Tak Besar, Tapi Mereka Tak Dilupakan
Sirtupillaili May 21, 2026 08:22 AM

Oleh: Dr. H. Ahsanul Halik - Kadis Kominfotik  NTB

Ada orang-orang yang bekerja tanpa banyak disebut namanya. Mereka datang paling pagi, pulang paling akhir, membantu pelayanan tetap berjalan, tetapi keberadaannya sering luput dari sorotan. Mereka bukan pejabat. Bukan pula pengambil kebijakan. Mereka adalah tenaga honorer yang selama bertahun-tahun ikut menjaga ejalannya pelayanan publik di Nusa Tenggara Barat.

Sebagian dari mereka mengurus administrasi di kantor pemerintahan, membantu pelayanan kesehatan, menjaga sekolah tetap berjalan, atau menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang sering dianggap sederhana, tetapi sesungguhnya penting. Mereka bekerja dalam sunyi, tanpa kepastian yang benar-benar utuh tentang masa depan mereka sendiri.

Karena itu, saat Pemerintah Provinsi NTB memberikan tali asih kepada tenaga non ASN yang tidak dapat diangkat menjadi PPPK Paruh Waktu, kita harus melihatnya sebagai kebijakan yang lebih jauh daripada sekadar angka Rp3,5 juta.

Sebab ini bukan semata soal uang. Ini tentang cara pemerintah menghargai orang-orang yang pernah ikut bekerja dan mengabdi untuk daerahnya.

Berdasarkan data penataan tenaga non ASN Pemerintah Provinsi NTB, tercatat sebanyak 518 pegawai non ASN tidak diangkat menjadi PPPK dan tersebar pada 43 perangkat daerah di lingkungan Pemprov NTB. Dari jumlah tersebut, sebanyak 394 orang dinyatakan memenuhi syarat sebagai penerima penghargaan atas pengabdian mereka berupa tali asih karena diberhentikan per 31 Desember 2025.

Sementara sisanya terdiri atas 88 orang yang dialihkan ke skema BLUD, 25 orang mengundurkan diri, 6 orang lulus CPNS, 6 orang diberhentikan sebelum 31 Desember 2025, 12 orang memasuki masa pensiun sebelum pengangkatan PPPK Paruh Waktu, 2 orang lulus PPPK Paruh Waktu pada instansi lain, serta 1 orang meninggal dunia.

Data itu memang tampak administratif. Namun di balik angka-angka tersebut ada cerita tentang mereka yang pernah memberikan waktu, tenaga, dan kesetiaannya untuk pekerjaan yang tidak selalu mudah.

Baca juga: Bantu Modal Usaha, Pemprov NTB Salurkan Tali Asih untuk 394 Mantan Honorer

Barangkali benar, nilai penghargaan sebesar Rp3,5 juta bukan angka yang besar. Tidak akan langsung mengubah kehidupan seseorang dalam semalam. Tetapi penghargaan memang tidak selalu diukur dari besar kecil nominalnya. Kadang yang paling penting bagi seseorang adalah perasaan bahwa apa yang pernah ia kerjakan tidak berakhir begitu saja tanpa penghargaan. Di situlah makna kebijakan ini menjadi penting.

Pemerintah Provinsi NTB sebenarnya berada dalam keadaan yang tidak sederhana. Ada keinginan mempertahankan para tenaga honorer yang selama ini membantu pelayanan publik, tetapi pada saat yang sama pemerintah juga harus tunduk pada aturan penataan tenaga non ASN yang berlaku secara nasional.

Pilihan akhirnya menjadi terbatas. Bukan karena mereka tidak dibutuhkan. Bukan pula karena jasa mereka dianggap tidak penting. Tetapi karena ada regulasi yang harus dipatuhi dan batas yang tidak bisa dilampaui.

Sebagaimana yang disampaikan Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal, apabila regulasi memungkinkan, pemerintah tentu ingin mempertahankan mereka dalam skema apa pun yang dibenarkan oleh negara. Pernyataan itu penting, sebab di sana ada kejujuran bahwa sesungguhnya mereka masih dibutuhkan, hanya saja keadaan tidak memberi banyak pilihan.

Dalam situasi seperti inilah sebuah kebijakan diuji, bukan hanya oleh aturan, tetapi juga oleh nurani. Pemerintah bisa saja menganggap persoalan selesai setelah status mereka berakhir. Namun Pemerintah Provinsi NTB memilih tetap hadir melalui penghargaan yang mungkin sederhana nilainya, tetapi memiliki arti bagi mereka yang menerimanya.

Bagi sebagian orang, Rp3,5 juta mungkin hanyalah angka kecil. Tetapi bagi orang yang sedang memulai kembali hidupnya, jumlah itu bisa menjadi modal awal untuk membuka usaha kecil, menopang kebutuhan keluarga, atau sekadar membantu melewati masa-masa yang tidak mudah.

Dan yang lebih penting dari itu, para tenaga honorer tersebut tidak dilepas begitu saja seolah keberadaan mereka tidak pernah berarti.

Di antara ratusan nama itu, mungkin ada orang yang telah belasan tahun datang ke kantor sebelum matahari terbit. Ada yang tetap bekerja meski honor yang diterima tidak seberapa. Ada pula yang bertahan dalam ketidakpastian karena merasa pekerjaannya tetap harus dijalankan.

Mereka tidak pernah meminta dipuji. Mereka hanya bekerja sebagaimana mestinya.

Karena itu, ketika pemerintah tetap memberikan tali asih sebagai bentuk penghargaan, sekecil apa pun nilainya, setidaknya ada pesan yang sampai kepada mereka: bahwa jerih payah itu tidak dilupakan.

Bahwa waktu yang pernah mereka berikan untuk daerah ini tetap dihargai.

Sebab pada akhirnya, yang paling diingat manusia bukanlah besar kecil pemberian, melainkan apakah dirinya pernah dihargai.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.