Populer Manado: Dampak Kenaikan Harga Kedelai bagi UMKM hingga Naiknya Harga Sejumlah Bahan Pokok
Yeshinta Sumampouw May 21, 2026 05:22 PM

Kenaikan harga kedelai impor membuat pelaku UMKM tahu dan tempe di Manado mulai kewalahan.

Harga kedelai kini mencapai Rp 565 ribu per karung dari sebelumnya sekitar Rp 410 ribu.

Meski biaya produksi melonjak, para pengusaha memilih mempertahankan harga jual agar pelanggan tidak berpaling.

Pelaku usaha berharap nilai tukar rupiah segera stabil agar harga bahan baku tidak terus naik.

Sementara itu, sejumlah pemilik warung di Manado mengaku lebih nyaman membeli MinyaKita di toko atau distributor dibanding langsung ke Bulog.

Mereka menilai pembelian lewat toko lebih praktis karena tidak perlu antre panjang dan bisa membeli sesuai kebutuhan harian.

Meski harga sedikit lebih mahal, cara itu dianggap lebih efisien bagi pedagang kecil.

Saat ini harga MinyaKita di pasaran berada di kisaran Rp17 ribu hingga Rp18 ribu per liter.

Sepekan menjelang Idul Adha 2026, sejumlah harga bahan pokok di Pasar Bersehati Manado mulai mengalami kenaikan.

Harga tomat naik menjadi Rp18 ribu per kilogram dari sebelumnya Rp12 ribu-Rp15 ribu.

Sementara bawang merah kini menyentuh Rp50 ribu per kilogram.

Pedagang memperkirakan harga masih berpotensi naik tergantung kondisi pasokan di pasar.

1. Cara Pengusaha Tahu dan Tempe di Manado Pertahankan Harga, Meski Kedelai Naik Makin Mahal

Industri rumahan tahu dan tempe di Manado, Sulut, terdampak melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. 

Kenaikan harga kedelai impor membuat biaya produksi melonjak, namun pelaku usaha memilih mempertahankan harga jual demi menjaga pelanggan.

Harga kedelai sebagai bahan baku utama tahu dan tempe kini mencapai Rp 565 ribu per karung ukuran 50 kilogram.

Padahal, harga normal sebelumnya berada di kisaran Rp 410 ribu per karung.

Natasha, pembuat tahu dan tempe di Kelurahan Batu Kota, Kecamatan Malalayang, mengatakan kenaikan harga kedelai terjadi secara bertahap dalam beberapa bulan terakhir.

“Naiknya perlahan. Dari Rp 5 ribu, kemudian Rp 10 ribu, sampai sekarang menyentuh Rp 565 ribu,” ujar Natasha kepada Tribun Manado, Kamis (21/5/2026).

Ia menjelaskan, kedelai yang digunakan dipasok dari gudang di Perkamil dan merupakan produk impor asal Amerika Serikat.

“Ada tulisannya di karung,” katanya.

Meski biaya produksi meningkat, para pengusaha tahu dan tempe di wilayah tersebut sepakat belum menaikkan harga jual.

Natasha mengaku khawatir pelanggan akan beralih jika harga dinaikkan.

“Kami di sini ada banyak pengusaha tahu dan tempe bersepakat untuk tidak menaikkan harga dulu, meski ya kita harus merugi,” ujarnya.

Untuk menekan kerugian, pelaku usaha menyiasati dengan memperkecil ukuran atau mengurangi volume tahu dan tempe, namun tetap dijual dengan harga lama.

“Dan dijual dengan harga lama,” kata dia.

Natasha mengaku waswas dengan kondisi nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar AS.

Jika kurs rupiah menembus Rp 20 ribu per dolar AS, ia mempertimbangkan untuk menaikkan harga jual.

“Moga-moga tidak demikian, kami berharap nilai tukar segera terkendali,” katanya.

Baca selengkapnya

2. Pemilik Warung di Manado Pilih Beli MinyaKita di Toko, Ini Alasan Enggan ke Bulog

Sejumlah pemilik warung di Kota Manado memilih membeli minyak goreng subsidi MinyaKita di toko atau distributor langganan dibanding langsung ke Bulog.

Kemudahan akses, tanpa persyaratan, hingga pembelian yang lebih fleksibel menjadi alasan utama.

Pemilik warung di Kelurahan Bailang, Ayu, mengatakan membeli MinyaKita di toko dinilai lebih praktis karena tidak perlu antre panjang dan prosesnya lebih cepat.

Menurut dia, meski harga di toko sedikit lebih mahal dibanding harga resmi pemerintah, para pemilik warung tetap memilih cara tersebut demi menghemat waktu dan tenaga.

Selain itu, Ayu mengaku kesulitan mendapatkan stok dalam jumlah kecil jika membeli langsung ke Bulog. Pembelian melalui toko dinilai lebih sesuai dengan kebutuhan warung kecil.

“Kalau beli di Bulog biasanya harus dalam jumlah tertentu. Kami jualan kecil, jadi beli secukupnya saja,” katanya.

Ia mengatakan, harga MinyaKita yang dibeli dari toko berkisar Rp 18 ribu per liter, kemudian dijual kembali dengan harga lebih tinggi.

Sementara itu, harga MinyaKita di sejumlah pasar tradisional di Manado masih berada di kisaran Rp 17 ribu hingga Rp 18 ribu per liter, tergantung lokasi penjualan dan ketersediaan stok.

Warga berharap distribusi MinyaKita ke pasar maupun toko kecil terus ditingkatkan agar masyarakat lebih mudah memperoleh minyak goreng dengan harga terjangkau.

Baca selengkapnya

3. Harga Bahan Pokok di Pasar Bersehati Manado Sepekan Jelang Idul Adha 2026

Sejumlah harga bahan pokok di Pasar Bersehati, Manado, mengalami kenaikan sepekan menjelang Idul Adha 2026. 

Kenaikan terjadi pada komoditas tomat hingga bawang merah akibat pengaruh pasokan di pasaran.

Harga tomat kini mencapai Rp 18 ribu per kilogram dari sebelumnya berkisar Rp 12 ribu hingga Rp 15 ribu per kilogram.

Selain tomat, harga bawang merah juga mengalami kenaikan menjadi Rp 50 ribu per kilogram.

Padahal sebelumnya, harga bawang merah masih berada di kisaran Rp 46 ribu per kilogram.

Kondisi pasokan diduga menjadi faktor utama yang memengaruhi harga di pasaran.

Baca selengkapnya

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.