MAKASSAR, TRIBUN - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) membahas persiapan Muktamar NU 2026 di Hotel Aryaduta, Makassar, Rabu (20/5/2026).
Pertemuan pimpinan NU itu difasilitasi tokoh nasional asal Sulsel, Aksa Mahmud.
Seharian, Aksa bersama Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staguf, Ketua PWNU Sulsel AGH KH Hamzah Harun Al Rasyid, serta ketua tanfidziyah dan rais suriah NU se-Kawasan Timur Indonesia di Hotel Aryaduta.
Pertemuan dikemas dalam kegiatan Halal Bihalal dan Sosialisasi Digdaya bersama PBNU, PWNU dan PCNU se-Indonesia Timur.
Kegiatan di Ruangan Allamanda Aryaduta Hotel Makassar, Jl Maipa, Kelurahan Losari, Kecamatan Ujung Pandang.
Usai Shalat Magrib, Aksa Mahmud menjamu peserta halalbihalal makan malam di Rumah Makan Laelae, Jalan Datu Museng, Kelurahan Maloku, Kecamatan Ujung Pandang.
“Ini ulama-ulama semua. Berkah kalau makan bersama para ulama. Apalagi ulama NU,” kata Aksa Mahmud.
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf hadir mengenakan baju koko putih dipadukan celana hitam dan kopiah hitam.
Gus Yahya duduk bersama jajaran pengurus PBNU dan PWNU dari berbagai daerah di Indonesia Timur.
Turut mendampingi Gus Yahya, yakni Rois Syuriah PBNU KH Muhibbul Aman Ali, Katib Syuriah PBNU KH Athoillah Sholahuddin Anwar, dan Wakil Ketua Umum PBNU KH Amin Said Husni.
Hadir pula Rois Syuriah PWNU Jawa Tengah KH Ubaidillah Shodaqoh dan Rois Syuriah PWNU DKI Jakarta KH Muhyiddin Ishaq.
Selain itu ada Wakil Rois Syuriah PWNU Sulsel Prof KH Andi Idrus, Ketua PWNU Sulsel Prof KH Hamzah Harun Al Rasyid, serta Wakil Tanfidziyah PWNU Sulsel Prof Muammar Bakry.
Ketua PCNU Pasuruan KH Imron Mutamakkin juga terlihat hadir dalam kegiatan tersebut.
Founder Bosowa Corporindo M Aksa Mahmud ikut menghadiri forum hingga selesai.
Tokoh asal Kabupaten Barru itu mengenakan kemeja biru dipadukan celana panjang hitam dan kopiah hitam.
Sekira 60 perwakilan PWNU dan PCNU se-Indonesia Timur hadir dalam forum tersebut.
Mayoritas peserta mengenakan baju koko putih dipadukan sarung maupun celana panjang hitam.
Gus Yahya mengatakan, forum ini merupakan keinginan para ulama dan sesepuh NU agar pimpinan NU dari berbagai tingkatan dapat berdialog secara langsung.
Menurutnya, agenda serupa sebelumnya telah digelar di Kota Samarinda, Kalimantan Timur.
Kini, kegiatan dilanjutkan di Kota Makassar.
Ia menyebut, dialog tersebut menjadi bagian penting dalam persiapan mental seluruh pengurus dan kader menjelang Muktamar NU ke-35.
Rencananya, Muktamar NU digelar pada 1-5 Agustus 2026.
Muktamar merupakan forum permusyawaratan tertinggi dalam organisasi Nahdlatul Ulama yang dilaksanakan lima tahun sekali.
Salah satu agenda utamanya yakni pemilihan ketua umum dan penyusunan kepengurusan baru PBNU.
Gus Yahya berharap Muktamar NU berjalan sesuai nilai-nilai keulamaan.
Ia menilai, dalam beberapa waktu terakhir Muktamar NU cenderung berubah menjadi arena politik dan silang pendapat semata.
“Saya ingin betul-betul menjadi muktamar ulama yang mu'tabar, legitimate, dan berlangsung sesuai nilai-nilai keulamaan,” kata Gus Yahya usai kegiatan.
Dalam pertemuan berlangsung selama 187 menit itu, Gus Yahya menekankan dua hal kepada seluruh pengurus PWNU dan PCNU yang hadir.
Pertama, ia mengingatkan pentingnya kembali pada nilai dasar keberadaan NU, yakni nilai-nilai keulamaan dalam melihat dan menyikapi berbagai persoalan organisasi maupun sosial.
“Mari segala sesuatu kita pahami dan kita cerna dengan sudut pandang keulamaan,” ujarnya.
Kedua, PBNU mendorong penguatan konsolidasi organisasi hingga tingkat warga.
Salah satu langkah yang dilakukan yakni memperluas sistem digital organisasi sampai ke tingkat kecamatan dan desa.
Menurut Gus Yahya, platform digital yang selama ini baru digunakan sampai tingkat cabang atau kabupaten/kota akan diperluas hingga Majelis Wakil Cabang NU dan ranting.
“Kita ingin nanti warga NU bisa masuk dalam sistem pengelolaan NU secara digital,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, PBNU juga memperkenalkan platform Digital Layanan dan Data atau Digdaya NU.
Platform itu menjadi bagian dari transformasi digital organisasi NU.
Digdaya NU dirancang untuk menghubungkan data dan layanan jamaah NU dalam satu sistem terpadu.
Layanan tersebut mencakup administrasi organisasi, kepengurusan, pendidikan kader, pesantren, madrasah, sekolah hingga sektor kesehatan.
Gus Yahya mengatakan, sistem administrasi Digdaya NU saat ini sudah berjalan hingga tingkat cabang atau kabupaten/kota.
Ia menyebut, banyak pengurus cabang mengakui sistem tersebut mampu meningkatkan efektivitas dan modernisasi tata kelola organisasi.
“Pengelolaan organisasi menjadi sangat meningkat kinerjanya, berlipat kali, dan mereka sudah tidak sabar menunggu supaya ini bisa segera diperluas sampai ke tingkat lebih bawah,” katanya.
Sementara itu, kehadiran Aksa Mahmud dalam forum tersebut juga mendapat perhatian peserta kegiatan.
Gus Yahya menyebut, Aksa hadir sebagai warga NU sekaligus tokoh Sulsel yang mendukung PWNU Sulsel sebagai tuan rumah kegiatan.
“Beliau merasa sebagai warga NU dan mendukung PWNU Sulawesi Selatan menjadi tuan rumah kegiatan ini,” ujarnya.
Saat ditanya soal kemungkinan kerja sama antara NU dan Bosowa Corporindo, Gus Yahya mengatakan belum ada pembahasan khusus.
Namun, NU tetap terbuka terhadap berbagai upaya yang membawa kemaslahatan bagi masyarakat.
“Semua yang bisa dilakukan untuk kemaslahatan warga dan masyarakat tentu akan kita ikhtiarkan,” katanya.(*)