Sumatera Blackout: Jadi Pemadaman Terluas, Ini Kronologi Meluasnya Gangguan dari Jambi ke Aceh
Muhammad Hadi May 24, 2026 03:20 AM

SERAMBINEWS.COM – Jaringan kelistrikan di Pulau Sumatera mengalami kelumpuhan total (blackout) berskala besar yang berdampak pada jutaan pelanggan sejak Jumat (22/5/2026) malam pukul 18.44 WIB. 

Insiden mati lampu massal yang menyelimuti wilayah Jambi, Sumatera Barat, Riau, Sumatera Utara, hingga ujung Provinsi Aceh ini disebut-sebut sebagai salah satu gangguan kelistrikan dengan cakupan wilayah terluas dalam sejarah interkoneksi Sumatera.

Menyikapi krisis energi tersebut, Direktur Utama PT PLN (Persero), Darmawan Prasodjo, langsung menggelar konferensi pers resmi di Jakarta pada Sabtu (23/5/2026) pagi.

Dalam keterangannya, PLN membeberkan kronologi utuh mengenai penyebab teknis di lapangan serta garis waktu (timeline) pemulihan sistem yang dilakukan secara all outselama 24 jam non-stop.

Baca juga: 5 Fakta Blackout Sumatera, PLN Ungkap Penyebab Mati Listrik Massal hingga Aceh Ikut Terdampak

Awal Mula Gangguan

Berdasarkan indikasi awal yang dihimpun oleh tim teknis PLN di lapangan, titik rapuh yang menjadi pemicu utama petaka blackout ini berada di koridor transmisi tegangan tinggi wilayah Jambi.

Faktor cuaca buruk di kawasan tersebut disinyalir kuat menjadi penyebab utama rontoknya sistem pertahanan interkoneksi.

"Ada ruas transmisi 275 kafe (kV) antara Muara Bungo dan Sungai Rumbai di Jambi yang indikasi awalnya karena gangguan cuaca sehingga terjadi gangguan pada sistem transmisi tersebut dan sistem transmisi tersebut keluar dari sistem kelistrikan Sumatera," ungkap Darmawan Prasodjo dalam konferensi pers yang juga disiarkan secara langsung dari Jakarta, Sabtu (23/5/2026).

Sesaat setelah jalur transmisi krusial tersebut lepas dari sistem, PLN langsung bergerak cepat melaporkan situasi darurat ini kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) selaku regulator ketenagalistrikan nasional demi memitigasi dampak yang lebih luas.

Dampak Domino yang Melumpuhkan Seluruh Pembangkit

Keluar atau lepasnya jalur transmisi Muara Bungo – Sungai Rumbai ternyata langsung memberikan hantaman keras (syok) pada pembangkit-pembangkit listrik di wilayah sekitarnya.

Karena beban daya tiba-tiba hilang secara masif, ketidakseimbangan sistem yang sangat ekstrem pun tidak dapat terhindarkan lagi.

Darmawan menjelaskan, ketidakseimbangan ini memicu terjadinya dua fenomena teknis yang fatal secara bersamaan di wilayah yang berbeda.

Di satu area, hilangnya beban menyebabkan terjadinya kelebihan pasokan daya (over supply) yang membuat frekuensi dan tegangan listrik melonjak drastis terlampau tinggi.

Baca juga: Daftar Wilayah Terdampak Blackout Sumatera, Listrik Padam Berjam-jam dari Aceh hingga Riau

Kondisi ini memaksa sistem proteksi pembangkit mati secara otomatis (trip) demi mencegah kerusakan fatal pada mesin.

Sementara di area lain, pasokan justru mengalami defisit akibat berkurangnya pasokan secara mendadak.

Hal tersebut membuat frekuensi dan voltase merosot tampak tajam, membebani pembangkit yang tersisa, hingga akhirnya ikut lepas dari sistem dan padam total.

