Laporan langsung wartawan Tribunnews.com dan Media Center Haji dari Arab Saudi, Sri Juliati
TRIBUNNEWS.COM - Seorang jemaah haji Indonesia asal Jakarta, Muhammad Firdaus Akhlan (73), yang sebelumnya dilaporkan hilang di Kota Makkah ditemukan meninggal dunia
Kakek Firdaus yang tergabung dalam kloter JKG-27, diketahui meninggalkan hotel tempatnya menginap di sektor 9 Misfalah, Makkah sejak Jumat (15/5/2026) pukul 09.04 waktu Arab Saudi.
Setelah dilakukan pencarian intensif, jenazahnya ditemukan pada Jumat (22/5/2026) sekitar pukul 02.00 waktu Arab Saudi di kawasan Jabal Kudai, berjarak sekitar 1,5 hingga 2 kilometer dari area pemondokan mendiang.
Kepala Bidang Perlindungan Jemaah (Kabid Linjam) PPIH Arab Saudi, Muftiono mengatakan, jenazah ditemukan oleh tentara Arab Saudi atau Askar yang sedang melakukan patroli rutin di wilayah tersebut.
"Jenazah ditemukan Askar yang sedang berpatroli di sekitar Jabal Kudai, lalu diserahkan kepada pihak kepolisian dan forensik," kata Muftiono kepada tim Media Center Haji (MCH).
Kemudian, laporan tersebut diteruskan kepada pihak KJRI di Jeddah. Dalam dokumen forensik memuat infomasi jenazah dengan ciri-ciri seperti kakek Firdaus.
Menurut Muftiono, berdasarkan kondisi jenazah, almarhum diperkirakan telah meninggal dunia sekitar empat hingga lima hari sebelum ditemukan.
"Situasi panas membuat kondisi jenazah mengalami perubahan warna, tapi masih utuh dan dapat dikenali. Sarung hitam, baju koko putih, gelang identitas, semuanya masih melekat dan utuh," ujarnya.
Setelah ditemukan, aparat Saudi melakukan pemeriksaan identitas melalui gelang jemaah, data paspor, visa, serta kartu identitas lainnya.
Baca juga: Kronologi Firdaus, Jemaah Haji asal Jakarta Hilang di Makkah, Istri: Sempat Terekam CCTV
Pihak PPIH Arab Saudi juga mengajak istri almarhum, Nafsiah Nawan untuk memastikan ciri-ciri fisik dan pakaian yang dikenakan.
"Setelah dinyatakan bahwa itu adalah almarhum, kami juga mengajak istrinya dan menyatakan dari ciri-cirinya pakaian yang digunakan, pakaian sarung, baju warna putih, koko, itu betul almarhum," kata Mutfiono.
Ia juga menyebut tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh kakek Firdaus. Diduga, almarhum kelelahan akibat cuaca panas ekstrem lalu terjatuh di area perbukitan.
Jenazah rencananya akan dimakamkan di pemakaman umum di Kota Makkah setelah seluruh proses administrasi dari kepolisian dan KJRI selesai dilakukan.
"Kita masih menunggu mudah-mudahan hari ini atau sore nanti (kemarin, red) dinyatakan secepatnya akan dimakamkan," katanya.
Dalam kesempatan itu, Muftiono kembali mengingatkan seluruh jemaah haji Indonesia agar tidak melepas gelang identitas dan selalu membawa kartu Nusuk saat beraktivitas.
Ia mengungkapkan, saat ditemukan almarhum tidak membawa kartu Nusuk. Meski demikian, gelang identitas masih melekat sehingga memudahkan proses identifikasi oleh aparat Arab Saudi dan petugas haji Indonesia.
Sementara itu, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) turut menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya almarhum.
"Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya kepada almarhum, dan memberikan kesabaran kepada keluarga yang ditinggalkan," kata Kepala Biro Hubungan Masyarakat , Moh. Hasan Afandi.
Hasan menyampaikan terima kasih kepada keluarga almarhum, KJRI Jeddah, otoritas Arab Saudi, pihak rumah sakit Arab Saudi, petugas haji yang melakukan pencarian, serta seluruh masyarakat Indonesia yang turut mendoakan selama proses pencarian berlangsung.
Baca juga: Cerita Mbah Marsiyah, Jemaah Haji Tertua se-Indonesia, Berhaji di Usia 105 Tahun Hasil Jualan Bubur
Ia menegaskan, pemerintah melalui Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi akan menyiapkan badal haji bagi almarhum. Pelaksanaan badal haji tersebut akan dilakukan oleh petugas haji.
"Pemerintah melalui PPIH Arab Saudi akan menyiapkan badal haji yang dilakukan oleh petugas haji bagi almarhum," jelas Hasan.
Hasan juga mengajak seluruh jemaah dan petugas untuk meningkatkan kepedulian satu sama lain, terutama terhadap jemaah lansia, disabilitas, perempuan, serta jemaah dengan kondisi kesehatan tertentu.
Menurutnya, setiap jemaah dan petugas perlu lebih peka apabila melihat jemaah berjalan sendirian, tampak kebingungan, kelelahan, atau terpisah dari rombongan.
"Bila melihat jemaah berjalan sendirian, tampak kebingungan, kelelahan, atau terpisah dari rombongan, segera sapa dan tanyakan kondisinya. Jika jemaah tersebut tidak mengetahui arah tujuan atau membutuhkan bantuan, antarkan ke petugas terdekat, pos layanan, atau laporkan kepada petugas sektor dan kloter," imbaunya.
Hasan mengingatkan agar tidak membiarkan jemaah berjalan sendiri tanpa pendampingan, khususnya jemaah yang membutuhkan perhatian lebih. Kepedulian antarsesama dinilai sangat penting untuk mengurangi risiko jemaah tersesat atau terpisah dari rombongan.
"Jangan biarkan jemaah berjalan sendiri tanpa pendampingan. Kepedulian Bapak dan Ibu sekalian sangat penting untuk mengurangi kemungkinan jemaah tersesat atau terpisah dari rombongannya," tegasnya. (*)