Potensi Macet Parah di Jalan Daan Mogot Akibat Proyek Tata Air, Pemprov Diminta Siapkan Mitigasi
Satrio Sarwo Trengginas May 23, 2026 12:11 PM

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PSI, William Aditya Sarana, menyoroti potensi kemacetan parah akibat rekayasa lalu lintas dan penutupan sejumlah ruas Jalan Daan Mogot, Cengkareng, Jakarta Barat.

Penutupan jalan tersebut dilakukan seiring pengerjaan sistem tata air pompa yang tengah dikerjakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dan diperkirakan berlangsung hingga tahun depan.

Menurut William, Jalan Daan Mogot selama ini sudah dikenal sebagai salah satu ruas jalan dengan tingkat kepadatan lalu lintas yang tinggi.

Untuk itu, rekayasa lalu lintas yang diterapkan selama proyek berlangsung harus direncanakan secara matang.

"Tanpa adanya proyek-proyek yang mengakibatkan rekayasa lalu lintas dan penutupan-penutupan ini saja, Jalan Daan Mogot itu sudah terkenal macet. Masyarakat jadi menderita karena itu setiap kali melaluinya dari hari ke hari," kata William Sabtu (23/5/2026).

Ia mengingatkan, kemacetan akibat proyek tersebut memang sulit dihindari. 

Namun, dampaknya harus diminimalkan agar tidak semakin membebani aktivitas warga yang setiap hari melintasi kawasan tersebut.

"Oleh karena itu, rekayasa lalu lintas dan penutupan-penutupan jalan ini harus direncanakan secara serius dan dijalankan dengan baik. Pasti akan terjadi kemacetan, maka itu harus dimitigasi agar kemacetannya tidak menjadi terlalu parah. Apalagi, kalau berjalan sesuai dengan rencananya, penutupan tersebut bisa dilakukan hingga tahun depan," ujarnya.

William juga mendorong Pemprov DKI meningkatkan layanan transportasi umum selama masa pengerjaan proyek berlangsung.

Menurut dia, langkah tersebut dapat menjadi solusi bagi masyarakat untuk mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi.

Di sepanjang koridor Jalan Daan Mogot, kata William, sudah tersedia layanan Transjakarta maupun angkutan Jaklingko yang dapat dioptimalkan selama rekayasa lalu lintas diterapkan.

"Salah satunya, Pemprov DKI mungkin dapat meningkatkan frekuensi layanan transportasi umum. Di sepanjang Jalan Daan Mogot itu ada Transjakarta, kemudian ada angkot-angkot Jaklingko juga. Untuk sementara waktu pembangunannya berjalan, mungkin layanannya bisa ditambah," katanya.

Ia menilai peningkatan frekuensi transportasi umum penting agar masyarakat memiliki pilihan mobilitas yang memadai selama proyek berlangsung.

"Ini penting untuk memberikan masyarakat alternatif. Jangan sampai nanti warga hanya diminta untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi kalau tidak ingin macet-macetan, tetapi dari Pemprov DKI sendiri juga tidak ada solusinya," tutur William.

Selain itu, William meminta agar proyek pembangunan sistem tata air pompa tersebut dapat diselesaikan sesuai target waktu yang telah ditetapkan.

Menurutnya, rekayasa lalu lintas dan penutupan jalan tidak boleh berlangsung lebih lama dari yang direncanakan karena akan semakin mengganggu aktivitas masyarakat.

"Juga jangan sampai pengerjaannya berlarut-larut. Kalau memang hanya diperlukan sampai tahun depan, maka pelaksanaannya juga cukup sampai tahun depan saja. Rekayasa lalu lintas dan penutupan jalanan ini tidak dapat dilakukan terlalu lama," pungkasnya.

Berita terkait

  • Baca juga: PSI Desak Perhatian Pemprov: Dari 1000 Warga Jakarta, 22 di Antaranya Punya Masalah Mental
  • Baca juga: PSI Dorong Raperda Perlindungan Perempuan, Soroti KDRT dan Pelecehan Seksual di Jakarta
  • Baca juga: Politikus PSI Kritik Pemprov DKI soal Tawuran dan Balap Liar: Jangan Lembek Hadapi Kenakalan Remaja

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.