"Dan kami menyampaikan kondisi ini ternyata berlaku domino sehingga terjadi gangguan sistem ketenaga listrikan dari Jambi, Riau, Sumatera Utara sampai ke Aceh. Dan ini adalah gangguan kelistrikan yang cukup luas di wilayah Sumatera," papar Darmawan mendetail.

PLN mengakui bahwa listrik merupakan urusan vital yang menyangkut hajat hidup orang banyak, mulai dari fasilitas publik, objek vital negara, sektor rumah tangga, hingga aktivitas ekonomi masyarakat.

Oleh karena itu, manajemen menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan massal ini.

Gardu Induk Pulih Cepat, Mengapa Penormalan Butuh Waktu?

Pascainsiden, PLN langsung mengerahkan seluruh kekuatan tim demi melakukan asesmen menyeluruh terhadap infrastruktur fisik.

Beruntung, dalam kurun waktu sekitar dua jam setelah kejadian, seluruh sistem transmisi dan Gardu Induk (GI) berhasil dialiri tegangan kembali.

Darmawan menegaskan situasi blackout kali ini sangat berbeda dengan tragedi padamnya listrik Sumatera di masa lalu yang disebabkan oleh robohnya tower transmisi akibat bencana alam.

Kali ini, tidak ada kerusakan fisik yang berarti pada aset gardu maupun tower milik PLN.

Baca juga: PLN Terjunkan Ratusan Personel ke Lapangan, Pemulihan Listrik Aceh Dikebut

Meski jalur transmisi utama sudah aman, tantangan terbesar berikutnya adalah menyalakan kembali (restart) pembangkit-pembangkit listrik yang mati akibat efek domino tersebut.

Proses ini memakan waktu yang bervariasi tergantung jenis energi yang digunakan oleh masing-masing pembangkit:

Darmawan mengatakan, untuk jenis Pembangkit Hidro (PLTA) dan Gas (PLTG) proses menyalakan, menyambungkan, hingga sinkronisasi ke sistem transmisi dapat berjalan jauh lebih cepat, dengan estimasi waktu berkisar antara 5 hingga 15 jam.

Sementara jenis Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batubara memerlukan waktu penormalan yang jauh lebih panjang, berkisar antara 15 hingga 20 jam.

Hal ini disebabkan karena operator harus memanaskan air menjadi uap secara bertahap dan menyalakan unit penyokong (auxiliary) satu per satu dengan presisi tinggi sebelum bisa disinkronkan kembali ke jaringan interkoneksi.

Komitmen Evaluasi Total dan Penguatan Sistem Sumatera

Hingga Minggu (24/5/2026), tim teknis PLN di lapangan dilaporkan masih terus bekerja tanpa tidur selama 24 jam demi memantau proses penyalaan pembangkit-pembangkit sisa, khususnya PLTU batubara.

Koordinasi intensif terus dijaga, baik secara internal bersama manajer pembangkit di Pekanbaru maupun eksternal bersama Kementerian ESDM dan jajaran Forkopimda di tiap wilayah terdampak.

Darmawan Prasodjo menegaskan bahwa PLN bersama Kementerian ESDM berkomitmen penuh untuk melakukan evaluasi secara komprehensif pasca-pemulihan penuh. 

Langkah strategis dan teknis ini diambil demi memperkuat sekaligus meningkatkan keandalan sistem kelistrikan interkoneksi Sumatera secara menyeluruh agar insiden pemadaman meluas seperti ini tidak kembali terulang di masa depan.

"Kami berkomitmen untuk melakukan evaluasi secara komprehensif untuk memperkuat sistem kelistrikan Sumatera, agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi di masa mendatang. Kami sekali lagi memberikan upaya yang terbaik, mengerahkan seluruh kekuatan yang kami punya dan kami terus siaga agar sistem kelistrikan bisa segera pulih kembali," tegas Darmawan.

(Serambinews.com/Yeni Hardika)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.