Pakar Komunikasi Politik Emrus Sihombing menyoroti viralnya spanduk dan baliho bernada kritik yang muncul di depan Kampus Universitas Gadjah Mada atau UGM.
Menurut Emrus, kemunculan baliho bertuliskan permintaan maaf maupun kritik terhadap pemerintah merupakan hal yang wajar dalam situasi politik saat ini.
Ia menilai pesan yang muncul lewat spanduk tersebut lebih menggambarkan adanya kekecewaan dari kelompok tertentu, bukan mewakili seluruh masyarakat Indonesia.
Emrus mengatakan, publik tidak perlu langsung menggeneralisasi bahwa semua warga Indonesia memiliki pandangan yang sama seperti isi spanduk viral tersebut.
Ia menegaskan ekspresi kritik di ruang publik merupakan bagian dari dinamika demokrasi yang harus disikapi secara bijak.
Namun demikian, Emrus mengingatkan situasi seperti ini tidak boleh terus dibiarkan tanpa komunikasi yang baik antara pemerintah dan kelompok pengkritik.
Menurutnya, upaya meluruskan secara sepihak juga bukan solusi terbaik karena justru bisa memicu polemik baru di tengah masyarakat.
Emrus menilai langkah paling tepat adalah membuka ruang dialog secara terbuka antara pemerintah dan pihak-pihak yang menyampaikan kritik.
Dengan dialog, pemerintah dinilai bisa mendengar langsung sumber kekecewaan yang berkembang di masyarakat.
Sementara para pengkritik juga dapat menyampaikan aspirasi mereka tanpa harus memicu ketegangan berkepanjangan di ruang publik.
Viralnya spanduk di depan UGM sendiri sebelumnya ramai dibahas di media sosial dan memicu beragam respons dari publik.
Sebagian menilai spanduk tersebut sebagai bentuk kebebasan berekspresi, sementara lainnya menganggap narasi yang muncul berpotensi memperkeruh situasi politik nasional.