Menjaga Rasa dari Lereng Merapi, Kombinasi Warisan Jadah Tempe di Tengah Modernisasi
Wahyu Gilang Putranto May 22, 2026 12:38 AM

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Chrysnha Pradipha

TRIBUNNEWS.COM - Aroma harum khas jadah menyeruak ketika dijumput dari dandang kukusan.

Satu per satu jadah panas itu dipindah ke nampan, berdampingan dengan tempe bacem yang sudah lebih dulu berbaris tersusun rapi.

Bergantian, karyawan industri rumahan jadah tempe melakukan tugasnya. Ada yang mengemas ke dalam kardus, ada juga yang kembali mengukus jadah lainnya agar semakin mantap dimakan hangat-hangat.

Dari kesibukan itu, Angga Kusuma Ariwibowo seperti biasa, menerima tamu dengan senyuman sembari membawa suguhan untuk dinikmati siang itu, Selasa (14/4/2026).

Dengan lantang, Angga mempersilakan pengunjung mencoba aneka produk usahanya secara gratis.

"Mari silakan ambil silakan coba, inilah Jadah Tempe Suguhan by Mbah Carik," teriaknya kepada rombongan pengunjung. 

Bagi pengunjung, jadah tempe mungkin hanya dianggap makanan wajib saat berwisata ke lereng Merapi.

Namun bagi Angga, makanan sederhana berbahan ketan dan tempe itu adalah warisan keluarga yang membawa cerita panjang tentang budaya, ketahanan hidup, hingga perubahan zaman.

Angga merupakan generasi keempat pengelola Jadah Tempe Mbah Carik. Usaha keluarganya telah bertahan melewati berbagai generasi, sejak Kaliurang belum ramai seperti sekarang hingga menjadi salah satu destinasi wisata paling dikenal di Yogyakarta.

Baca juga: Kain Jumputan Lintang Kejora Eksis Terbang ke Belgia, Menolak Gaptek Kunci Sukses UMKM

“Kalau rasa dan cara dasarnya tetap kami pertahankan. Itu yang diwariskan dari dulu,” jelas  Angga.

Tetapi, menjaga warisan kuliner tradisional di tengah perubahan zaman bukan perkara mudah.

Karyawan menyiapkan pesanan jadah tempe di industri rumahan Suguhan by Mbah Carik
CAMILAN JADAH TEMPE - Karyawan menyiapkan pesanan jadah tempe di industri rumahan Suguhan by Mbah Carik, Kaliurang, Yogyakarta

Di tengah menjamurnya makanan modern dan pola konsumsi serba praktis, jadah tempe perlahan menghadapi tantangan baru.

Banyak kuliner tradisional mulai tersisih karena dianggap kurang praktis, cepat basi, dan kalah menarik dibanding produk modern yang lebih tahan lama.

Masalah itu juga dirasakan Angga. Banyak pelanggan dari luar kota ingin membawa jadah tempe sebagai oleh-oleh, tetapi daya tahan produk menjadi kendala utama.

Dari situ muncul gagasan untuk mengembangkan produk frozen food atau makanan beku agar jadah tempe bisa bertahan lebih lama dan dibawa hingga luar daerah.

Untuk mewujudkan rencana tersebut, Angga membutuhkan fasilitas produksi yang lebih memadai dan memenuhi standar keamanan pangan.

Dua tahun lalu, ia pun untuk pertama kalinya mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI senilai Rp100 juta.

“Waktu itu kami memang ingin mengembangkan frozen food. Jadi kami butuh tempat produksi dan alat yang lebih sesuai standar,” katanya.

Dana pinjaman kemudian digunakan untuk merenovasi ruang produksi, membeli mesin vacuum sealer, serta melengkapi peralatan higienis yang disesuaikan dengan standar keamanan pangan.

Sebagian dana lainnya dipakai untuk membuat alat penumbuk jadah otomatis guna meningkatkan kapasitas produksi.

Menurut Angga, proses pengajuan berjalan cukup cepat karena usaha keluarganya memiliki rekam jejak usaha yang baik dan tidak memiliki pinjaman lain.

“Kurang dari seminggu sudah cair karena semua syarat sudah lengkap,” ujarnya.

Perubahan itu perlahan membawa dampak besar bagi usaha keluarganya.

Jika sebelumnya produksi harian hanya berkisar puluhan porsi, kini kapasitasnya meningkat hingga lebih dari seratus porsi per hari.

Meski begitu, modernisasi tidak membuat mereka meninggalkan akar tradisi yang selama ini dijaga turun-temurun.

Jadah tetap dibuat dari beras ketan dan kelapa yang ditumbuk hingga padat dan kenyal.

Sementara tempe bacem dimasak menggunakan gula dan rempah-rempah khas Jawa yang menghasilkan rasa manis gurih khas Kaliurang.

Filosofi hingga Modernisasi

Di balik kesederhanaannya, jadah tempe ternyata menyimpan filosofi panjang tentang cara hidup masyarakat lereng Merapi.

