Penyesalan Terbesar? Michael Owen Ungkap Dua Turnamen yang Seharusnya Dimenangkan Generasi Emas Inggris Era David Beckham dkk
Hendra Wijaya May 23, 2026 05:14 AM

Timnas Inggris telah mengumumkan skuad mereka untuk Piala Dunia 2026. Pertanyaannya, bisakah mereka mencapai sesuatu yang gagal diwujudkan oleh ‘Generasi Emas’ dan akhirnya membawa pulang trofi internasional yang sudah lama dinanti? Michael Owen, yang menjadi bagian dari sejumlah upaya perebutan gelar pada era 1990-an dan 2000-an, menceritakan kepada GOAL tentang kegagalan-kegagalan yang paling sulit ia terima selama membela The Three Lions.

Owen mencuri perhatian bersama Inggris pada tahun 1998

Nama Owen mulai mencuat bersama Inggris pada tahun 1998, ketika ia menjadi pencetak gol termuda dalam turnamen besar di usia 18 tahun pada Piala Dunia musim panas itu. Ia kemudian mencatatkan gol legendaris melawan Argentina di babak 16 besar. Namun laga tersebut berakhir dengan kekecewaan lewat adu penalti, setelah Inggris harus bermain dengan 10 orang akibat kartu merah kontroversial yang diterima David Beckham.

Ronaldinho & Ronaldo pupuskan mimpi The Three Lions

Di bawah asuhan Sven-Goran Eriksson pada 2002, Inggris memiliki skuad bertabur bintang dengan nama-nama seperti Owen, Beckham, Ashley Cole, dan Steven Gerrard. Namun mimpi Inggris kembali kandas di tangan Ronaldinho dan Brasil di Piala Dunia. Dua tahun kemudian, Frank Lampard dan Wayne Rooney memperkuat skuad untuk Piala Eropa 2004 — yang lagi-lagi berakhir dengan kekalahan lewat adu penalti melawan Portugal. Cristiano Ronaldo, dengan ‘wink’ ikoniknya, kembali menjadi momok pada Piala Dunia 2006.

Kekalahan ‘Generasi Emas’ mana yang paling menyakitkan?

Setelah gagal mengubah potensi besar menjadi prestasi nyata, turnamen mana yang paling membuat Owen kecewa dan menyesal karena gagal membawa pulang medali juara?

Menjawab pertanyaan itu, Owen — yang kini menjadi duta Inggris untuk situs perbandingan kasino online Casino.org — mengatakan kepada GOAL: “Ya Tuhan! Saya bermain di lima turnamen besar. Turnamen di mana saya merasa kami punya tim terbaik — meski saya tidak sampai terjaga di malam hari memikirkannya — adalah tahun 2002 di Jepang. Kami kalah dari tim yang akhirnya menjadi juara, tapi itu adalah tim yang sangat, sangat bagus.”

“Kami sebenarnya hanya perlu mengalahkan satu tim. Di sisi lain dari bagan, ada Jerman yang baru saja kami kalahkan 5-1. Ada Turki dan Korea Selatan, dan jalur itu terbuka lebar. Tapi kami berada di sisi Brasil, yang menjadi mimpi buruk. Saya benar-benar merasa kami hanya satu pertandingan lagi dari juara.”

“Pada 1998, segalanya berjalan salah. Kami mendapat kartu merah, kalah lewat adu penalti, dan satu gol sah kami dianulir melawan Argentina. Seharusnya kami bisa melaju lebih jauh. Siapa tahu sampai sejauh mana kami bisa pergi di tahun 1998.”

“Tahun 2006, saya cedera di tengah turnamen jadi saya tidak punya pandangan kuat. Bahkan saat melawan Portugal di 2004, kami seharusnya bisa menang. Wazza (Rooney) cedera setelah 15 menit. Kami unggul 1-0. Itu bisa saja menjadi kami yang menghadapi Yunani di final. Itu juga satu kesempatan besar yang terlewat.”

“Saya akan bilang mungkin Portugal dan Jepang adalah dua turnamen di mana saya benar-benar merasa kami bisa memenangkan trofi.”

Southgate nyaris berhasil - bisakah Tuchel membawa Inggris juara?

Gareth Southgate sempat terlihat menjadi sosok yang mampu membawa Inggris meraih gelar juara, dalam masa kepemimpinannya yang membuatnya mendapat gelar kehormatan ‘Sir’. Namun, langkah Inggris terhenti di babak semifinal dan final pada ajang Piala Dunia serta Piala Eropa.

Thomas Tuchel kini menjadi pelatih terbaru yang memegang tongkat estafet tersebut. Mantan pelatih Bayern Munich dan Chelsea ini memiliki rekam jejak gemilang dengan gelar domestik serta Liga Champions di CV kepelatihannya.

Ia menimbulkan perdebatan lewat keputusan seleksi skuad untuk Piala Dunia 2026, dengan tidak memanggil beberapa nama besar seperti Cole Palmer, Phil Foden, Harry Maguire, dan Trent Alexander-Arnold. Namun Tuchel tetap percaya diri bahwa ia mampu membawa Inggris melampaui kegagalan Generasi Emas, terinspirasi oleh pelajaran dari perjuangan Owen dan rekan-rekannya di masa lalu.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.