JD Vance Klaim Perundidngan dengan Iran Perkembangan Positif
Ramadhan Aji Prakoso May 21, 2026 05:42 PM

- Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance menyatakan pembicaraan antara Washington dan Iran menunjukkan perkembangan positif, meski situasi masih sangat rapuh. 

Pernyataan itu disampaikan Vance dalam pengarahan di Gedung Putih pada Selasa (19/5/2026). 

Ia mengatakan pemerintah AS masih berupaya mencapai kesepakatan diplomatik dengan Teheran terkait konflik yang terus berlangsung.

Meski demikian, Vance menegaskan bahwa Washington tetap siap siaga opsi militer apabila negosiasi gagal mencapai hasil. 

Menurutnya, Amerika Serikat berada dalam posisi siaga penuh untuk memulai kembali operasi militer terhadap Iran jika diperlukan. 

Ia menyebut hanya ada dua kemungkinan akhir dari situasi saat ini, yakni tercapainya kesepakatan atau dimulainya kembali perang.

Vance juga kembali menegaskan sikap pemerintah AS bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. 

Ia mengatakan hal tersebut menjadi syarat utama dalam setiap pembicaraan yang sedang berlangsung antara kedua negara. 

Pemerintahan Presiden Donald Trump disebut tetap menjadikan isu nuklir Iran sebagai prioritas utama dalam upaya penyelesaian konflik.

Dalam pernyataannya, Vance mengakui bahwa gencatan senjata yang berlangsung sejak April tidak sepenuhnya stabil. 

Ia menyebut situasi di lapangan masih berpotensi berubah sewaktu-waktu. 

Pemerintah AS disebut terus memantau perkembangan keamanan di kawasan Timur Tengah, termasuk kondisi di Selat Hormuz yang masih menjadi titik ketegangan utama.

Komentar Vance muncul hanya beberapa jam setelah Trump mengungkapkan bahwa dirinya hampir memerintahkan serangan baru terhadap Iran. 

Trump mengatakan ia sempat mempertimbangkan operasi militer tambahan dan memberi Teheran waktu dua hingga tiga hari untuk mencapai kesepakatan. 

Ia bahkan mengklaim hanya tinggal satu jam lagi sebelum memerintahkan serangan baru.

Sebelumnya, Trump juga menyatakan telah menyiapkan “serangan besar” terhadap Iran. 

Namun, rencana tersebut disebut tidak dilanjutkan setelah adanya dorongan dari sejumlah negara Teluk agar situasi tidak semakin memanas. 

Meski begitu, beberapa negara Teluk kemudian mengaku tidak mengetahui adanya rencana serangan dalam waktu dekat.

Di tengah ancaman eskalasi baru, jalur diplomatik masih terus dibuka melalui mediator Pakistan. 

Sejumlah proposal disebut telah dipertukarkan sejak gencatan senjata diumumkan beberapa bulan lalu. 

Namun hingga kini kedua pihak masih belum mencapai kesepakatan final terkait tuntutan masing-masing.

Krisis di Selat Hormuz juga masih berlangsung. 

Iran tetap membatasi akses bagi negara-negara yang dianggap tidak bersahabat.

Sementara Amerika Serikat mempertahankan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.