Javier Aguirre menghadapi sejumlah keputusan besar terkait taktik dan susunan skuad saat Meksiko bersiap untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia, dengan kombinasi pemain veteran, bintang muda yang sedang naik daun, dan tekanan publik yang semakin besar.
Saat Javier Aguirre mengambil alih posisi pelatih tim nasional Meksiko pada tahun 2024, ia memiliki dua tujuan utama: mengembalikan El Tri ke jalur kemenangan di kawasan tersebut dan membangkitkan kembali semangat serta rasa kebersamaan di sekitar tim nasional.
Menurut Aguirre, dari kejauhan ia melihat para pemain kesulitan untuk fokus dan menikmati waktu mereka bersama tim Meksiko. Ia ingin mengubah dinamika tersebut menjelang momen yang ia sebut sebagai pengalaman terbesar bagi seorang pesepak bola: bermain di Piala Dunia di tanah sendiri.
Setelah melewati ajang Liga Bangsa-Bangsa CONCACAF dan Piala Emas, Aguirre berhasil mencapai target pertamanya. Kini, ia berfokus menciptakan suasana yang tepat sebelum laga pembuka Meksiko melawan Afrika Selatan di Estadio Azteca.
Ketika daftar akhir skuad Meksiko untuk Piala Dunia mulai terbentuk, dengan Guillermo Ochoa sebagai tambahan terbaru, Aguirre masih memiliki beberapa pertanyaan besar untuk dijawab. Isu-isu tersebut mencakup perubahan taktik, apakah ia akan mempercayakan lini serang kepada talenta muda seperti Brian Gutierrez dan Gilberto Mora, serta sejauh mana pengaruh pemain yang tidak tampil menonjol di musim klub 2025-26 seperti Edson Álvarez, Santiago Gimenez, dan Alexis Vega terhadap performa Meksiko di turnamen ini.
Berikut empat pertanyaan yang menurut GOAL harus dijawab Aguirre agar Meksiko sukses dalam Piala Dunia ketiga mereka sebagai tuan rumah.
Akankah Estadio Azteca menjadi pemain ke-12?
Terakhir kali Estadio Azteca bergemuruh dari peluit awal hingga akhir pertandingan adalah pada tahun 2009. Saat itu, Meksiko menghadapi Tim Nasional Amerika Serikat dalam laga Hexagonal bulan Agustus. El Tri menang 2-1, dengan Efraín Juárez memberikan assist untuk gol kemenangan Miguel Sabah. Juárez, yang kini membawa Pumas ke semifinal Liga MX, menggambarkan laga tersebut sebagai pertandingan yang mengubah hidupnya.
Siapa pelatih Meksiko pada hari itu? Tak lain adalah “Vasco” Aguirre.
Setelah hasil imbang tanpa gol melawan Portugal pada bulan Maret, Estadio Azteca sempat menyoraki timnya sendiri dan bahkan melontarkan ejekan kepada penjaga gawang Raúl Rangel. Dalam laga pembuka melawan Afrika Selatan, El Tri tidak boleh mengulangi hal tersebut. Estadio Azteca harus kembali menjadi kekuatan pendorong, seperti pada sore bulan Agustus itu ketika Juárez berlari di sisi kanan layaknya Cafu di masa jayanya.
Apakah Ochoa akan mendapatkan menit bermain di fase grup?
Semua tanda menunjukkan bahwa Rangel akan menjadi pilihan utama tak tergoyahkan di bawah mistar El Tri. Selama dua tahun masa kepemimpinan Aguirre, staf pelatihnya terus memantau perkembangan Rangel dengan cermat. Sebagai penjaga gawang utama Chivas di bawah asuhan Gabriel Milito, Rangel semakin matang, tidak hanya dalam kemampuan menahan tembakan, tetapi juga sebagai bagian integral dari lini belakang. Ia telah menjadi starter di seluruh laga persahabatan Meksiko tahun 2026 dan hanya kebobolan satu gol.
Namun, sulit untuk tidak membayangkan Ochoa mendapat kesempatan tampil terakhir di Piala Dunia, terutama dalam turnamen yang kemungkinan menjadi akhir karier internasionalnya. Laga fase grup Meksiko melawan Korea Selatan akan digelar di Guadalajara, kota kelahiran Ochoa. Jika Meksiko meraih kemenangan nyaman atas Afrika Selatan, Aguirre mungkin memiliki ruang untuk membuat keputusan emosional namun bermakna: memberikan Ochoa kesempatan tampil terakhir di panggung Piala Dunia.
Apakah duet Jimenez-Quinones menjadi pilihan aman untuk laga pembuka?
Banyak yang menilai 45 menit pertama Meksiko melawan Belgia di Soldier Field sebagai salah satu performa terbaik di era ketiga Aguirre sebagai pelatih. Jimenez dan Quiñones tampil bersama di lini depan, dan kerja sama mereka memberikan gambaran tentang sesuatu yang jarang dimiliki Meksiko: pergerakan, kekuatan, dan pemahaman di sepertiga akhir lapangan.
Yang dibutuhkan Jimenez dan Quiñones sekarang adalah waktu bermain lebih banyak bersama sebelum laga debut Piala Dunia. Karakteristik Jimenez sangat melengkapi gaya bermain Quiñones, penyerang yang gemar menusuk cepat ke kotak penalti. Jimenez memang kurang eksplosif, tetapi ia memiliki kemampuan membaca pergerakan rekan satu tim dan dapat menjadi titik tumpu dalam serangan Meksiko.
Lahir di Kolombia dan menjadi warga negara Meksiko sejak 2023, Quiñones berhasil meningkatkan posisinya dalam urutan pemain inti selama pemusatan latihan bulan Maret.
Seberapa besar kemungkinan Aguirre menggunakan tiga bek?
Di lini tengah, Aguirre memiliki tiga pemain yang mampu turun lebih dalam dan membantu membentuk barisan tiga bek: Edson Álvarez, Erik Lira, dan Luis Romo. Mengingat Álvarez jarang bermain di tim utama sejak Februari, perannya di tim nasional mungkin memerlukan penyesuaian ekstra. Jika ia mampu meyakinkan Aguirre dan staf pelatih bahwa dirinya bisa tampil penuh selama 90 menit, opsi terbaik bagi Meksiko mungkin adalah menempatkannya di trio bek bersama Johan Vásquez dan César Montes.
Lira, dalam laga persahabatan melawan Belgia, menunjukkan kualitas operan tingkat tinggi yang bisa menjadi kunci ketika menghadapi lawan yang bermain bertahan. Sementara itu, Romo memulai tahun 2026 dengan performa gemilang bersama Chivas dan terbiasa memimpin permainan dari formasi tiga bek.
Romo dan Lira memiliki kemampuan distribusi bola yang lebih baik, sementara Álvarez menawarkan kualitas bertahan yang tidak bisa disepelekan. Aguirre akan menghadapi keputusan sulit untuk menentukan siapa yang menjadi starter dan siapa yang berada di bangku cadangan, dan semuanya akan bergantung pada struktur pertahanan yang paling ia percayai.