TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Langit Candi Borobudur kembali akan dihiasi ribuan cahaya lampion dan drone show dalam perayaan Waisak 2570 Buddhis Era/2026. Namun tahun ini, prosesi pelepasan lampion hadir dengan konsep dan pesan yang lebih mendalam: membawa semangat perdamaian dunia di tengah situasi global yang penuh ketegangan.
Ketua Panitia Light of Peace, Fatmawati mengatakan agenda pelepasan lentera selalu menjadi momen yang paling dinanti masyarakat, baik wisatawan domestik maupun mancanegara.
“Betul sekali, acara lentera dunia atau lampion memang selalu dinanti semua orang, khususnya di Candi Borobudur. Setiap orang pasti ingin datang melihat event lampion di Borobudur,” ujarnya.
Menurut Fatmawati, panitia sengaja mengganti istilah “lampion” yang digunakan tahun-tahun sebelumnya menjadi Light of Peace atau Cahaya Perdamaian Dunia. Pergantian nama tersebut bukan tanpa alasan, melainkan sebagai refleksi terhadap kondisi dunia saat ini.
“Kita ganti nama. Kalau tahun lalu memakai nama lampion, sekarang menjadi Light of Peace. Di berbagai belahan dunia situasi ekonomi dan politik sedang memanas, sehingga kita merasa dunia membutuhkan pesan perdamaian,” katanya.
Prosesi Light of Peace, lanjutnya, tidak hanya sekadar menerbangkan lentera ke langit malam Borobudur. Seluruh peserta terlebih dahulu diajak mengikuti meditasi dan duduk hening untuk menemukan kedamaian dari dalam diri masing-masing.
“Acara dimulai dengan meditasi, duduk hening, mencari kedamaian dalam batin. Jadi mereka menyalakan lentera itu dari dalam batin masing-masing,” jelas Fatmawati.
Setelah melalui proses refleksi tersebut, peserta diharapkan mampu membawa semangat kedamaian dan kebahagiaan, tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga bagi lingkungan sekitar.
“Ketika orang sudah damai dan bahagia, mereka bisa menyalakan pelita perdamaian. Itu yang membantu manusia keluar dari kegelapan dan menemukan kebahagiaan serta kedamaian,” tuturnya.
Panitia juga menyiapkan sejumlah titik penukaran tiket dan akses masuk untuk memudahkan pengunjung saat hari pelaksanaan. Penukaran tiket dibuka mulai pukul 09.00 WIB hingga 20.00 WIB di simpul gerbang kawasan KSB dan eks main gate Borobudur.
Selain prosesi pelepasan lentera, Waisak tahun ini juga akan dimeriahkan pertunjukan drone show berskala besar yang untuk pertama kalinya mengangkat kisah Jataka atau cerita kehidupan Sang Buddha dalam visual modern di langit Borobudur.
“Kami ingin menunjukkan bahwa Indonesia bisa mengadakan drone show yang luar biasa. Tahun ini tampil lebih berwarna dan dibantu Bhikkhu Sangha dari Thailand,” ungkapnya.
Sebanyak 570 drone akan diterbangkan menyesuaikan angka tahun Buddhis Era 2570. Formasi drone tersebut akan membentuk berbagai visual artistik dan simbol spiritual yang berkaitan dengan ajaran Buddha.
Fatmawati mengaku Borobudur memiliki daya tarik spiritual dan historis yang membuat banyak orang jatuh cinta.
“Kita belajar sejarah tentang Indonesia dan Borobudur. Ada rasa cinta yang tumbuh ketika mengikuti seluruh rangkaian spiritual di kawasan ini,” katanya.
Perayaan Waisak 2026 di Borobudur diperkirakan kembali menyedot ribuan pengunjung dari berbagai daerah dan negara. Selain menjadi agenda religius umat Buddha, momen tersebut juga menjadi simbol harmoni budaya, spiritualitas, dan wajah toleransi Indonesia di mata dunia.