Waspada! Kasus Suspek DBD Mendominasi Layanan RSUD Soedarso Pontianak Sepanjang 2026
Faiz Iqbal Maulid May 24, 2026 06:27 AM

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) telah menjadi perhatian khusus sepanjang tahun 2026 di Kalimantan Barat.

Hal itu terlihat di RSUD dr Soedarso Pontianak yang telah menangani kasus suspek 67 pasien sejak Januari 2026 hingga Mei 2026.

“Pada Minggu Epidemiologi ke-18 Tahun 2026, penyakit berpotensi wabah yang mendapat perhatian di RSUD dr Soedarso adalah Suspek Dengue, Diare Akut, Pneumonia, ISPA, Suspek Campak, GHPR, dan Suspek Meningitis/Ensefalitis,” ujar Direktur RSUD dr Soedarso, drg Hary Agung Tjahyadi, Jumat 22 Mei 2026.

Kasus tertinggi kata drg Hary Agung terjadi pada Januari 2026 dengan total 22 pasien, disusul Februari sebanyak 15 pasien, Maret sembilan pasien, April 13 pasien dan Mei delapan pasien.

Menurut Hary Agung, tingginya kasus demam berdarah dengue harus menjadi perhatian serius seluruh pihak karena penyakit tersebut berpotensi menimbulkan komplikasi, terutama pada pasien dengan penyakit penyerta.

RSUD dr Soedarso Perkuat IPC

Karena itu, RSUD dr Soedarso terus memperkuat sistem pencegahan dan pengendalian infeksi di lingkungan rumah sakit melalui pendekatan Infection Prevention and Control (IPC) yang komprehensif.

“Pencegahan penularan di rumah sakit harus dilakukan melalui pendekatan IPC yang komprehensif, didukung kesiapan logistik, SDM, ruang isolasi, dan sistem surveilans aktif,” katanya.

• Hingga Mei 2026, RSUD dr Soedarso Telah Tangani 67 Pasien DBD

Ia menjelaskan kesiapan rumah sakit menjadi faktor penting dalam menghadapi peningkatan kasus penyakit menular agar keselamatan pasien, tenaga kesehatan maupun masyarakat tetap terjaga.

“Kesiapan rumah sakit dalam menghadapi peningkatan kasus penyakit menular merupakan komponen penting dalam menjaga keselamatan pasien, tenaga kesehatan, dan masyarakat luas,” tegasnya.

RSUD dr Soedarso juga terus melakukan penguatan layanan mulai dari kesiapan tenaga medis, ruang observasi, kapasitas tempat tidur pasien hingga penguatan pemeriksaan laboratorium untuk mendukung penanganan dini kasus dengue.

Selain itu, pengendalian vektor dan edukasi kepada tenaga kesehatan mengenai tata laksana dini serta pencegahan komplikasi terus dilakukan sebagai bagian dari kesiapsiagaan rumah sakit.

Hary Agung menambahkan, pengendalian penyakit menular tidak dapat dilakukan sendiri oleh rumah sakit, melainkan membutuhkan dukungan berbagai pihak secara bersama-sama.

“Pendekatan multidisiplin dan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama keberhasilan pengendalian penyakit menular,” pungkasnya.

• Dinkes Kalbar Catat 970 Kasus DBD Sepanjang 2026, Empat Orang Meninggal

179 Korban DBD di Kapuas Hulu Sepanjang 2026

Kasus DBD masif terjadi di Kabupaten Kapuas Hulu.

Sepanjang 2026, sebanyak 179 orang yang menjadi korban penyakit DBD gigitan nyamuk.

Jumlah tersebut tersebar di sejumlah Kecamatan.

Berdasarkan data kasus terbanyak DBD di Kecamatan Putussibau Utara mencapai 36 kasus, banyak kedua ada berada Kecamatan Bunut Hulu 25 kasus, dan ketiga di Kecamatan Putussibau Selatan 21 kasus.

Sisanya terbesar di Kecamatan Semitau 15 kasus, Embaloh Hilir 14 kasus, Batang Lupar 14 kasus, Selimbau 11 kasus, Empanang 8 kasus, Kalis 6 kasus, Mentebah 4 kasus, Bunut Hilir 4 kasus.

Lalu Kecamatan Hulu Gurung 7 kasus, Suhaid 6 kasus (satu orang meninggal dunia), Seberuang 2 kasus, Pengkadan 1 kasus, Silat Hulu 1 kasus, silat Hilir 1 kasus, Jongkong 1 kasus, dan Embaloh Hulu 1 kasus. 

Cara Mencegah DBD

1. 3M Plus: Menguras, Menutup, Mengubur barang bekas + menggunakan lotion anti nyamuk, kelambu, kawat nyamuk.

2. Fogging di daerah rawan bila diperlukan.

3. Vaksinasi dengue tersedia untuk anak usia 9–16 tahun di daerah endemis.

4. Menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari genangan air.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.