Tak Sekadar Berburu Talenta di Olahraga Disabilitas, NPC dan Kemenpora Gelar Pelatihan Klasifikasi Atlet
Ardhianto Wahyu May 21, 2026 10:33 AM

NPC INDONESIA/AGUNG WAHYUDI
Para peserta melakukan praktek identifikasi dan pengukuran dalam rangkaian acara Pelatihan Klasifikasi Olahraga Disabilitas Tingkat Nasional di Pusat Pelatihan Paralimpiade Indonesia, Delingan, Karanganyar, Jawa Tengah, Rabu (20/05/2026). Pelatihan ini diikuti oleh 45 calon classifier dari 17 provinsi, dan diselenggarakan 19-22 Mei 2026.

BOLASPORT.COM - Pelatihan klasifikasi olahraga disabilitas tingkat nasional untuk kategori disabilitas fisik tengah digelar. Pelatihan ini digelar demi meningkatkan efektifitas dalam memburu atlet potensial.

Acara ini digelar National Paralympic Committee of Indonesia (NPC Indonesia) dalam kolaborasi bersama Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora RI).

Pelatihan klasifikasi olahraga disabilitas tingkat nasional diselenggarakan di Surakarta, Jawa Tengah, sejak Selasa (19/5/2026) sampai hingga (22/5/2026).

Ada 45 peserta dari 17 provinsi yang datang untuk mengikuti pelatihan secara intensif selama empat hari.

Para peserta wajib memiliki latar belakang sebagai fisioterapis ataupun dokter spesialis, terutama kedokteran fisik dan rehabilitasi.

Dalam empat hari ini para peserta mendapatkan berbagai materi yang berhubungan dengan proses klasifikasi untuk calon atlet disabilitas fisik.

Salah satu pemateri adalah dokter Retno Setianing, Sp.KFR (K) yang sudah berpengalaman membantu NPC Indonesia dalam mengembangkan olahraga disabilitas.

Retno merasa senang ketika Kemenpora bersama NPC Indonesia bisa menggelar pelatihan klasifikasi disabilitas fisik nasional.

"Selama ini saya menemui, terkadang ada atlet yang sudah dilatih, dibina dengan maksimal, tetapi ketika dibawa klasifikasi tidak memenuhi syarat," kata Retno Setianing melalui rilis NPC Indonesia.

"Itu kan sayang sekali dengan proses pembinaan, dengan segala pembiayaannya, atletnya juga sudah merasa masuk, tetapi ketika dibawa ke klasifikasi tidak masuk."

Maka, pelatihan ini menjadi penting agar Indonesia bisa memiliki sosok-sosok yang berkompeten dalam melakukan klasifikasi terhadap calon atlet olahraga disabilitas.

Keberadaan klasifikator alias classifier bisa meningkatkan efektifitas dalam mendeteksi atau membina calon-calon atlet potensial.

"Kita memang harus memperbanyak classifier, terutama classifier (disabilitas) fisik," tutur Retno.

"Harapannya ketika ada penyandang disabilitas yang tertarik untuk berolahraga dan mengikuti olahraga prestasi, teman-teman peserta yang sudah dilatih bisa melakukan pemeriksaan, bahwa calon-calon atlet ini memenuhi syarat."

Para peserta tak sekadar mengikuti kelas teori di Hotel Solia Zigna Solo.

Mereka juga diajak ke Pusat Pelatihan Paralimpiade Indonesia (PPPI) di Delingan, Kabupaten Karanganyar, untuk melihat proses latihan dan melakukan praktek klasifikasi beberapa cabang olahraga.

"Setelah proses tersebut, kegiatan ini juga ada ujiannya, karena ini proses yang tidak main-main, tanggung jawab di daerahnya."

"Mereka harus lolos terlebih dahulu bahwa mereka sudah pantas untuk menjadi seorang classifier," ungkap Retno.

Sementara itu, Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) NPC Indonesia, Rima Ferdianto, menjelaskan bahwa kegiatan ini dibagi dalam dua tahap.

Pelatihan tahap pertama yang mendatangkan peserta dari Indonesia bagian barat, meliputi wilayah Jawa, Sumatera dan Kalimantan. Setelah ini, pelatihan akan difokuskan untuk wilayah Indonesia Timur.

"Kita berharap pada kuartal ketiga nanti pelatihan klasifikasi disabilitas fisik nasional bisa digelar untuk daerah yang sekarang belum ikut."

"Kemungkinan kawasan Indonesia Timur bisa ikut di sekitar bulan September," ucap Rima Ferdianto.

NPC Indonesia berharap, dari kegiatan ini akan muncul banyak classifier yang membantu dalam pengembangan olahraga disabilitas secara merata di seluruh wilayah Indonesia.

"Harapannya dapat melahirkan banyak classifier nasional yang bisa membantu NPC Indonesia provinsi di daerah masing-masing untuk mencari dan mengklasifikasikan atlet disabilitas dengan tepat dan akurat."

"Kemudian, mereka nantinya juga bisa membantu bibit-bibit atlet disabilitas juga," jelas Rima.

Hal yang sama turut diungkapkan Plt Asisten Deputi Tenaga dan Organisasi Keolahragaan Prestasi Kemenpora, Leny Kurnia.

Pelatihan klasifikasi disabilitas fisik ini sangat penting mengingat NPC Indonesia memiliki kans besar dalam meraih medali di ajang Asian Para Games 2026 dan Paralimpiade 2028.

"Kami sebenarnya membutuhkan banyak pelatih klasifikasi disabilitas ini. Nah, untuk sekarang ini kami juga istilahnya masih getok tular," ungkap Leny Kurnia.

"Teman-teman mengikuti pelatihan ini atas rekomendasi dari pengurus cabang."

"Jadi diharapkan para peserta juga bisa mengajarkan ke rekan-rekan di daerahnya yang belum bisa mengikuti pelatihan di sini. Ilmunya bisa disebarkan ke teman-temannya

Sebagai informasi, perbedaan olahraga disabilitas dengan non disabilitas salah satunya adalah peraturan klasifikasi.

Klasifikasi menjadi bagian penting untuk mengelompokkan atlet berdasarkan jenis dan tingkat hambatannya. Sistem klasifikasi ini memastikan pertandingan diselenggarakan secara adil.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.