Kata Pakar Hukum Internasional Soal 9 WNI Dicegat Israel: Beda dengan TKI, Mereka Siap Jadi Syuhada
Moch Krisna May 21, 2026 06:32 PM

 

 

TRIBUNSUMSEL.COM -- Penangkapan sembilan Warga Negara Indonesia (WNI) yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0 oleh militer Israel memantik reaksi dari berbagai ahli.

Pakar Hukum Internasional, Hikmahanto Juwana, memberikan pandangan mendalam terkait aspek psikologis dan status hukum para aktivis serta jurnalis yang kini disekap oleh otoritas zionis tersebut.

Baca juga: 9 WNI Bukan Diculik, Menlu Sugiono Tegaskan Israel Larang Kapal Masuk Perairan Gaza

Hikmahanto menegaskan terdapat perbedaan mendasar antara status para delegasi kemanusiaan ini dengan Pekereja Migran Indonesia (PMI/TKI) yang merantau.

Jika para pekerja berangkat demi menyambung hidup dan berada di bawah pengawasan proteksi penuh negara, para aktivis kapal kemanusiaan ini justru meluncur dengan kesadaran penuh akan risiko kematian di zona konflik. 

Menurutnya, sebelum berlayar menembus blokade, seluruh peserta telah melewati serangkaian pembekalan ketat dan simulasi protokol darurat.

"Dan mereka sudah tahu bahwa sebelum masuk ke wilayah laut teritorial Israel ataupun Gaza, itu pasti mereka akan diintersep," tambahnya.

Atas dasar itulah, Hikmahanto menilai motif spiritual dan ideologis para WNI ini sangat kuat demi menegakkan kemerdekaan di tanah para nabi.

"Jadi mereka-mereka ini adalah orang-orang pilihan yang betul-betul mau untuk membesarkan Palestina, memerdekakan Palestina," ujarnya.

Ia kembali mempertegas batasan mental yang membedakan misi ini dengan aktivitas warga negara lainnya di luar negeri.

"Seperti yang saya saya katakan, niat awal kalau TKI itu bukan untuk mati. Tapi kalau yang ini (relawan), ini harus siap dengan mati, mempertaruhkan nyawa. Maka saya katakan mereka bersedia untuk menjadi syuhada, menjadi martir," paparnya.

Baca juga: Kondisi Terkini 9 WNI yang Diculik Israel, Semua dalam Keadaan Sehat

 

Batasan Diplomasi dan Tiga Misi Utama Global Sumud Flotilla

Kendati memiliki tekad yang besar, Hikmahanto mengingatkan bahwa ruang gerak Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI memiliki tembok penghalang yang tebal, meskipun desakan pembebasan sudah dilayangkan ke pihak Israel.

Ada dua faktor utama yang membuat advokasi negara menjadi terbatas di lapangan.

"Wajib dilindungi, tetapi ada keterbatasan dari pemerintah. Itu yang saya ingin garis bawahi, keterbatasan."

"Kenapa? Pertama keterbatasannya karena memang niat dari beliau-beliau itu untuk menjadi syuhada, yang kedua keterbatasannya karena kita tidak punya hubungan diplomatik," jelasnya.

Sebagai informasi tambahan, konvoi kemanusiaan Global Sumud Flotilla yang berujung pada penyitaan sekitar 10 kapal oleh armada laut Israel mengemban tiga agenda besar di jalur perairan internasional.

"Kalau mereka bisa lolos, maka mereka akan memberikan obat-obatan dan lain sebagainya kepada rakyat Palestina di Gaza. Kedua, penentangan terhadap blokade yang dilakukan Israel di luar wilayah teritorial, di perairan internasional."

"Dan yang ketiga, minta agar Israel kalau kamu melakukan apapun terhadap saya (para relawan), ingat ada hukum humaniter internasional yang berlaku. Seharusnya kamu (Israel) tidak melakukannya," papar Hikmahanto.

Kini, nasib sembilan WNI yang terdiri dari lima aktivis dan empat jurnalis tersebut masih terkatung-katung setelah sempat mengirimkan rekaman video darurat sesaat setelah kapal mereka dicegat paksa di tengah laut.

Baca juga: PFI Pusat Kecam Keras Israel yang Tahan Dua Wartawan Foto Republika di Perairan Internasional

 

Daftar Sembilan Nama WNI yang Diculik Israel di Laut Internasional dalam Misi Kemanusiaan di Gaza

  1. Andi Angga Prasadewa di Kapal Josef 
  2. Rahendro Herubowo di Kapal Ozgurluk 
  3. Andre Prasetyo Nugroho di Kapal Ozgurluk 
  4. Thoudy Badai di Kapal Ozgurluk 
  5. Bambang Noroyono (Abeng) di Kapal BoraLize 
  6. Herman Budianto Sudarsono di Kapal Zapyro 
  7. Ronggo Wirasanu di Kapal Zapyro 
  8. Asad Aras Muhammad di Kapal Kasr-1 
  9. Hendro Prasetyo di Kapal Kasr-1\

Kata Menlu

Terkait hal ini, Menteri Luar Negeri (Menlu), Sugiono sebelumnya memberikan pernyataan bahwa pemerintah terus berkoordinasi untuk memastikan kondisi sembilan WNI yang ditahan Israel tersebut.

Komunikasi itu dilakukan melalui Kementerian Luar Negeri Yordania dan Turki karena Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik langsung dengan Israel.

’’Kita sudah melakukan komunikasi dengan teman-teman dari Kementerian Luar Negeri di Yordania dan Turki untuk memastikan kondisi rekan-rekan kita yang diintersep dan ditahan oleh Israel."

"Sejauh ini informasi yang kita terima, masih sulit karena komunikasi yang terbatas,” tuturnya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (20/5/2026).

Sugiono pun mengatakan, Pemerintah masih terus berupaya mendapatkan informasi terbaru mengenai kondisi para WNI tersebut. 

Koordinasi juga dilakukan dengan negara lain yang warganya ikut dalam misi kemanusiaan itu. 

’’Kita berharap kondisi mereka baik-baik saja. Kami juga terus melakukan upaya koordinasi karena kita tidak punya hubungan langsung. Jadi, kita minta tolong kepada teman-teman yang mengalami nasib serupa dengan warga negaranya, kemudian kepada pihak di Yordania dan Turki.

"Kita doakan semoga mereka bisa segera kembali ke tanah air dalam keadaan sehat dan selamat,” terang Sugiono.

Sugiono juga menyampaikan apresiasi terhadap para relawan yang mengikuti misi bantuan kemanusiaan untuk Gaza tersebut. 

“Karena ini mencerminkan keinginan untuk menciptakan situasi yang lebih baik bagi saudara-saudara kita di Palestina, khususnya Gaza. Semangat ini perlu diapresiasi,” ungkapnya.

(*)

Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.