TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Beban berat dalam mengelola keuangan negara berdampak langsung pada kondisi fisik Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Selama delapan bulan menjabat sebagai Bendahara Negara, Purbaya mengaku berat badannya telah menyusut hingga 10 kilogram (kg) akibat tingginya intensitas kerja dan tekanan dalam mengelola APBN.
Pengakuan tersebut disampaikan Purbaya secara terbuka di sela-sela acara Jogjakarta Financial Festival yang berlangsung di Jogja Expo Centre (JEC), Yogyakarta, Jumat (22/5/2026).
Dalam forum tersebut, Purbaya membandingkan tanggung jawabnya saat ini dengan posisinya terdahulu sebagai Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Menurut Purbaya, menjadi menteri jauh lebih menantang secara fisik dan mental dibandingkan jabatannya di LPS yang ia nilai jauh lebih santai.
Ia bahkan secara blak-blakan menyebut bahwa secara kompensasi, ia justru menerima pendapatan yang lebih kecil di Kementerian Keuangan dibandingkan saat masih memimpin LPS.
"Kalau jadi Menteri Keuangan, gaji turun sedikit kerja lebih berat, Pak. Dalam 8 bulan jadi Menteri Keuangan, berat badan saya sudah turun 10 kilo. Jadi kayaknya berat di sini," ujar Purbaya.
Dalam suasana diskusi yang cair, Purbaya pun melontarkan candaan sekaligus ungkapan jujur mengenai penyesalannya berpindah posisi ke kementerian. Ia menilai, di LPS ia bisa bekerja dengan ritme yang lebih ringan namun dengan benefit finansial yang lebih baik.
"Di samping itu nyesel kenapa saya jadi Menteri Keuangan, jadi banyak kerjaan. Harusnya kita santai di LPS," tutur dia.
Sebagai catatan, Purbaya Yudhi Sadewa resmi dilantik sebagai Menteri Keuangan RI menggantikan Sri Mulyani Indrawati. Pelantikan tersebut dilakukan dalam rangkaian perombakan Kabinet Merah Putih pada Senin (8/9/2025).
Sebelumnya, sosok Purbaya dikenal publik saat menjabat sebagai Ketua Dewan Komisioner LPS, posisi yang diembannya berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 58/M Tahun 2020 yang terbit pada 3 September 2020.
Dalam kesempatan yang sama, Purbaya juga membantah tudingan bahwa dirinya terlalu percaya diri atau over-optimistic dalam memproyeksikan kondisi perekonomian Indonesia. Ia menegaskan bahwa seluruh pernyataan dan kebijakan yang ia ambil merupakan bagian dari strategi yang terukur atau calculated move.
"Ini bukan over-optimistic tapi calculated move. Kita hitung dampaknya. Kan kalau teori ekonomi saya sudah khatam. Tinggal praktiknya jadi saya tinggal praktikan," tegasnya.
Purbaya menyoroti adanya persepsi publik yang ia anggap tidak konsisten terhadap data ekonomi yang dipaparkan pemerintah.
Ia mencontohkan respons skeptis pihak-pihak tertentu yang menilai pertumbuhan ekonomi 5,39 persen sebagai tanda kehancuran, namun ketika ekonomi mencatatkan angka 5,61 persen, data tersebut justru dituding sebagai data palsu.
"Nanti mereka cari alasan lain. Kita pastikan mesin-mesin ekonomi berjalan dengan baik," kata Purbaya.
Mengenai kondisi ekonomi yang sempat dihantam berbagai sentimen negatif, termasuk sentimen MSCI sejak akhir tahun lalu, Purbaya memastikan pemerintah terus melakukan langkah perbaikan.
Ia menekankan bahwa dalam upaya penyehatan pasar dan ekonomi domestik, pemerintah memilih cara yang lebih mandiri dan terhitung daripada harus bergantung pada pihak luar seperti lembaga internasional di masa lalu.
"Walaupun nggak sempurna kita nggak ada mengulangi kalau dulu kan ada IMF. Saya pinteran dikit dari IMF," ujar Purbaya.
Purbaya menyampaikan proyeksi optimis terkait kesejahteraan masyarakat. Ia meyakini bahwa dengan perbaikan yang terus dilakukan pada mesin-mesin ekonomi nasional yang kini lebih didorong oleh peran swasta domestik, dampak positifnya akan mulai dirasakan secara signifikan oleh masyarakat luas.
"6 bulan lagi, akan terlihat ke depan orang yang susah semakin berkurang, berkurang lagi," ujarnya.