WARTAKOTALIVE.COM - Arab Saudi memuji keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang dianggap telah memberi kesempatan terhadap Iran untuk membuka jalur perdagangan Selat Hormuz.
Pujian itu disampaikan Menteri Luar Negeri Kerajaan Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan Al Saudi di X miliknya pada Rabu (20/5/2026).
Faisal mengatakan Kerajaan Arab Saudi sangat menghargai keputusan Presiden AS Donald Trump untuk memberikan kesempatan kepada diplomasi untuk mencapai kesepakatan yang dapat diterima guna mengakhiri perang.
Kesempatan yang diberikan Trump itu dianggap bisa memulihkan keamanan dan kebebasan navigasi maritim di Selat Hormuz ke keadaan sebelum 28 Februari 2026.
Faisal meyakini kesempatan yang Trump berikan juga bisa mengatasi semua poin perselisihan dengan cara yang melayani keamanan dan stabilitas kawasan.
Selain itu Arab Saudi juga sangat menghargai upaya mediasi yang sedang dilakukan oleh Pakistan dalam hal ini.
Arab Saudi pun mendesak Iran agar memanfaatkan kesempatan ini untuk menghindari implikasi berbahaya.
Menurutnya kesempatan ini bisa menjadi penyelesaian komprehensif dan perdamaian abadi di kawasan hingga dunia.
“Arab Saudi berharap Iran dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk menghindari implikasi berbahaya dari eskalasi, dan segera menanggapi upaya untuk memajukan negosiasi yang mengarah pada kesepakatan komprehensif untuk mencapai perdamaian abadi di kawasan dan dunia,” pungkasnya.
Sebelumnya Donald Trump mengatakan bahwa negosiasi dengan Iran saat ini berada "pada tahap akhir." Dia pun kembali mengancam akan adanya serangan kembali, kecuali Teheran menyetujui kesepakatan damai.
Enam minggu sejak Trump menghentikan Operasi Epic Fury untuk gencatan senjata, pembicaraan guna mengakhiri perang hanya menunjukkan sedikit kemajuan.
Trump mengatakan minggu ini, bahwa ia hampir memerintahkan serangan kembali, tetapi menahan diri untuk memberi waktu bagi negosiasi.
"Kita berada di tahap akhir negosiasi dengan Iran. Kita akan lihat apa yang terjadi. Entah ada kesepakatan atau kita akan melakukan beberapa hal yang sedikit kejam, tetapi mudah-mudahan itu tidak akan terjadi," katanya kepada wartawan.
Sementara itu Iran menyatakan, masih meninjau respons terbaru Washington terhadap proposal perdamaian yang sebelumnya diajukan Teheran melalui mediator Pakistan.
Dilansir Al Jazeera, Kementerian Luar Negeri Iran menyebut, jalur diplomasi dengan AS “masih terbuka”, meski ancaman perang baru terus membayangi kawasan Timur Tengah.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya tidak akan menyerah pada tekanan militer maupun ekonomi dari Washington.
“Semua jalan menuju solusi diplomatik tetap terbuka dari pihak kami,” ujar Pezeshkian seperti dikutip media pemerintah Iran.
Namun ia memperingatkan bahwa upaya memaksa Iran tunduk melalui ancaman “tidak lain hanyalah ilusi”.