Bagi warga sekitar gunung, makanan bukan sekadar urusan rasa. Jadah tempe lahir dari kehidupan masyarakat yang sejak lama hidup berdampingan dengan Merapi, gunung yang menghadirkan berkah sekaligus ancaman.

Angga Kusuma Ariwibowo generasi keempat pengelola Jadah Tempe Mbah Carik
GENERASI KEEMPAT - Angga Kusuma Ariwibowo generasi keempat pengelola Jadah Tempe Mbah Carik

Tanah vulkanik Merapi memberi kesuburan bagi pertanian warga, tetapi letusan dan awan panas juga selalu menjadi kemungkinan yang harus dihadapi kapan saja.

Dari kondisi itulah masyarakat menciptakan pangan yang praktis, tahan lama, dan mengenyangkan.

Jadah berbahan ketan dikenal lebih padat dibanding nasi dan mudah dibawa bepergian.

Sementara tempe bacem diolah agar lebih awet sekaligus menjadi sumber energi cepat bagi masyarakat yang harus beraktivitas di kawasan pegunungan.

Dalam banyak situasi, jadah tempe bahkan kerap menjadi bekal perjalanan hingga makanan saat warga mengungsi ketika aktivitas Merapi meningkat.

“Masyarakat sini memang dari dulu hidup berdampingan dengan Merapi. Jadi makanan juga menyesuaikan kondisi,” kata Angga.

Jejak sejarah jadah dan tempe sendiri telah dikenal dalam budaya Jawa sejak ratusan tahun silam.

Jadah atau “jawadah” disebut telah ada sejak sekitar abad ke-10, sementara tempe tercatat dalam Serat Centhini pada era Mataram.

Di Kaliurang, perpaduan keduanya kemudian tumbuh menjadi identitas kuliner khas lereng Merapi.

Nama “Mbah Carik” pun memiliki kedekatan tersendiri dengan lingkungan Keraton Yogyakarta.

Dalam cerita keluarga, nama tersebut diberikan oleh Kanjeng Ratu Ayu Hastungkoro, istri Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Sejak lama pula, jadah tempe dikenal sebagai suguhan bagi tamu maupun pejabat yang datang ke kawasan Kaliurang.

Kini, di tangan Angga, warisan itu berusaha dijaga dengan cara yang berbeda.

Selain memperbarui tampilan produk lewat merek alias rebranding “Suguhan by Mbah Carik”, ia juga mulai memanfaatkan teknologi digital untuk mendukung penjualan.

Hampir seluruh transaksi di gerainya kini menggunakan QRIS.

“Sekarang bukan cuma anak muda, ibu-ibu juga langsung tanya bisa pakai QRIS atau tidak,” ucapnya sambil tersenyum.

Menurutnya, perubahan sistem pembayaran ikut memengaruhi pola belanja pelanggan. Wisatawan yang sebelumnya terbatas uang tunai kini lebih leluasa membeli berbagai produk tambahan karena cukup membayar lewat ponsel.

Angga juga beberapa kali mendapat kesempatan mengikuti pameran UMKM di berbagai daerah untuk memperkenalkan jadah tempe sebagai kuliner khas Yogyakarta.

Baginya, menjaga kuliner tradisional hari ini tidak cukup hanya mempertahankan resep lama.

Pelaku UMKM juga harus mampu mengikuti perubahan perilaku konsumen agar tetap relevan di tengah persaingan.

Dorongan Pemerintah

Kepala Bidang Kewirausahaan Dinas Koperasi dan UKM DIY, Hana Fais Prabowo mengatakan UMKM kini menjadi salah satu penopang utama ekonomi masyarakat di Yogyakarta.

Menurutnya, Pemerintah DIY terus mendorong pelaku usaha berkembang melalui ekosistem SiBakul Jogja.

Program tersebut tidak hanya berisi pendataan pelaku usaha, tetapi juga pendampingan, pelatihan, hingga perluasan akses pasar.

Pelaku UMKM juga difasilitasi dalam pengurusan legalitas usaha seperti Nomor Induk Berusaha (NIB), sertifikasi halal, dan izin PIRT.

"Selain itu, pemerintah menghadirkan Markethub SiBakul Jogja sebagai ruang pemasaran digital untuk membantu produk lokal menjangkau pasar lebih luas," jelasnya ketika dihubungi pada Kamis (7/5/2026).

Pemerintah DIY juga memberikan subsidi ongkos kirim untuk meningkatkan daya saing produk UMKM.

Hingga Triwulan I 2026, tercatat lebih dari 12 ribu produk telah masuk dalam ekosistem pemasaran digital tersebut.

Secara keseluruhan, SiBakul Jogja telah merangkul sekitar 347.800 pelaku usaha, terdiri dari 329.543 usaha mikro, 16.126 usaha kecil, dan 2.131 usaha menengah.

Menurut Fais, pengembangan UMKM membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah, perbankan, akademisi, marketplace, hingga media.

“Membangun UMKM tidak bisa sendiri. Kolaborasi penting untuk membuka akses pembiayaan dan memperkuat daya saing,” papar Fais menambahkan.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.