POSBELITUNG.CO, BELITUNG --
Derau angin berpadu deburan ombak yang perlahan mengikis hamparan pasir putih di kawasan Pesisir Pantai Mudong, Desa Selinsing, Kecamatan Gantung, Belitung Timur, Kamis (21/5/2026). Belasan orang mengenakan baju kerah duduk di bawah tenda sederhana.
Kegiatan ini merupakan bagian dari gerakan aksi nyata penanaman mangrove bersama PT Timah Tbk, berkolaborasi dengan Pemkab Belitung Timur serta Kelompok Tani Hutan (KTH) Desa Selingsing.
Langkah ini diambil sebagai respons cepat untuk membentengi garis pantai kawasan Mudong yang setiap tahunnya terus mengalami penyusutan akibat abrasi yang kian mengkhawatirkan.
Hadir mewakili Bupati Belitung Timur, Asisten II Perekonomian dan Pembangunan Setda Beltim, Ikhwan Fakhrozi yang turun langsung ke lapangan untuk memberikan dukungan terhadap jalannya kegiatan tersebut.
Menurut Ikhwan, aksi penanaman ini bukan sekadar agenda seremonial belaka, melainkan sebuah investasi jangka panjang yang dampaknya baru akan terasa hingga beberapa tahun ke depan.
"Kami atas nama Pemerintah Daerah sangat mengapresiasi dan mendukung penuh kegiatan penanaman mangrove hari ini," ujar Ikhwan.
Ikhwan menyoroti kondisiPesisir Pantai Mudong saat ini, di mana batas kedalaman air laut sudah merangsek semakin jauh ke daratan.
Keberadaan ekosistem hutan bakau dinilai menjadi satu-satunya benteng alami yang paling efektif untuk melindungi daratan dari ancaman kerusakan cuaca ekstrem hingga bencana tsunami.
Selain itu, hutan mangrove juga memiliki fungsi sekunder yang sangat kaya, terutama dalam mendongkrak sektor roda perekonomian para nelayan tradisional di wilayah pesisir Gantung.
"Mangrove ini tempat ikan bertelur dan tempat kerang yang biasanya diambil oleh masyarakat. Dengan adanya mangrove tumbuh kembali, otomatis ini juga akan menambah dan membantu perekonomian untuk masyarakat kita," ucapnya.
Lebih lanjut, Ikhwan menerangkan bahwa bibit-bibit bakau yang ditanam ini merupakan hasil budidaya mandiri masyarakat lokal melalui program kemitraan dan padat karya bersama perusahaan tersebut.
Masyarakat mengumpulkan bibit-bibit mangrove alami yang hanyut di tepi pantai, kemudian menyemai dan membesarkannya di dalam polybag selama beberapa bulan hingga akarnya dinilai cukup kuat untuk dipindahkan ke alam liar.
Menariknya, Ikhwan mengungkapkan bahwa aktivitas menanam bakau sebetulnya bukanlah hal baru bagi masyarakat Belitung Timur, tapi sudah menjadi budaya dan kearifan lokal para nelayan sejak zaman dulu.
"Setahu saya, nelayan kita dari dulu itu kalau pulang melaut selalu membawa bibit bakau ke pinggir laut untuk ditanam sendiri. Itu sudah kebiasaan masyarakat kita," ungkapnya.
Pemkab Beltim berharap gerakan pelestarian lingkungan seperti ini bisa dikembangkan lebih luas dengan cara memetakan seluruh area kritis di sepanjang garis pantai selatan hingga timur Belitung Timur.
"Harapan kita, penanaman ini tidak hanya ditanam lalu ditinggal, tetapi harus kita pantau bersama-sama sampai kawasan pesisir ini benar-benar menjadi hutan mangrove kembali," tutupnya. (Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)