TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU TENGAH - Kepolisian Resor (Polres) Mamuju Tengah, Sulawesi Barat, tengah menyelidiki kasus dugaan hipnotis terhadap warga Desa Paraili, Kecamatan Topoyo, yang mengakibatkan orang tua korban kehilangan uang Rp15 juta.
Hal ini dibenarkan Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasat Reskrim) Polres Mamuju Tengah, Iptu M Arifin, saat ditemui di kantornya, Mapolres Jl H Aras Tammauni, Desa Tobadak, Kamis (21/5/2026).
"Benar, laporannya sudah kami terima," ungkap Arifin.
Baca juga: Urai Kemacetan di SPBU Kali Mamuju Polisi Minta Sopir Truk Antre Solar di SPBU Lain
Baca juga: Warga Protes Bau Kandang Ayam Petelur di Kelurahan Sulewatang Polman
Ia juga menyampaikan bahwa korban telah menjalani pemeriksaan dengan dimintai keterangan.
Saat ini, kasus tersebut telah ditindaklanjuti kepolisian dengan melakukan penyelidikan lebih lanjut.
I Komang Suartana (40) menceritakan kronologi lengkap kejadian yang menimpanya di kediamannya pada Selasa (19/5/2026) sekitar pukul 12.00 Wita.
Saat kejadian, dua orang wanita tak dikenal berkunjung ke rumah korban dengan modus melakukan Sensus Kesehatan.
Kedua pelaku tersebut satu orang menggunakan jilbab, sementara satunya lagi tidak tetapi memakai masker.
Komang mengaku langsung terperdaya ketika pelaku mengetahui identitas ayahnya, Made Dira (70).
Kedua pelaku bahkan mengetahui riwayat penyakit Made Dira.
"Data bapak saya dia tahu, sembari bertanya 'disini rumahnya Pak Made Dira, ya?' Lantas saya jawab 'iya'. Kemudian dia bertanya lagi, 'pernah dirawat di rumah sakit?' Saya jawab pernah," tutur Komang menirukan awal pembicaraan dengan pelaku saat ditemui di Desa Kabubu, Kamis (21/5/2026).
Mengenali data pribadi tersebut, Komang beranggapan kedua pelaku benar-benar petugas dari provinsi sehingga tidak ada kecurigaan sedikit pun.
Ia kemudian menyampaikan kepada orang tuanya bahwa ada petugas kesehatan yang datang.
"Memang saat itu bapak saya sakit, sehingga menambah peluang pelaku untuk melancarkan aksinya," ungkapnya.
Setelah berbincang, pelaku mengeluarkan sejumlah perlengkapan seperti laptop dan alat kesehatan.
Pelaku memeriksa kesehatan bapak Komang dan mendeteksi sejumlah penyakit yang dideritanya.
"Di layar laptop terpampang riwayat penyakit bapak saya," ceritanya.
Setelah memeriksa bapaknya, pelaku memeriksa ibu Komang dan melakukan hal yang sama.
Penyakit ibu Komang juga muncul di layar. Komang pun ikut diperiksa dengan prosedur serupa.
"Setelah mereka memeriksa kami, dia berkata semua bisa disembuhkan," ucapnya.
Komang mengaku bingung karena setiap permintaan pelaku selalu dituruti tanpa curiga.
"Saat itu pikiran saya kayak linglung dan kosong," kata Komang menggambarkan kondisinya.
Pelaku menawarkan obat berbentuk pil dalam kemasan. Ditawarkan dua pilihan paket: paket mandiri atau paket keluarga.
"Dia tawarkan saya tetapi perasaan saya seperti tidak sadar. Dia bilang, 'kalau paket mandiri untuk bapak, itu Rp15 juta dirawat selama dua bulan, kalau paket keluarga juga Rp15 juta'," kenang Komang.
Pelaku kemudian menulis nota sebesar Rp15 juta. Komang mengaku mengatakan tidak punya uang sebanyak itu, tetapi entah mengapa dirinya menunjuk ke orang tuanya dan mengatakan "mungkin mama saya punya."
"Saya juga tidak sadar menyampaikan seperti itu," ujarnya.
Mengambil kesempatan tersebut, pelaku membujuk ibu Komang untuk mengambil uang. Tak berapa lama, sang ibu ke kamar dan mengambil uang Rp15 juta, lalu langsung memberikannya kepada pelaku dalam kondisi juga seolah tak sadarkan diri.
Pelaku kemudian mengeluarkan obat dan resep untuk korban. Setelah uang diserahkan, pelaku segera bergegas meninggalkan rumah korban.
Sekitar setengah jam kemudian, Komang bersama kedua orang tuanya baru tersadar bahwa uang mereka telah dibawa kabur. Saat mulai sadar, Komang langsung mencari pelaku, namun sudah tidak ditemukan.