Oleh:
Ns. Zafira Nabilah, S.Kep, Edukator Kesehatan Gen-A
SERAMBINEWS.COM - Sebagai perawat muda yang bekerja di ruang rawat kebidanan, saya hampir setiap hari menyaksikan dua sisi dari proses persalinan. Sisi pertama adalah kebahagiaan: tangis bayi yang pecah pertama kali, wajah ayah yang haru, keluarga yang datang membawa doa dan ucapan selamat. Namun sisi kedua sering kali luput dari perhatian banyak orang, yaitu perjuangan emosional seorang ibu setelah melahirkan. Di balik senyum yang terlihat di depan keluarga, tidak sedikit ibu yang diam-diam menangis, merasa cemas, bingung, kelelahan, bahkan merasa dirinya gagal. Inilah kondisi yang sering dikenal sebagai baby blues.
Baby blues adalah kondisi perubahan suasana hati yang sering dialami ibu setelah melahirkan. Biasanya muncul dalam beberapa hari pertama setelah persalinan dan dapat berlangsung sekitar 1–2 minggu. Kondisi ini dipengaruhi oleh perubahan hormon, kelelahan, kurang tidur, serta tekanan emosional setelah menjadi ibu.
Sayangnya, baby blues masih sering dianggap hal biasa. Banyak yang berkata, “Nanti juga hilang sendiri,” atau “Maklum, hormon habis melahirkan.” Memang benar bahwa perubahan hormon, kelelahan, nyeri pasca persalinan, kurang tidur, dan tuntutan baru sebagai ibu dapat memicu perubahan emosi.
Namun sebagai tenaga kesehatan yang melihat langsung kondisi ibu setiap hari, saya percaya bahwa baby blues tidak boleh disepelekan. Jika dibiarkan tanpa dukungan dan penanganan, kondisi ini dapat berkembang menjadi depresi pasca salin yang jauh lebih serius dan berbahaya.
Fenomena ini juga nyata terjadi di Aceh. Sebuah penelitian di wilayah kerja Puskesmas Baiturrahman, Banda Aceh tahun 2024 menunjukkan bahwa dari 55 ibu postpartum, sekitar 23,6 persen mengalami baby blues. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa dukungan suami memiliki hubungan signifikan terhadap kejadian baby blues. Artinya, ketika ibu merasa sendirian, risiko gangguan emosional akan meningkat.
Penelitian lain di Aceh Besar pada tahun 2025 bahkan menunjukkan bahwa dari enam responden yang diteliti, 50 % mengalami baby blues berat dan 50?by blues ringan. Meski jumlah sampel kecil, angka ini memberi pesan bahwa masalah kesehatan mental ibu pasca melahirkan memang ada di sekitar kita dan perlu perhatian serius.
Perlu dipahami, baby blues biasanya muncul pada hari-hari pertama setelah melahirkan. Ibu menjadi lebih sensitif, mudah menangis, cemas, cepat marah, atau merasa kewalahan. Kondisi ini cukup umum terjadi. Namun bila perasaan sedih semakin berat, berlangsung berminggu minggu, ibu kehilangan minat merawat bayi, sulit tidur meski bayi tidur, merasa tidak berharga, menarik diri dari lingkungan, atau terus-menerus merasa putus asa, maka itu bisa menjadi tanda depresi pasca salin. Ini bukan sekadar “kurang bersyukur” atau “terlalu manja,” melainkan gangguan kesehatan mental yang nyata.
Depresi pasca salin berbahaya karena dampaknya tidak hanya pada ibu, tetapi juga pada bayi dan keluarga. Ibu yang mengalami depresi akan kesulitan merawat dirinya sendiri, apalagi merawat bayi yang sangat membutuhkan perhatian penuh. Ikatan emosional antara ibu dan anak bisa terganggu. Bayi dapat kurang mendapatkan stimulasi, ASI bisa terganggu karena stres, dan suasana rumah menjadi penuh tekanan. Karena itu, pencegahan sejak fase baby blues sangat penting.
Baca juga: VIDEO SAKSI KATA - Heroik! ASN Agara Bantu Persalinan Bayi Kembar di Tol Sibanceh
Menurut saya, salah satu penyebab baby blues berlanjut menjadi depresi adalah kurangnya dukungan keluarga. Banyak keluarga fokus pada bayi, tetapi lupa bahwa ibu juga sedang “lahir” menjadi pribadi baru. Ia sedang belajar menyusui, menahan nyeri luka persalinan normal maupun operasi sesar, menyesuaikan perubahan tubuh, dan menghadapi kurang tidur. Saat ibu justru dituntut selalu kuat, selalu sigap, dan selalu bahagia, beban mentalnya akan semakin berat.
Karena itu, keluarga memiliki peran besar agar baby blues tidak berkembang menjadi depresi. Berikut beberapa tips sederhana yang sangat membantu:
1. Dengarkan ibu tanpa menghakimi
Saat ibu bercerita bahwa ia lelah, takut, atau merasa tidak mampu, jangan langsung menyalahkan. Kadang ibu hanya butuh didengar.
2. Bantu pekerjaan rumah dan perawatan bayi
Suami atau keluarga bisa membantu mengganti popok, menidurkan bayi, atau menyiapkan makanan agar ibu tidak merasa sendirian.
3. Pastikan ibu mendapat waktu istirahat
Kurang tidur adalah pemicu utama emosi tidak stabil. Saat bayi tidur, bantu jaga suasana rumah agar ibu juga bisa beristirahat.
4. Hindari komentar yang menyakitkan
Ucapan seperti “ASI kok sedikit?” atau “Kenapa rumah berantakan?” bisa sangat melukai ibu yang sedang rapuh.
5. Beri apresiasi sederhana
Katakan, “Kamu hebat,” “Terima kasih sudah berjuang,” atau “Kamu ibu yang baik.” Kalimat sederhana bisa menjadi penguat besar.
6. Segera cari bantuan profesional jika gejala menetap
Jika ibu terus sedih, sering menangis, menarik diri, atau kehilangan semangat lebih dari dua minggu, segera konsultasikan ke tenaga kesehatan.
Sebagai perawat muda, saya sering merasa masyarakat masih terlalu sibuk menyambut bayi, tetapi lupa merawat ibunya. Padahal ibu yang sehat secara fisik dan mental adalah fondasi utama tumbuh kembang anak. Kita tidak bisa menuntut bayi bahagia jika ibunya tenggelam dalam kesedihan yang tidak tertangani.
Melahirkan bukan hanya tentang lahirnya seorang anak, tetapi juga lahirnya seorang ibu. Dan ibu baru itu membutuhkan waktu, dukungan, serta kasih sayang untuk beradaptasi. Jangan tunggu sampai baby blues berubah menjadi depresi baru kita peduli. Perhatikan sejak awal, temani sejak awal, dan bantu sejak awal. Karena ketika ibu merasa didukung, ia akan lebih kuat menjalani peran barunya. Dan ketika ibu sehat, keluarga pun ikut sehat.(*)