TRIBUN-PAPUA.COM - Proses evakuasi pendulang emas korban serangan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka atau TPNPB-OPM di Distrik Awinbon, Pegunungan Bintang, Papua Pegunungan, terkendala medan yang berat.
Dalam serangan tersebut, setidaknya 10 orang pendulang emas tewas dan sejumlah korban selamat dilaporkan bersembunyi di hutan.
Kepala Operasi Damai Cartenz 2026 mengatakan, aparat gabungan terus berupaya melakukan evakuasi jenazah para korban tewas dan mencari pendulang emas yang menyelamatkan diri ke dalam hutan.
Baca juga: Penembakan 8 Pendulang Emas di Yahukimo: OPM Tuding Korban Aparat yang Menyamar, TNI Beri Bantahan
Tantangan geografis yang berat menjadi tantangan tersendiri untuk melakukan proses evakuasi.
Aparat gabungan bahkan harus membuka jalur baru atau babat hutan untuk menjangkau titik lokasi.
Untuk mempermudah mobilitas, pos aju sementara kini dipusatkan di Tanah Merah, Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan, yang memiliki akses lebih dekat menuju lokasi.
Serangan terhadap pendulang emas tersebut terjadi pada Senin (18/5/2026).
Kapolres Boven Digoel AKBP Wisnu Perdana Putra mengatakan serangan berawal saat lima orang terduga pelaku mendatangi Kamp Kali Fis, Kampung Kawe, Distrik Awinbon, dengan membawa parang dan busur.
Mereka awalnya meminta makan dan minum.
Baca juga: TPNPB Akui Bakar Gedung Sekolah dan Klaim Tembak 8 Warga Sipil di Yahukimo Papua Pegunungan
Namun, saat para korban sedang beristirahat, para pelaku melakukan penyerangan menggunakan senjata tajam yang mereka bawa.
“Saat itu para korban sedang berada di kamp bersama rekan-rekannya. Kelompok tersebut awalnya meminta makan dan minum serta meminta dibuatkan kopi. Namun, ketika para korban sedang beristirahat dan memperbaiki mesin penambangan, para pelaku diduga melakukan penyerangan menggunakan senjata tajam dan busur,” ujar Kapolres dalam keterangan resminya seperti dilansir Kompas.com.
Kapolres menyebut, pasca-penyerangan ini, masih ada sekitar 100 hingga 150 penambang yang berada di wilayah tersebut.
Pascapenyerangan ini, mereka rencananya akan dievakuasi ke Boven Digoel.
Aparat keamanan menduga aksi brutal ini dilakukan oleh OPM Batalyon Yamue di bawah pimpinan Ronald Hiluka alias Dejang Hiluka. (*)