TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Lengkingan sirine tiba-tiba memecah keheningan di SMA 1 Kalasan. Detik itu juga, riuh rendah aktivitas siswa di lingkungan sekolah terhenti seketika. Tanpa komando panjang, ratusan siswa langsung merunduk. Mengikuti naluri penyelamatan, mereka melindungi kepala menggunakan tangan, tas sekolah, maupun kursi.
Begitu lengkingan sirine mereda, suasana berubah menjadi simulasi evakuasi yang rapi. Langkah kaki para siswa bergerak cepat namun teratur menuju tanah lapang, titik kumpul aman yang telah ditentukan. Di koridor, para tenaga pendidik sigap memandu jalannya evakuasi, sementara Tim Siaga Bencana Sekolah bergerak bak penyelamat profesional, mereka mengevakuasi rekan-rekannya yang terluka menuju ke posko pertolongan pertama.
Aksi dramatis ini bukanlah bencana sungguhan, melainkan simulasi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) dalam rangka peringatan 20 tahun tragedi gempa bumi Yogyakarta dan Jawa Tengah. Bagi pihak sekolah, simulasi berkala semacam ini adalah hal mutlak untuk merawat kesadaran kolektif.
Wakil Kepala Bagian Humas SMA 1 Kalasan, Aris Widaryanti mengatakan, sekolah ini menyimpan memori kelasm saat gempa dahsyat mengguncang Yogyakarta pada 2006 silam. Gempa meluluhlantakkan sebagian bangunan sekolah. Bahkan banyak guru dan karyawan yang rumahnya juga turut terdampak.
"Mungkin 40 persen guru dan karyawan karena kebanyakan tinggal di wilayah selatan, rumah mereka banyak yang hancur, berantakan gak punya rumah," kenang Aris, Jumat (22/5/2026).
Pengalaman pahit itulah yang mendasari pihak sekolah untuk membangun infrastruktur konstruksi yang lebih baik dan aman. Mengingat posisi geografis mereka yang berada di jalur aktif Sesar Opak. Simulasi ini sendiri diikuti oleh ratusan siswa.
"Kami senang sekali paling tidak memberikan awareness atau kesadaran bagi mereka. Karena anak-anak ini belum pernah mengalami gempa yang seperti dulu. Sementara kalau bapak ibu guru disini mengalami. Jadi ketika ini mereka lebih serius dan latihan menghadapi bencana dengan baik,"
jelasnya.
Urgensi mitigasi di lingkungan sekolah ini juga diamini oleh pemerintah pusat. Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Lilik Kurniawan menyampaikan bahwa SMA 1 Kalasan merupakan sekolah ke-10 yang mendapatkan penguatan kapasitas mitigasi bencana ini. Data secara nasional, menurut dia, ada sekitar 250 ribu sekolah yang berdiri di daerah rawan bencana, baik itu gempa bumi, longsor, maupun banjir.
"Kita perlu memperkuat sekolah-sekolah ini karena anak-anak ini adalah generasi penerus kita," ujar Lilik.
Berdasarkan kajian pakar Ikatan Ahli Bencana Indonesia, gempa bumi merupakan peristiwa alam yang memiliki siklus berulang. Karena tidak ada satu pun institusi atau teknologi yang mampu memprediksi hari dan jam terjadinya gempa, kesiapsiagaan menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar.
"Gempa 20 tahun lalu harus dijadikan memori kolektif bangsa agar kita tidak abai. Melalui adik-adik SMA ini, kita titipkan pengetahuan kesiapsiagaan. Ini adalah bentuk investasi jangka panjang kita dalam penanggulangan bencana di Indonesia," tambah Lilik.
Langkah penguatan ini tidak berjalan sendiri. Sektor dunia usaha turut ambil bagian nyata melalui program Corporate Social Responsibility (CSR). Direktur Operasi InJourney Destination Management (IDM), Indung Purwita Jati, menyatakan komitmennya untuk terus mengedukasi generasi muda di jenjang menengah atas. Hingga saat ini, kata dia, IDM telah membekali total 1.000 siswa dari 10 sekolah di Yogyakarta.
"Kenapa level SMA? Karena di usia ini mereka sudah sangat siap menerima edukasi aturan siaga bencana, baik secara teknis maupun non-teknis," kata Indung.
Melalui bekal simulasi ini, IDM berharap materi keselamatan tidak berhenti di area sekolah saja, melainkan mampu disebarluaskan ke lingkungan tempat tinggal siswa. Harapannya edukasi yang didapat siswa tidak hanya selesai di lingkungan sekolah, tapi menjadi amabassador atau duta di lingkungan masing-masing. Mereka diharapkan menjadi orang pertama yang mampu mengedukasi orang tua, keluarga, dan tetangga dekatnya jika sewaktu-waktu terjadi bencana.
"Kami berkomitmen kegiatan ini akan terus berlanjut ke depan sebagai salah satu program CSR kami. Selain kami mengelola destinasi wisata, kami juga berkomitmen bermanfaat bagi masyarakat disekitar wisata yang kami kelola," kata dia.(*)