TRIBUNTRENDS.COM - Di tengah derasnya pembangunan desa dan modernisasi berbagai fasilitas publik, sebuah bangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Desa Jontro, Kecamatan Wedarijaksa, Kabupaten Pati, justru menjadi sorotan publik karena arah hadapnya yang dianggap tak biasa.
Alih-alih menghadap ke jalan desa seperti lazimnya bangunan pelayanan masyarakat, gedung koperasi tersebut malah menghadap ke hamparan kebun tebu di sisi barat.
Video bangunan itu viral di media sosial dan memicu gelombang komentar dari warganet. Banyak yang mempertanyakan logika pembangunan gedung tersebut, terutama karena akses jalan utama berada di sisi timur.
Tidak sedikit pula yang menilai posisi bangunan itu janggal dan membingungkan.
Namun di balik arah bangunan yang dianggap aneh oleh sebagian orang, ternyata ada alasan adat dan hasil musyawarah warga yang menjadi dasar utama penentuan orientasi gedung tersebut.
Baca juga: Blusukan ke Kopdes Merah Putih, Prabowo Bangga Gas LPG 3 Kg Dijual Murah Cuma Rp 16 Ribu
Menanggapi polemik yang ramai di media sosial, Kepala Desa Jontro, Rahmat Wahyudi, menegaskan bahwa arah bangunan koperasi bukan diputuskan secara sembarangan.
Ia mengatakan, keputusan tersebut sudah melalui pembahasan bersama masyarakat dan berkaitan erat dengan adat yang masih dipegang warga setempat.
“Di sini sampai kapan pun tidak berani kalau menghadap ke timur. Itu sudah dimusyawarahkan warga,” kata Rahmat dikutip TribunTrends dari Kompas, Kamis, (21/5/2026).
Menurut Rahmat, masyarakat Desa Jontro masih memegang kuat keyakinan terkait arah hadap bangunan. Karena itu, menghadap ke timur dianggap pamali oleh sebagian warga.
Rahmat menjelaskan, desain awal bangunan dari dinas mengharuskan tampak depan gedung memiliki lebar sekitar 30 meter. Sementara kondisi lahan yang tersedia membuat pilihan arah bangunan menjadi terbatas.
Jika bangunan diposisikan menghadap ke selatan, lebar tampak depan hanya akan mencapai sekitar 20 meter dan tidak sesuai dengan desain yang telah ditentukan.
“Kalau dihadapkan ke selatan, tampak depannya hanya 20 meter. Sedangkan gambar dari dinas harus 30 meter, jadi mau tidak mau menghadap ke barat,” jelasnya.
Karena alasan itulah, ditambah pertimbangan adat yang berkembang di masyarakat, bangunan akhirnya diputuskan menghadap ke arah barat atau ke area kebun tebu.
Baca juga: Ekonom Senior Kuliti Sisi Lemah Kopdes Merah Putih Gegara Produk yang Dijual Mirip Minimarket
Rahmat juga mengaku menyayangkan munculnya video viral yang menurutnya tidak lebih dulu melakukan konfirmasi kepada pihak desa. Ia menilai banyak orang langsung memberikan penilaian tanpa mengetahui latar belakang keputusan tersebut.
“Harusnya ditanyakan dulu kenapa bangunan menghadap ke barat. Jangan langsung divonis. Warga sini sampai marah karena dianggap aneh,” ujarnya.
Ia kembali menegaskan bahwa alasan adat menjadi salah satu faktor utama yang dipertimbangkan masyarakat dalam menentukan arah bangunan.
“Memang adat. Orang luar mungkin tidak tahu,” imbuhnya.
Meski menjadi bahan perbincangan di media sosial, pembangunan gedung KDMP Desa Jontro disebut tetap berjalan normal. Saat ini progres pembangunan telah mencapai sekitar 85 persen dan masih berada dalam tahap finishing.
“Masih dalam pengerjaan, progresnya sekitar 85 persen,” katanya.
Rahmat berharap keberadaan Koperasi Desa Merah Putih nantinya benar-benar dapat membantu meningkatkan perekonomian masyarakat desa.
Menurutnya, koperasi itu diharapkan menjadi wadah pengembangan potensi lokal sekaligus membantu permodalan warga.
“Harapannya untuk membangun perekonomian masyarakat desa sesuai potensi yang ada,” jelasnya.
***
(TribunTrends/Kompas)