TRIBUNNEWSBOGOR.COM -- Dua asisten rumah tangga (ART) yang meloncat dari lantai 4 tempat rumah di Bendungan Hilir, Jakarta Pusat pada Rabu (22/4/2026) lalu diduga mengalami tekanan psikologis.
Sebab, berdasarkan pemeriksaan kepolisian dan dokter, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan fisik pada tubuh korban.
“Hasil pemeriksaannya tidak ada kekerasan fisik, ya mungkin tekanan secara psikologis ada,” kata Kasat Reskrim Polres Jakarta Pusat, AKBP Roby Heri Saputra, ditemui di Cawan Barat Monumen Nasional, Kamis (21/5/2026).
Sebelumnya, Roby juga mengungkapkan bahwa korban menyebutkan majikannya adalah sosok yang galak.
Namun Roby belum menjelaskan keterkaitan pengakuan awal tersebut dengan tekanan psikologis yang dialami korban.
Hingga kini, polisi menetapkan tiga orang sebagai tersangka dalam kasus ini dengan dugaan tindak pidana perdagangan orang (TPPO).
“Korban sudah diperiksa. Tersangka juga sudah ada ditahan tiga orang, antara lain satu majikannya dan dua penyalur tenaga kerjanya,” kata Roby.
Sebab, penyalur PRT yang mewadahi korban mengetahui bahwa salah satu korban masih di bawah umur saat direkrut.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, mengatakan agen bahkan sudah mengetahui sejak rekrutmen korban.
“Dari tiga tersangka itu mengetahui bahwa yang bersangkutan itu adalah anak sehingga dipekerjakan. Mulai dari pencari lowongan pekerjaan sampai penyedia jasa pekerjaan termasuk mereka yang mempekerjakan,” jelas Budi kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jumat (8/5/2026).
Dia juga menjelaskan bahwa agen berinisial T dan WA tidak memeriksa lebih jauh identitas para PRT yang direkrut.
Mereka langsung menerima korban berdasarkan kartu keluarga dan fotonya.
Maka dari itu, ketiganya dikenakan Pasal 76I UU Nomor 35 tahun 2014 tentang eksploitasi terhadap anak di bawah umur.
“Makanya tiga orang ini terkena pasal pidana untuk terkait tentang Undang-Undang Perlindungan Anak,” kata Budi.
AKBP Roby Heri Saputra mengatakan, kedua ART tersebut terjun dari lantai 4 sekitar pukul 23.00 WIB.
"Kejadiannya tadi malam (Rabu, 22 April 2026). Setelah kedua ART loncat, ada warga yang melihat kejadian. Langsung ditolong warga," ujar Roby saat dihubungi Kompas.com, Kamis (23/4/2026).
Warga kemudian menghubungi ambulans darurat agar kedua korban segera mendapat pertolongan.
Namun, D meninggal dunia setelah kejadian. Sementara itu, R mengalami patah tangan dan dilarikan ke RS Mintohardjo.
Menurut Roby, saat ini R masih dirawat di rumah sakit, tetapi sudah bisa memberikan keterangan awal kepada polisi.
Dia menyampaikan bahwa R belum bisa memberikan keterangan secara perinci karena masih menjalani perawatan.
Namun, saksi ART lain menyebut D dan R tidak betah bekerja di rumah tersebut karena majikannya galak.
"(Saksi) Enggak ngomong suka disiksa, tapi (majikan) galak. Nah itu kan (galak) bisa saja dengan omongan, bisa saja dengan tindakan," tutur Roby.
"Kita juga belum tahu karena belum selesai pemeriksaan," tuturnya.
Menurut Roby, majikan dari para ART tersebut telah diperiksa oleh Satreskrim Polres Metro Jakarta Pusat.
Namun, proses pemeriksaan masih berlangsung.
Terkait peristiwa dua pekerja rumah tangga yang melompat dari lantai 4 di kawasan Benhil, saat ini penanganannya masih berjalan.
Sumber: Kompas.com