Harga Kedelai Naik Tembus Rp 560 Ribu, Produsen Tahu dan Tempe di Belu Terpaksa Kurangi Produksi
Apolonia Matilde May 23, 2026 07:19 AM

 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Agustinus Tanggur

 

POS-KUPANG.COM, ATAMBUA - Melemahnya nilai tukar rupiah dalam beberapa hari terakhir berdampak langsung pada kenaikan harga kedelai impor.

Kondisi ini membuat para pengusaha tahu dan tempe di Kota Atambua, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur, terpaksa mengurangi produksi agar tetap bertahan, Jumat (22/5/2026). 

Sejumlah pelaku usaha mengeluhkan lonjakan harga bahan baku yang dinilai semakin membebani. Kenaikan harga kedelai disebut terjadi secara bertahap dalam waktu singkat.

Salah satu pengusaha tahu tempe di Atambua, Aris Wirdianto, mengatakan harga kedelai yang sebelumnya berada di kisaran Rp 375 ribu per karung, kini naik menjadi Rp 520 ribu hingga Rp 560 ribu per karung.

“Kenaikan ini sangat terasa. Mau tidak mau kami harus mengurangi produksi supaya bisa tetap bertahan,” ujarnya.

Aris menjelaskan, sebelumnya dalam sehari ia mampu mengolah 10 hingga 12 karung kedelai. Namun saat ini, produksinya menurun menjadi sekitar 7 karung per hari.

Menurutnya, langkah tersebut diambil untuk menghemat bahan baku sekaligus menjaga keberlangsungan usaha di tengah ketidakpastian harga.

Selain mengurangi produksi, Aris juga mengaku tidak berani menaikkan harga jual tahu dan tempe. Ia khawatir pelanggan akan beralih ke pedagang lain jika harga dinaikkan.

“Kami hanya bisa bertahan dan tetap melayani kebutuhan konsumen. Kalau harga dinaikkan, takut pelanggan pindah,” katanya.

Ia berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah untuk menstabilkan nilai tukar rupiah, sehingga harga kedelai impor bisa kembali normal.

Ia juga berharap adanya kebijakan yang dapat membantu pelaku usaha kecil agar tidak terancam gulung tikar akibat kenaikan harga bahan baku yang terus terjadi. (gus)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.