Ketulusan Ramzi Menjaga Pesan Terakhir Ayahnya Untuk Merawat Wisma Ranggam Mentok
Fitriadi May 21, 2026 10:25 AM

POSBELITUNG.CO, BANGKA - Langkah Ramzi (33 menyusuri lorong-lorong tua Wisma Ranggam terasa begitu akrab.

Tangannya sesekali menunjuk foto-foto lawas, lemari kayu, hingga ruang tempat Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno atau Bung Karno, pernah menjalani masa pengasingan di Kota Mentok, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Dengan tutur sederhana, pria berusia 33 tahun itu menjelaskan sejarah Pasanggrahan Banka Tin Winning (BTW) seolah seorang peneliti sejarah.

Ia hafal kisah demi kisah yang tersimpan di bangunan tua tersebut. Padahal, Ramzi tak pernah mengenyam pendidikan sejarah secara khusus.

Pengetahuan itu lahir dari perjalanan panjang hidupnya yang tumbuh bersama Wisma Ranggam.

JURU PELIHARA - Ramzi (33 tahun), sang Juru Pelihara Wisma Ranggam atau Pesanggrahan Banka Tin Winning (BTW) di Mentok, Bangka Barat, Rabu (20/5/2026).
JURU PELIHARA - Ramzi (33 tahun), sang Juru Pelihara Wisma Ranggam atau Pesanggrahan Banka Tin Winning (BTW) di Mentok, Bangka Barat, Rabu (20/5/2026). (Bangkapos.com/Arya Bima Mahendra)

Sejak kecil, Ramzi sudah tinggal di rumah sederhana di bagian belakang bangunan bersejarah itu.

Sang ayah lebih dulu dipercaya menjaga dan merawat Wisma Ranggam pada 2001, jauh sebelum Kabupaten Bangka Barat terbentuk.

“Saat itu belum ada Kabupaten Bangka Barat. Ayah diminta Camat Mentok menjaga dan merawat Wisma Ranggam,” kata Ramzi saat ditemui Posbelitung.co, Rabu (20/5/2026).

Kala itu, kondisi bangunan jauh berbeda dibanding sekarang. Wisma Ranggam terlihat terbengkalai dan dipenuhi ilalang tinggi. Banyak warga menganggap kawasan tersebut angker dan menyeramkan.

“Dulu orang bilang ini tempat jin buang anak. Tempat orang mabuk, tempat orang mesum juga,” ujarnya sambil tersenyum kecil mengenang masa lalu.

Di tengah kondisi serba terbatas, ayah Ramzi tetap merawat bangunan itu dengan tekun. Mulai dari membersihkan ruangan, mengepel lantai, hingga memangkas rumput liar dilakukan bersama keluarga. Upah yang diterima pun tak seberapa.

Ramzi kecil ikut menyaksikan bagaimana keluarganya bertahan hidup sambil menjaga bangunan penuh sejarah tersebut. Bahkan, ia masih mengingat masa ketika gaji sang ayah kerap terlambat dibayarkan.

“Waktu itu kami makan seadanya. Tapi Ayah tetap bertahan merawat tempat ini,” kenangnya.

Perlahan, Wisma Ranggam mulai mendapat perhatian. Kebangkitan bangunan bersejarah itu disebut Ramzi terjadi saat Megawati Soekarnoputri mulai memberi perhatian terhadap lokasi pengasingan ayahnya tersebut.

Renovasi dilakukan bertahap. Furnitur, lukisan, buku, hingga benda-benda bersejarah mulai melengkapi isi bangunan.
Sejak saat itu, Wisma Ranggam semakin ramai dikunjungi wisatawan, pejabat, hingga peneliti sejarah.

Titik Penting

Tahun 2017 menjadi titik penting dalam hidup Ramzi. Setelah sang ayah meninggal dunia, ia memutuskan melanjutkan tugas menjaga Wisma Ranggam meski sebelumnya telah memiliki pekerjaan lain.

Keputusan itu diambil karena sebuah pesan yang terus diingatnya hingga kini.

“Saya teringat pesan Ayah, katanya kalau bisa keluarga kami yang menjaga tempat ini,” ungkapnya.

Berbekal pengalaman sejak kecil dan ketertarikannya mempelajari sejarah, Ramzi mulai aktif mendalami kisah pengasingan Bung Karno. Ia membaca buku, berdiskusi dengan pegiat sejarah, hingga belajar dari para peneliti yang datang ke Wisma Ranggam.

Kemampuannya menjelaskan sejarah membuat Dinas Pariwisata setempat tertarik.

Saat melihat Ramzi membersihkan kawasan sambil memandu pengunjung, pemerintah kemudian mengangkatnya sebagai tenaga honorer penjaga Wisma Ranggam. Pada akhir 2025, statusnya resmi menjadi PPPK paruh waktu.

Kini, hampir setiap tamu penting yang datang ke Wisma Ranggam dipandunya langsung. Mulai dari pejabat, menteri, artis, hingga influencer pernah mendengar kisah pengasingan Bung Karno dari mulut Ramzi.

“Kalau Presiden atau Wakil Presiden belum pernah. Tapi kalau menteri-menteri yang datang ke sini, saya yang mandu,” katanya. (Posbelitung.co/Arya Bima Mahendra)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.