Bintang muda Manchester United, Senne Lammens, mengungkapkan betapa kerasnya tuntutan fisik di sepak bola Inggris, menggambarkan area penalti modern sebagai medan pertempuran. Meski kompetisi tersebut dikenal brutal, penjaga gawang muda itu menegaskan bahwa ia menikmati tantangan ketika menjadi sasaran para penyerang lawan.
Beradaptasi dengan kerasnya Liga Premier
Kiper asal Belgia ini, yang kini menjadi salah satu pilar utama dalam tim asuhan Michael Carrick yang tengah bangkit, harus menyesuaikan diri dengan cepat terhadap intensitas tinggi Liga Premier setelah bergabung dari Royal Antwerp musim panas lalu. Meski suasana kompetisi begitu menegangkan, Lammens menegaskan dirinya menikmati tantangan menjadi target serangan di kotak penalti.
Pemain muda tersebut mendapat pujian besar dari pelatih kepala setelah kemenangan tipis 1-0 Manchester United atas Everton pada hari Senin di Stadion Hill Dickinson. Sementara itu, pelatih Everton, David Moyes, menyebut penampilannya sebagai sesuatu yang “brilian”. Walau Benjamin Sesko yang masuk sebagai pemain pengganti menjadi penentu kemenangan di ujung lain lapangan, Lammens berperan penting menjaga gawangnya tetap bersih. Ia berhasil melewati beberapa situasi berbahaya dari serangan bola mati saat para pemain Everton mencoba mengurungnya di kotak penalti.
Menikmati kekacauan di area penalti
Dalam wawancara yang dilaporkan oleh ESPN tentang tekanan fisik yang terus-menerus ia hadapi dalam situasi bola mati, Lammens berbicara jujur mengenai realitas menjadi kiper utama di Manchester United.
“Saya rasa sepanjang musim memang seperti ini,” ujarnya. “Bagi saya, ini sudah menjadi bagian dari permainan. Inilah Liga Premier. Di dalam kotak penalti 16 meter itu seperti medan perang kecil. Itu juga salah satu kekuatan saya, jadi terkadang saya justru menikmati tantangan itu. Saya senang keluar dari zona nyaman dan menghadapi situasi seperti itu, karena meskipun banyak pemain di sekitar saya, saya tetap berani keluar untuk menangkap bola silang. Itu membuat saya merasa bahwa saya sedang tampil baik.”
Perdebatan soal perlindungan kiper
Isu mengenai perlindungan terhadap penjaga gawang semakin ramai dibahas musim ini, dengan banyak pelatih yang meminta wasit untuk lebih tegas terhadap taktik menghalangi di situasi sepak pojok. Lammens menanggapi isu tersebut ketika berkunjung ke Partington Central Academy mewakili Manchester United Foundation menjelang Hari Buku Sedunia. Saat ditanya apakah otoritas liga perlu turun tangan, ia mengakui bahwa situasinya cukup kompleks.
“Tentu saja harus ada aturan tertentu,” jelasnya. “Kita tidak bisa membiarkan hal itu menjadi berlebihan. Itu sesuatu yang harus diperhatikan oleh pihak Liga Premier. Kadang kiper memang perlu dilindungi, dan mungkin ada beberapa situasi yang seharusnya bisa lebih dilindungi. Tapi bukan hanya satu tim yang melakukannya. Kami juga melakukannya kadang-kadang... Kami mencetak banyak gol dari situasi seperti itu, jadi saya sepenuhnya memahami mengapa hal itu dilakukan. Kamu hanya harus bisa menghadapinya.”
Awal yang impian di Old Trafford
Lammens menikmati awal karier yang luar biasa, menjadi pilihan utama di bawah mistar gawang hanya dalam 22 penampilan bersama Setan Merah. Dampaknya terasa sejak awal; pada debutnya melawan Sunderland bulan Oktober, para pendukung United sudah menyanyikan chant “apakah kamu Schmeichel yang menyamar”, sebuah perbandingan bertekanan tinggi dengan kiper legendaris asal Denmark itu. Mengenang bulan-bulan pertamanya di Manchester, Lammens tetap berusaha berpijak pada realitas.
“Saya tidak bisa membayangkan semuanya berjalan lebih baik dari ini,” ujarnya. “Namun saya tidak ingin terlalu menoleh ke masa lalu. Saya masih harus membuktikan diri setiap minggu. Jadi saya lebih fokus pada saat ini daripada memikirkan masa depan. Saya hanya harus terus melangkah, tidak cepat puas... ini belum selesai, jadi saya harus terus bekerja keras.”