3 Alasan Pedagang di Manado Jual MinyaKita di Atas HET, Paling Utama Soal Stok
Alpen Martinus May 21, 2026 07:22 PM

TRIBUNMANADO.CO.ID,MANADO- Pedagang di Pasar Bersehati Manado, Sulawesi Utara terpaksa menjual MinyaKita di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).

Seperti terpantau Kamis (21/5/2026). 

Jika HET pemerintah yang ditetapkan sekitar Rp15.700 per liter, dan pedagang menjualnya dikisaran Rp17-18 ribu per liter.

Baca juga: Jawaban Pedagang di Manado Jual MinyaKita di Atas HET, Rp18 Ribu Per Liter

Selisihnya hanya sedikit saja.

1. Untung Kecil

Seorang pedagang mengaku tidak bisa menjual sesuai harga standar pemerintah karena keuntungan yang diperoleh akan sangat kecil bahkan berpotensi merugi jika harga modal sudah tinggi sejak awal pembelian.

“Kalau kami ambil langsung dari Bulog mungkin bisa jual sesuai HET, tapi kebanyakan stok yang masuk itu dari distributor atau toko lain, jadi harga modalnya memang sudah naik,” Rani salah seorang pedagang di Pasar Bersehati.

2. Stok terbatas

Rani menjelaskan, pasokan MinyaKita dari Bulog sangat terbatas sehingga cepat abis.

“Karena sekarang permintaan dari Pasar sudah banyak, jatah setiap pedagang dibatasi sehingga kita jual cepat abis," katanya.

"Makanya kita beli dari toko lain otomatis harganya tidak sesuai HET pasti lebih tinggi karena kita tidak mau rugi,” jelasnya.

3. Susah Didapat

Pedagang lainnya mengatakan, mendapatkan stok langsung dari Bulog tidak selalu mudah bagi pedagang kecil. 

“Kami ini jualan kecil. Kadang harus cari stok cepat supaya barang tetap ada di warung atau lapak. Jadi biasanya ambil dari tempat yang lebih dekat walaupun harga lebih mahal,” kata Indah.

Meski demikian, masyarakat berharap pemerintah dapat memperketat pengawasan distribusi minyak goreng subsidi agar harga di pasaran tetap stabil dan sesuai ketentuan. 

Warga juga meminta pasokan MinyaKita ke pasar tradisional diperbanyak agar pedagang kecil bisa memperoleh stok dengan harga lebih murah.

Seorang warga Manado yang ditemui saat berbelanja mengaku harga MinyaKita saat ini cukup membebani, terutama bagi keluarga yang setiap hari menggunakan minyak goreng untuk kebutuhan rumah tangga.

“Kalau naik terus tentu terasa juga. Apalagi ini minyak subsidi yang seharusnya lebih murah dan mudah didapat,” ujar salah satu warga. (FER)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.