Tradisi Mepe Kasur Banyuwangi, Tradisi Suku Osing Sambut Idul Adha
Haorrahman May 22, 2026 12:44 AM

 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Banyuwangi - Warga Suku Osing di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi kembali menggelar tradisi Mepe Kasur, Kamis (21/5/2026). Ritual adat yang diwariskan turun-temurun ini menjadi bagian penting dalam menyambut Hari Raya Idul Adha sekaligus pembuka Festival Tumpeng Sewu 2026.

Mepe Kasur secara harfiah berarti menjemur kasur. Namun bagi masyarakat Osing, tradisi ini bukan sekadar aktivitas membersihkan tempat tidur, melainkan ritual budaya yang sarat makna spiritual dan filosofi kehidupan rumah tangga.

Kasur-kasur milik warga dijemur berjajar di depan rumah sejak pagi hari. Uniknya, hampir seluruh kasur memiliki warna yang sama, yakni merah dan hitam. Pemandangan tersebut menjadi ciri khas yang hanya dapat ditemui setahun sekali saat tradisi berlangsung.

Warga Osing meyakini warna merah melambangkan keberanian, sedangkan hitam berarti kelanggengan. Filosofi itu dipercaya sebagai simbol keharmonisan dalam kehidupan keluarga.

Baca juga: Hanya 9 Biro Umroh Resmi Terdaftar di Banyuwangi, Warga Diminta Waspada Pilih Travel

“Ini jadi simbol bahwa dalam rumah tangga, kita harus berani dan langgeng dalam menjalaninya,” ujar Mbah Pi’i, salah satu warga Kemiren.

Selain dijemur, kasur-kasur tersebut juga dipukul menggunakan penebah untuk membersihkan debu yang menempel. Prosesi ini dilakukan bersama-sama oleh warga sebagai bentuk gotong royong dan pelestarian tradisi leluhur.

Ketua Adat Kemiren, Suhaimi, menjelaskan bahwa kasur dianggap sebagai benda yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Osing. Karena itu, kasur wajib dibersihkan secara ritual sebagai bentuk harapan agar penghuni rumah terhindar dari penyakit dan bencana.

“Menjemur kasur dimulai sejak matahari terbit hingga menjelang tengah hari. Saat menjemur, warga membaca doa dan memercikkan air bunga di halaman rumah, tujuannya agar dijauhkan dari bencana dan penyakit,” jelas Suhaimi.

Baca juga: Pria di Banyuwangi Bobol Rumah dan Angkut Perabot karena Utang Arisan Tak Dibayar

Dalam tradisi ini terdapat aturan yang masih dipercaya masyarakat hingga kini. Seluruh kasur yang dijemur harus sudah dimasukkan kembali ke dalam rumah sebelum sore atau sebelum matahari terbenam.

Secara historis, kasur juga memiliki nilai sosial bagi masyarakat Osing. Dahulu, ketebalan kasur menjadi penanda status ekonomi pemiliknya. Kasur-kasur tersebut biasanya diberikan kepada pasangan pengantin sebagai simbol ikatan rumah tangga dan harapan kehidupan yang harmonis.

Tradisi Mepe Kasur menjadi rangkaian pembuka Festival Tumpeng Sewu yang digelar selama dua hari, pada 21-22 Mei 2026. Setelah prosesi penjemuran selesai, warga dan wisatawan disuguhi pertunjukan kesenian Kuntulan serta arak-arakan Barong keliling desa.

Pada malam hari, masyarakat menggelar selamatan Tumpeng Sewu yang dilanjutkan dengan tradisi Mocoan Lontar Yusuf. Sementara pada hari berikutnya, kesenian Gandrung Terob dipentaskan di Balai Desa Kemiren.

Tradisi Mepe Kasur rutin digelar setiap memasuki bulan Dzulhijjah dan bersamaan dengan agenda bersih desa masyarakat Osing di Banyuwangi.



© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.