Tribunlampung.co.id, Lampug Tengah – Kontestasi politik di tingkat desa acapkali memicu tensi tinggi di akar rumput.
Mengantisipasi hal tersebut menjelang Pemilihan Kepala Kampung Antar Waktu (Pilkakam PAW) di Kampung Setia Bumi (SB 7), Kecamatan Seputih Banyak, Lampung Tengah, aparat kepolisian setempat memilih jalur kultural untuk mendinginkan suasana.
Melalui Polsek Manjaw di Kampung (PMK), Polsek Seputih Banyak mengumpulkan para calon pemimpin desa, tokoh masyarakat, dan unsur Forkopimcam dalam sebuah dialog santai yang dibalut nilai kearifan lokal Lampung, Rabu (20/5/2026) malam.
Kapolsek Seputih Banyak, AKP Hairil Rizal, mengungkapkan bahwa pendekatan formal hukum saja tidak cukup untuk menjaga kondusifitas menjelang pemungutan suara pada 25 Mei 2026 mendatang.
Diperlukan sentuhan personal dan budaya agar para calon serta pendukungnya tetap menjaga persaudaraan.
Baca Juga: Pemuda di Lampung Tengah Curi 2 Motor Akibat Kecanduan Judi Online
"Perbedaan pilihan adalah hal biasa dalam demokrasi, namun persatuan dan keamanan masyarakat harus tetap menjadi prioritas utama. Mari bersama-sama menciptakan Pilkakam yang aman, damai, sejuk, dan bermartabat," ujar Hairil, mewakili Kapolres Lampung Tengah AKBP Charles Pandapotan Tampubolon, Kamis (21/5/2026).
Dalam pertemuan yang berlangsung hangat tersebut, pihak kepolisian mengedepankan tiga pilar kearifan lokal masyarakat Lampung.
Yaitu Nemui Nyimah, yakni sikap santun, terbuka, dan murah hati dalam menyambut tamu.
Nengah Nyappur, atau kemauan untuk bergaul, bersosialisasi, dan membuka diri di tengah masyarakat.
Serta Sakai Sambayan atau semangat gotong royong dan saling membantu.
"Filosofi ini sengaja diangkat kembali untuk mengingatkan para calon Kepala Kampung PAW bahwa kompetisi politik hanyalah sementara, sedangkan persaudaraan antar-warga berlangsung selamanya," ujarnya.
Kegiatan PMK ini juga diintegrasikan dengan program Sabuk Kamtibmas, sebuah skema sinergi antara Polri, pemerintah kecamatan, aparatur kampung, dan elemen masyarakat untuk mendeteksi sekaligus mencegah potensi gesekan sekecil apa pun di tingkat bawah.
Bukan sekadar sosialisasi satu arah, forum malam itu juga dimanfaatkan warga dan para tokoh pemuda untuk menyampaikan aspirasi serta kekhawatiran mereka terkait kerawanan kamtibmas selama proses Pilkakam.
Dengan model dialog lesehan yang partisipatif, polisi menempatkan diri sebagai mitra dan sahabat masyarakat, bukan sekadar penegak hukum yang kaku.
"Kami ingin terus membangun komunikasi yang baik bersama masyarakat. Dengan kebersamaan dan kekompakan, setiap potensi gangguan kamtibmas dapat dicegah sedini mungkin," pungkas Hairil.
(TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/Fajar Ihwani Sidiq)