TRIBUNKALTIM.CO - Mantan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menyoroti pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut “orang desa tidak memakai dolar.”
Pernyataan tersebut muncul saat Prabowo menanggapi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Menurut Mahfud, komentar sang presiden justru memicu gelombang olok-olok di masyarakat.
Baca juga: Rupiah Terancam Tembus Rp18.000 per Dolar AS Akhir Mei 2026, Bisa Picu PHK
Olok-olok adalah bentuk ejekan atau sindiran yang sering muncul di ruang publik, termasuk media sosial.
Ia menilai respons publik kali ini tergolong kasar dan merendahkan.
Dalam Podcast Terus Terang di kanal YouTube Mahfud MD Official, Selasa (19/5/2026), Mahfud menyebut pernyataan Prabowo soal dolar menjadi salah satu yang paling banyak menimbulkan ejekan sejak menjabat sebagai presiden.
"Nah, yang kedua saya galau tadi kenapa menurut saya dari keseluruhan statement Presiden Prabowo selama menjadi presiden ini yang paling banyak menimbulkan olok-olok."
"Yang soal dolar itu. Mulai dari nenek-nenek, kakek-kakek, muda, putra putri ,di sosial media muncul terus gitu, diolok-olok betul presiden kita ini."
"Maaf kasar sekali olok-oloknya itu," kata Mahfud dalam Podcast 'Terus Terang' di kanal YouTube Mahfud MD Official, Selasa (19/5/2026).
Baca juga: Prabowo Ungkap Target Ekonomi 2027: Rupiah Stabil di Rp16.800-Rp17.500, Inflasi 3,5 Persen
Mahfud menegaskan, meski masyarakat desa tidak bertransaksi langsung dengan dolar, Indonesia tetap bergantung pada mata uang tersebut untuk kebutuhan impor pangan maupun pinjaman luar negeri.
Hal ini membuat pernyataan Prabowo dianggap keliru.
"Menurut saya memang ya keliru kali ya mengatakan orang desa kan enggak pakai dolar. Kita negara ini pinjam uang setiap hari kan berurusan dengan dolar. Iya kan itu kan akibatnya ke harga-harga seperti tadi, impor pangan kita juga membayarnya dengan dolar dan segala macam," ujar Mahfud.
Baca juga: Rupiah Anjlok ke Rp 17.727 per Dolar AS, DPR Cecar BI: Sampai Muncul Ejekan 17-8-45
"Pinjam ke luar negeri juga pakai dolar. Kalau pakai dolar kan di desa-desa, mungkin orang secara langsung, makan dari berasnya sendiri sayurnya sendiri. Tapi masa cuma itu kebutuhan orang, ekonomi kan bukan itu saja menurut saya," jelas Mahfud.
Ia menambahkan, dampak pelemahan rupiah terhadap dolar dapat dirasakan hingga ke desa karena harga kebutuhan pokok yang sebagian besar bergantung pada impor.
Oleh karena itu, menurut Mahfud, presiden perlu lebih berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan agar tidak menimbulkan persepsi negatif.
Lebih lanjut, Mahfud menyampaikan keprihatinannya atas olok-olok yang muncul di media sosial, karena dinilai merendahkan posisi kepala negara.
Lebih lanjut Mahfud pun merasa Prabowo harus diberi tahu lagi untuk menjaga pernyataannya agar tidak menimbulkan persepsi negatif di tengah masyarakat.
"Kesalahan itu bukan hanya ahli ekonomi yang bisa nyatakan salah gitu dan olok-oloknya menjadi enggak enak. Kita sebagai anak bangsa ya, Presiden kita kok dibegitukan oleh orang-orang kita sendiri, yang kadang kala mungkin entah siapa dia."
"Tapi ini menurut saya yang paling banyak menimbulkan olok-olok keras, tapi juga ledekannya yang merendahkan. Kalau keras itu kan okelah gitu tapi ledekannya yang merendahkan, kemudian secara sosial perasaan itu bisa berdampak negatif ya," ungkap Mahfud.
Sebelumnya, Presiden RI Prabowo Subianto menyinggung nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang tengah menjadi perhatian publik.
Prabowo mengimbau jajarannya dan masyarakat untuk tetap tenang karena meyakini fundamental ekonomi nasional saat ini dalam kondisi yang kuat.
Di depan para menteri Kabinet Merah Putih dan kepala daerah, Prabowo berkelakar mengenai pergerakan nilai tukar mata uang asing tersebut.
Ia mengaitkan situasi ekonomi nasional dengan ekspresi dari Menkeu RI Purbaya Yudhi Sadewa.
"Purbaya sekarang populer banget Purbaya itu. Selama Purbaya bisa senyum, tenang aja, enggak usah kau khawatir itu," seloroh Presiden Prabowo saat menghadiri peresmian operasionalisasi 1.061 Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026).
Presiden Prabowo juga mengatakan bahwa fluktuasi nilai mata uang global ini sebenarnya tidak akan memberikan dampak yang signifikan terhadap aktivitas ekonomi masyarakat di tingkat pedesaan.
Menurutnya, perputaran ekonomi mikro di daerah tidak bergantung penuh pada mata uang asing.
"Mau dolar berapa ribu kek, kan kalian di desa-desa enggak pakai dolar, bener enggak? Yang pusing ya yang itu, yang suka ke luar negeri, ayo siapa ini?" lanjut Presiden Prabowo.
Prabowo meyakini bahwa struktur ekonomi Indonesia secara umum tetap tangguh dalam menghadapi ketidakpastian global.
Ia meminta semua pihak untuk berfokus pada penguatan kapasitas produksi domestik.
"Percaya ekonomi kita kuat, fundamental kita kuat. Orang mau ngomong apa, ya mau apa ya, Indonesia kuat. Percaya kepada kekuatan kita, percaya kepada rakyat kita. Semua pemimpin harus bekerja untuk rakyat," tegas Prabowo. (*)