bulak Tabak dengan memanfaatkan euforia dari Embarkasi Haji DIY.
Awalnya, keberadaan UMKM di RTP Bulak Tabak diharapkan bisa menarik para pengantar jemaah. Namun Marsiwi mengatakan tidak banyak rombongan pengantar yang mampir berbelanja ke sana.
"Hanya sekali yang cukup ramai, waktu itu kedatangan pengantar jemaah dari Wonosobo, cukup lumayan hasil penjualannya," ujarnya.
Sayangnya, keramaian itu hanya bertahan selama 2 hari. Sedangkan sisanya kembali minim, di mana kunjungan justru lebih didominasi oleh warga lokal lewat berbagai kegiatan seperti senam bersama di akhir pekan.
Lutfiah, pelaku UMKM lainnya juga merasakan hal serupa. Pedagang bawang goreng ini mengungkapkan tak hanya minim pengunjung, kondisi cuaca pun juga kurang mendukung.
"Pernah ada hujan deras dengan angin kencang yang membuat tenda-tenda berjualan jadi rubuh," tuturnya.
Terlepas dari kondisi itu, Lutfiah tetap tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Dinas Perindustrian, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Dinperinkop-UKM) Kulon Progo. Sebab pelaku UMKM difasilitasi secara gratis untuk berjualan di sana.
Ia memilih menjadikan peluang yang diberikan di RTP Bulak Tabak itu sebagai wadah promosi produknya. Meski penjualan secara daring jauh lebih stabil karena pasarnya sudah terbentuk.
"Saya jadikan stand di sini sebagai wadah untuk mengenalkan produk lebih luas, inginnya sampai luar daerah," jelas Lutfiah.
Panewu Temon, Rusdi Suwarno mengatakan bahwa akses masuk ke RTP Bulak Tabak terbatas. Sebab lokasinya agak masuk melewati gang dari Jalan Nasional Wates-Purworejo.
Bus besar pembawa rombongan pengantar jemaah pun tidak bisa masuk ke dalam. Namun sejak awal RTP Bulak Tabak disiapkan untuk pengantar jemaah yang menggunakan kendaraan pribadi.
"RTP Bulak Tabak sangat representatif karena mampu menampung 300 kendaraan roda empat dan jaraknya hanya 300 meter dari hotel yang menjadi Asrama Haji," ujar Rusdi beberapa waktu lalu.(alx)