Mengapa Pemilik Leicester Mungkin 'Berharap' Tim Wanita Turun Kasta Lagi
Dewi Rahayu May 23, 2026 07:56 AM

Ketika tim pria Leicester City terdegradasi ke League One, biaya untuk mempertahankan tim wanita di kasta tertinggi kini menjadi sorotan.

Tim pria Leicester City baru saja turun ke League One, tepat sepuluh tahun setelah kemenangan luar biasa mereka di Premier League.

Keterkaitan antara tim pria dan wanita di sebagian besar klub Inggris tidak bisa diremehkan, dan sebuah podcast baru-baru ini menyebutkan bahwa para pemilik Leicester mungkin sedang mempertanyakan apakah mereka ingin tim wanita tetap berada di level tertinggi.

Ketegangan semacam ini bukanlah hal baru di sepak bola Inggris. Runtuhnya Reading Women menjadi contoh betapa cepatnya tim wanita bisa terdampak oleh perkembangan yang terjadi di tim pria.

Di Leicester City, tekanan finansial yang meningkat membuat tim pria kesulitan dan akhirnya terdegradasi ke divisi ketiga, hanya satu dekade setelah kejayaan mereka di Premier League.

Dampak yang merembet antara tim pria dan wanita – baik dari satu sisi maupun sebaliknya – akan menjadi faktor penting dalam menentukan masa depan klub ini.

Menurut Charlie Methven, mantan eksekutif di Sunderland dan Charlton Athletic, situasi tersebut bisa membuat para pemilik diam-diam berharap tim wanita juga terdegradasi dari kasta tertinggi, yaitu Women’s Super League (WSL).

Berbicara di podcast Business of Sport, Methven mengatakan: “Mereka ada di WSL, tetapi saat ini berada di posisi terbawah. Kalau saya jadi Top [Aiyawatt Srivaddhanaprabha, pemilik klub], saya mungkin akan berdoa agar mereka terdegradasi.”

Ia menambahkan: “Karena mempertahankan tim wanita di WSL sangat mahal dibandingkan jika mereka berada di divisi di bawahnya. Anda mungkin bicara soal kerugian sekitar lima juta, sementara di divisi bawah hanya rugi satu atau dua juta.”

Methven menyoroti bahwa mempertahankan operasi di level tertinggi di seluruh lini klub bisa menjadi beban besar. Dari tim wanita, akademi Kategori Satu, hingga fasilitas latihan elite, semuanya menuntut komitmen finansial jangka panjang.

Dalam konteks tersebut, tim wanita sayangnya menjadi bagian dari perhitungan biaya dan manfaat yang lebih luas.

Skenario di Leicester kini mulai menggemakan apa yang terjadi di Reading. Klub yang dulunya mapan di WSL itu terpaksa mundur dari Championship (sekarang WSL 2) pada tahun 2024 setelah dukungan keuangan dari tim pria berkurang drastis.

Mereka menurunkan diri dari level 2 ke level 5 karena tidak mampu memenuhi persyaratan wajib yang mencakup model latihan penuh waktu serta investasi dalam fasilitas dan staf.

Pernyataan resmi klub berbunyi: “Meskipun kami telah berusaha keras, kompleksitas kepemilikan terpisah membuat pengoperasian Reading FC Women di bawah model pendanaan terpisah menjadi tidak memungkinkan.”

Keruntuhan Reading menggambarkan betapa ketergantungan tim wanita terhadap kondisi keuangan dan prioritas tim pria masih sangat besar. Ketika dana menipis, sektor ini sering kali menjadi yang pertama dipangkas.

Methven memperingatkan bahwa situasi Leicester bisa menjadi lebih buruk. “Saya khawatir, saya benar-benar cemas,” katanya. “Saya benci melihat klub sepak bola menghadapi kesulitan finansial.”

“Saya melihat Leicester dan berpikir bahwa ini bisa lebih parah daripada dua kasus terburuk sebelumnya yang saya saksikan, yakni Derby County dan Bolton, yang keduanya hampir saja mengalami likuidasi dalam waktu singkat.”

Saat ini Leicester berada di posisi terbawah klasemen WSL, namun musim ini posisi tersebut tidak secara otomatis berarti degradasi.

Dengan adanya ekspansi liga, tim peringkat ke-12 akan menghadapi tim peringkat ketiga dari WSL 2 dalam laga play-off satu kali untuk menentukan nasib mereka.

Skuad asuhan Rick Passmoor tertinggal empat poin dari zona aman dengan empat pertandingan tersisa, sehingga tidak ada ruang untuk banyak kesalahan.

Leicester sempat menarik perhatian publik setelah mendatangkan Alisha Lehmann, pesepak bola wanita dengan jumlah pengikut terbanyak di media sosial, pada bulan Januari. Namun, kehadirannya belum mampu mengubah nasib tim yang tampaknya akan tetap berada di dasar klasemen.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.