Trump Bakal Lantik Kevin Warsh sebagai Ketua Bank Sentral AS Pengganti Jerome Powell
Whiesa Daniswara May 23, 2026 03:38 AM

TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dijadwalkan melantik Kevin Warsh sebagai Ketua (Chair) Federal Reserve (The Fed) di Gedung Putih pada Jumat (22/5/2026).

Pengumuman ini disampaikan oleh pihak Gedung Putih pada Kamis (21/5/2026).

Penunjukan Warsh untuk posisi tertinggi ini telah dikonfirmasi melalui pemungutan suara pada 13 Mei lalu.

Warsh akan menggantikan Jerome Powell sebagai pimpinan utama bank sentral AS.

Meski Powell tidak lagi menjabat sebagai Ketua, masa jabatannya sebagai salah satu dari tujuh anggota Dewan Gubernur (Board of Governors) The Fed masih akan berlangsung hingga Januari 2028.

Posisi Penting Warsh di The Fed

Sebagai informasi, dalam struktur Federal Reserve, posisi Ketua diberikan kepada sosok yang akan menjadi pemimpin dari Dewan Gubernur. 

Sementara itu, seorang "Gubernur" adalah sebutan bagi anggota dewan yang duduk di badan pengambil kebijakan tersebut.

Warsh sendiri akan menjalani masa jabatan sebagai Ketua The Fed selama empat tahun ke depan.

Presiden Trump memilih Warsh dengan harapan ia dapat menjadi "benteng" terhadap kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Sejalan dengan visi ekonomi Trump, Warsh telah lama menyuarakan pandangan untuk menurunkan suku bunga sekaligus memangkas neraca keuangan The Fed.

Tantangan besar telah menanti Warsh.

Baca juga: Dolar AS Menguat, Harga Suku Cadang Otomotif Sesuaikan 10-20 Persen

Saat ini, The Fed sedang mempertimbangkan langkah pengetatan kebijakan guna menekan inflasi yang dipicu oleh konflik antara Trump dengan Iran.

Berdasarkan risalah rapat pada 28-29 April yang dirilis Rabu lalu (20/5/2026), mayoritas pembuat kebijakan Fed menilai pengetatan kebijakan akan menjadi langkah tepat jika inflasi terus bertahan di atas target bank sentral sebesar 2 persen.

Pengalaman Panjang Warsh

Bagi Warsh, bekerja di Federal Reserve bukanlah hal baru.

Ia pernah menjabat sebagai salah satu anggota Dewan Gubernur Fed pada periode 2006 hingga 2011.

Kala itu, ia ditunjuk di masa pemerintahan George W. Bush dan tercatat sebagai anggota dewan termuda pada usia 35 tahun.

Meski sempat dicalonkan menjadi Ketua The Fed pada 2017 di masa jabatan pertama Trump, ia gagal terpilih saat itu.

Kini, Warsh diperkirakan akan menghadapi pengawasan ketat.

Posisi ini cukup berisiko mengingat hubungan panas Trump dengan pendahulunya.

Trump sebelumnya kerap berselisih dengan Powell karena dianggap tidak mau memangkas suku bunga, hingga melabelinya dengan julukan "jerk" atau brengsek.

Tantangan Warsh

Tantangan berat juga akan dialami Warsh setelah pemerintahan Trump secara terbuka menyarankan agar The Fed sebaiknya mengurangi independensinya dari Gedung Putih dan lebih menyelaraskan kebijakan moneter dengan agenda fiskal pemerintah. 

Meski dalam dengar pendapat Warsh mengonfirmasi akan mengadopsi banyak kebijakan serupa dengan keinginan pejabat Trump, ia menegaskan akan tetap menjaga otonomi The Fed dari Gedung Putih.

Bersamaan dengan pelantikan ini, Gubernur Fed Stephen Miran akan meninggalkan posisinya.

Baca juga: Siang Ini Dolar Bertengger di Rp 17.701, Harga Energi Makin Mahal, Barang Ekspor Jadi Kompetitif 

Miran sebelumnya mengambil cuti dari jabatan ketua Dewan Penasihat Ekonomi Gedung Putih untuk mengisi kekosongan di kursi Gubernur Fed.

Miran bertahan lebih lama dari yang diantisipasi karena adanya penyelidikan jaksa terhadap Powell dan The Fed terkait biaya renovasi kantor pusat bank sentral di Washington, D.C.

Kasus tersebut sempat dikritik tajam oleh hakim federal.

Bahkan, Senator Carolina Utara dari Partai Republik, Thom Tillis, sempat menunda pencalonan Warsh sebagai bentuk protes atas penyelidikan tersebut.

(Tribunnews.com/Bobby)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.