Cara Pengusaha Tahu dan Tempe di Manado Pertahankan Harga, Meski Kedelai Naik Makin Mahal
Alpen Martinus May 21, 2026 02:39 PM

TRIBUNMANADO.CO.ID,MANADO - Industri rumahan tahu dan tempe di Manado, Sulawesi Utara terkena dampat melemahnya nilai rupiah terhadap Dollar AS.

Harga bahan baku berupa kacang kedelai naik cukup tinggi.

Pengusaha tahu dan tempe pun putar otak agar bisa membeli bahan baku.

Baca juga: Daftar 10 Produk AS yang Kini Bebas Bea Masuk ke Indonesia, dari Kedelai hingga Pesawat Boeing

Namun harga dan kualitas tempe dan tahu tetap dipertahankan.

Harga kedelai yang merupakan bahan utama tahu tempe melonjak hingga menyebabkan biaya usaha tinggi. 

Natasha, pembuat tahu tempe di Kelurahan Batu Kota, Kecamatan Malalayang, menuturkan, harga kedelai sekarung kini mencapai Rp 565 ribu. 

"Normalnya di angka Rp 410 ribu per karung untuk 50 Kg Kedelai," kata dia kepada Tribun manado Kamis (21/5/2026). 

Dikatakannya, kedelai di UMKM nya dipasok dari gudang di Perkamil.

Kedelai tersebut merupakan produk impor dari AS. 

"Ada tulisannya di karung," katanya. 

Sebut dia, harga kedelai naik sejak beberapa bulan lalu. 

Dari naik Rp 5 ribu, kemudian naik Rp 10 ribu, hingga menyentuh Rp 565 ribu.

"Naiknya perlahan," kata dia. 

Meski naik, Natasha belum menaikkan harga jual. 

Dirinya takut kehilangan pelanggan. 

"Kami di sini ada banyak pengusaha tahu dan tempe bersepakat untuk tidak menaikkan harga dulu, meski ya kita harus merugi," katanya. 

Agar tidak rugi banyak, ia mengaku bersiasat. 

Tahu dan tempe sedikit diperkecil atau dikurangi volumenya. 

"Dan dijual dengan harga lama," kata dia. 

Perkembangan terakhir membuatnya was was. 

Rupiah terus jatuh. Dolar kian perkasa. 

Jika nilai tukar tembus Rp 20 ribu, ia mempertimbangkan untuk menaikkan harga. 

"Moga-moga tidak demikian, kami berharap nilai tukar segera terkendali," katanya. (ART) 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.