SURYA.co.id, SURABAYA – Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Republik Indonesia, dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P(K) menegaskan, edukasi bahaya rokok harus dimulai sejak usia dini.
Hal itu menyusul tingginya angka perokok pemula pada kelompok usia remaja 14 hingga 19 tahun.
Menurutnya kelompok usia SMP hingga SMA menjadi fase paling rentan seseorang mulai terpapar kebiasaan merokok.
Karena itu, intervensi edukasi kesehatan perlu dilakukan lebih awal, bahkan sejak anak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).
“Kalau melihat data, usia 14 sampai 19 tahun itu yang paling banyak mulai merokok. Maka edukasi harus dimulai sejak kelas 5 atau 6 SD,” ujarnya dalam acara Indonesian Conference on Tobacco Control 2026 di Gedung ASEEC Tower Ruang Ternate Lantai 1 Kampus B Universitas Airlangga (Unair),Surabaya, Kamis (21/5/2026).
Ia menjelaskan, dampak rokok memang tidak langsung terlihat dalam waktu singkat.
Namun, paparan zat berbahaya dari rokok dapat menyebabkan kerusakan organ secara perlahan, mulai dari kerusakan alveoli paru hingga pengerasan pembuluh darah yang memicu hipertensi dan penyakit kronis lainnya.
“Komplikasi itu muncul puluhan tahun kemudian. Karena itu pendekatannya tidak cukup hanya melarang, tetapi juga membangun kesadaran kesehatan sejak dini,” katanya.
Selain edukasi, Kementerian Kesehatan juga mendorong adanya komitmen politik dari pemerintah pusat maupun daerah dalam mempersempit ruang bagi aktivitas merokok di ruang publik.
“Kalau melarang orang merokok mungkin sulit, tetapi kita bisa mempersempit ruangnya,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyoroti tingginya pengeluaran masyarakat Indonesia untuk membeli rokok.
Menurutnya, belanja rumah tangga untuk rokok hampir menyamai pengeluaran untuk kebutuhan pangan pokok seperti beras.
“Belanja rokok itu sekitar 11 sampai 12 persen, sedangkan beras sekitar 9 sampai 11 persen. Ini menunjukkan rokok masih menjadi prioritas pengeluaran rumah tangga,” ujarnya.
Ia berharap masyarakat mulai mengalihkan pengeluaran rokok untuk kebutuhan yang lebih bermanfaat, seperti pendidikan anak maupun pemenuhan gizi keluarga.
Selain membahas pengendalian tembakau, dr. Benjamin juga menyinggung program prioritas nasional dalam penanganan Tuberkulosis (TBC).
Ia menyebut Indonesia saat ini masih berada di peringkat kedua kasus TBC terbanyak di dunia setelah India.
Karena itu, Kemenkes menggandeng berbagai perguruan tinggi, termasuk Fakultas Kedokteran Unair, guna memperkuat riset dan inovasi penanganan TBC di Indonesia.