Respons Netanyahu soal Video Aktivis Sumud Flotilla Dipaksa Sujud dan Tangan Terikat
Tribun-video May 21, 2026 05:57 PM

Beredar cuplikan video dari operasi intersep di Laut Mediterania memicu kecaman luas setelah memperlihatkan aktivis Global Sumud Flotilla dipaksa sujud dengan tangan terikat.

Video penahanan ini memicu kecaman dunia internasional. Italia dan Prancis bahkan memanggil duta besar Israel di masing-masing negara untuk meminta penjelasan terkait perlakuan terhadap para aktivis flotilla.

Sementara Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengakui penanganan para aktivis oleh Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir, tidak sejalan dengan nilai-nilai dan norma Israel.

Ia kemudian menginstruksikan agar seluruh peserta Global Sumud segera dideportasi secepat mungkin.

Peristiwa ini terjadi setelah pasukan Israel mencegat hampir 50 kapal flotilla yang berlayar menuju Gaza di perairan internasional pada Senin (18/5/2026).

Ketegangan meningkat pada Rabu (20/5/2026) ketika Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir, menghadapi ratusan aktivis flotilla Gaza yang ditahan di Pelabuhan Ashdod.

Dalam rekaman, para tahanan tampak berlutut dengan tangan diborgol saat Ben Gvir berjalan melewati mereka sambil mengibarkan bendera Israel.

Ia berteriak: “Mereka datang dengan penuh kebanggaan sebagai pahlawan besar. Lihat bagaimana mereka sekarang… bukan pahlawan, hanya pendukung teroris.”

Menteri Transportasi Israel, Miriam Regev, menuduh para tahanan mendukung “terorisme” dan menegaskan mereka pantas dipenjara.

“Tidak ada kaitannya sama sekali dengan bantuan kemanusiaan,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa para aktivis akan dikirim kembali ke negara asal mereka.

Menurut GSF, lebih dari 420 peserta dari 40 negara telah ditahan dalam operasi tersebut.

Video penahanan ini memicu kecaman internasional, dengan Italia dan Prancis memanggil duta besar Israel untuk meminta penjelasan atas perlakuan terhadap para aktivis flotilla.

Sejumlah kepala negara dan menteri luar negeri dari berbagai negara menilai tindakan tersebut melanggar martabat manusia dan mendesak pembebasan para aktivis yang ditahan.

Diantaranya, Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, menyebut video yang diunggah Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, sebagai tindakan yang “tidak dapat diterima”.

Meloni menuntut seluruh warga negara Italia yang ikut dalam armada kemanusiaan itu segera dibebaskan. Ia juga meminta permintaan maaf resmi atas perlakuan yang disebutnya menunjukkan “penghinaan total” terhadap pemerintah Italia.

“Tidak dapat diterima bahwa para demonstran ini, termasuk banyak warga Italia, mengalami perlakuan yang melanggar martabat manusia,” ujar Meloni dalam pernyataannya di media sosial.

Presiden Korea Selatan, Lee Jae-myung, turut mengecam tindakan Israel dan mempertanyakan dasar hukum penangkapan para aktivis di luar wilayah perairan Israel.

Pemerintah Prancis juga mengambil langkah diplomatik. Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noël Barrot, memerintahkan pemanggilan duta besar Israel untuk meminta penjelasan atas video yang beredar.

Per Selasa (19/5/2026), sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang ikut dalam ekspedisi tersebut ditangkap otoritas Israel.

Berdasarkan informasi dari Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), para WNI sempat mengirimkan pesan darurat berupa video pernyataan penangkapan.

Saksikan LIVE UPDATE selengkapnya hanya di YouTube Tribunnews!

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.