Laporan Wartawan Tribunjabar.id, Nazmi Abdurrahman
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG- Durban Latief Ardjo, suami almarhumah seniman tari Sunda, Irawati Durban Ardjo, menginisiasi penerbitan buku berjudul Tari Merak Sunda, sebagai upaya menjaga warisan budaya Sunda agar tetap dikenal generasi muda.
Buku yang ditulis langsung oleh almarhumah Irawati Durban Ardjo itu, resmi diluncurkan dalam acara tribute dan bedah buku di eL Royal Hotel, Kota Bandung, Jumat (22/5/2026), bertepatan dengan hari lahir Irawati Durban Ardjo.
Durban Latief Ardjo mengatakan, penerbitan buku tersebut merupakan bentuk dukungannya terhadap perjuangan sang istri dalam melestarikan Tari Merak dan tari klasik Sunda.
“Dukungan saya tentu, setelah istri saya meninggal saya usahakan untuk mencetak buku itu dan melaunching kepada khalayak ramai, agar buku itu yang isinya bukan hanya tentang Tari Merak, tapi bagaimana Tari Merak itu terjadi,” ujar Durban.
Menurutnya, buku tersebut tidak hanya membahas teknik tari, tetapi juga sejarah lahirnya Tari Merak sejak 1965, tata rias, kostum, hingga berbagai perjalanan Tari Merak selama lebih dari 50 tahun.
“Di dalam buku itu ada tutorial, agar orang bisa mempelajari Tari Merak,” katanya.
Ketua panitia peluncuran buku, Eka Pusaka Dharma mengatakan, buku tersebut sebelumnya pernah di launching di Jakarta pada 27 November 2025 di Perpustakaan Nasional Jakarta dan hari ini diluncurkan untuk kedua kalinya, sebagai bentuk kecintaan terhadap sosok Irawati Durban Ardjo yang sepanjang hidupnya konsisten memperjuangkan seni Sunda.
“Hari ini launching buku yang ditulis langsung oleh almarhumah Ibu Irawati Durban, dan bertepatan hari ini tanggal 22 Mei hari lahirnya Ibu Ira,” ujar Eka.
Dalam buku itu, kata Eka, Irawati tidak hanya menuliskan teknik Tari Merak, tetapi juga sejarah, filosofi, hingga proses penciptaan kostum dan tata rias tari tersebut.
“Ibu Ira menulis buku Tari Merak Sunda itu tidak hanya tekniknya, tetapi bagaimana generasi muda ini mengerti sejarah di balik terciptanya Tari Merak Sunda,” katanya.
Eka mengakui minat generasi muda terhadap tari klasik Sunda saat ini mengalami penurunan, termasuk di Yayasan Pusat Bina Tari yang selama ini menjadi ruang pembelajaran tari Sunda.
“Memang mengalami penurunan minat terutama tari klasik ini. Tapi setidaknya sekarang masih ada anak-anak muda yang mau,” ucapnya.
Peluncuran dan bedah buku tersebut, diharapkan dapat menjadi salah satu langkah untuk kembali menumbuhkan ketertarikan generasi muda terhadap seni tari klasik Sunda.
Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Provinsi Jawa Barat, dr. Siska Gerfianti mengatakan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat mendukung penuh upaya pelestarian budaya Sunda.
Siska menyebut dukungan itu juga ditunjukkan melalui kata pengantar Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam buku tersebut.
“Ini bukti bahwa kami Pemerintah Provinsi Jawa Barat, khususnya Bapak Gubernur, sangat mendukung setiap upaya pelestarian budaya Sunda,” ujar Siska.
Menurutnya, Irawati Durban Ardjo merupakan figur penting dalam perjalanan seni tari Sunda di Jawa Barat.
“Beliau bukan hanya seorang seniman. Lebih dari itu, beliau adalah seorang pendidik, inspirator, dan penjaga nilai budaya bangsa,” katanya.
Siska berharap semangat dan dedikasi almarhumah Irawati Durban Ardjo dalam menjaga budaya Sunda dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda di tengah arus modernisasi dan globalisasi.