Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Fenomena El Nino tahun 2026 disebut bukan sekadar musim kemarau biasa.
Ketua Satgas Kesehatan Lingkungan dan Perubahan Iklim Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Darmawan Budi Setyanto, Sp.A, Subsp.Respi(K), menyebut El Nino kali ini bahkan dijuluki “El Nino Godzilla” karena dampaknya yang besar terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat, terutama anak-anak.
Baca juga: Waspada Dampak El Nino Ekstrem: Mulai Risiko Ledakan Kasus DBD hingga Gangguan Pencernaan Anak
Menurut Darmawan, El Nino memicu kekeringan panjang, suhu udara ekstrem, hingga krisis air bersih yang dapat meningkatkan berbagai penyakit pada anak.
“Anak-anak adalah kelompok yang sangat rentan menghadapi perubahan cuaca ekstrem,” ujar Darmawan dalam seminar media virtual IDAI, Rabu (20/5/2026).
Ia menjelaskan, suhu panas berkepanjangan dapat membuat anak lebih mudah kehilangan cairan tubuh.
Kondisi ini bisa berkembang dari dehidrasi ringan menjadi berat jika tidak ditangani dengan cepat.
“Risiko dehidrasi dan heat stroke lebih tinggi dibandingkan pada orang dewasa,” jelasnya.
Darmawan mengatakan anak memiliki kemampuan pengaturan suhu tubuh yang belum sempurna.
Tubuh anak juga lebih cepat kehilangan cairan dibandingkan orang dewasa.
Karena itu, cuaca panas ekstrem tidak boleh dianggap sepele.
Apalagi pada balita dan bayi yang belum bisa mengungkapkan rasa haus atau keluhan tubuhnya dengan jelas.
Selain dehidrasi, El Nino juga meningkatkan risiko penyakit akibat krisis air bersih.
Beberapa wilayah terdampak kekeringan membuat masyarakat kesulitan mendapatkan air layak konsumsi.
Akibatnya, risiko penyakit bawaan air meningkat.
“Diare, disentri, tifoid bisa meningkat akibat sumber air yang tercemar,” katanya.
Darmawan mengingatkan diare masih menjadi salah satu penyebab kematian utama pada balita di Indonesia bersama pneumonia.
Karena itu, orangtua perlu lebih waspada selama cuaca panas berkepanjangan.
Meski demikian, ia meminta masyarakat tidak panik.
Menurutnya, langkah sederhana di rumah bisa membantu melindungi anak.
Mulai dari memastikan anak cukup minum, mengurangi aktivitas di bawah terik matahari, hingga menjaga kebersihan makanan dan air minum.
“Tidak perlu panik, tapi perlu langkah-langkah yang tepat untuk melindungi anak-anak kita,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan orangtua agar tidak menunggu anak merasa haus.
Pada cuaca panas, kebutuhan cairan tubuh meningkat lebih cepat.
Selain itu, anak dianjurkan memakai pelindung kepala jika harus beraktivitas di luar rumah.
“Jangan tunggu haus,” pungkasnya.