Liverpool dan Manchester United Alami Pembalikan Nasib Spektakuler di Liga Premier
Hendra Wijaya May 25, 2026 11:48 AM

Dua belas bulan berselang, tabel klasemen menyajikan kisah yang pada saat itu akan terasa mustahil bagi siapa pun.

Pembalikan peran yang luar biasa antara Liverpool dan Manchester United kini menjadi sorotan utama.

Grafik statistik memperlihatkan segalanya. Perubahan poin Liverpool sebesar -24 dari musim 2024-25 ke 2025-26 menjadi salah satu yang terburuk di antara seluruh klub Liga Premier musim ini.

Sementara itu, Manchester United mencatat lonjakan +29 poin, yang merupakan peningkatan terbaik di liga. Jika keduanya digabungkan, terdapat selisih mencolok 53 poin antara dua klub tersukses dalam sejarah sepak bola Inggris — sebuah perubahan nasib yang jarang terjadi di era modern olahraga ini.

Musim lalu, Liverpool menjuarai liga dengan torehan 84 poin. Mohamed Salah menjadi pencetak gol terbanyak di kompetisi tersebut.

Skuad asuhan Arne Slot menjadi kisah dominan sepanjang musim itu. Namun musim ini, mereka terseok-seok hingga akhir kompetisi dengan hanya mengumpulkan 60 poin, finis di peringkat kelima, dan lolos ke Liga Champions hanya karena unggul selisih gol di pekan-pekan terakhir.

Perjalanan Manchester United justru berjalan ke arah yang berlawanan.

Setelah menutup musim 2024-25 di posisi ke-15 dengan hanya 42 poin — posisi liga terendah sejak 1989-90 dan perolehan poin terburuk sejak sistem tiga poin untuk kemenangan diterapkan — mereka kini menutup musim di peringkat ketiga dengan 71 poin, kembali ke Liga Champions.

Bagaimana Michael Carrick membalikkan keadaan di Manchester United dan mengapa Liverpool justru terpuruk menjadi dua sisi cerita yang sangat kontras.

Faktor terbesar dalam transformasi United adalah penunjukan Michael Carrick pada 13 Januari.

Didatangkan untuk menggantikan Ruben Amorim yang dipecat, mantan gelandang United itu langsung bergerak cepat.

Ia memenangkan 11 dari 16 pertandingan liga yang dipimpinnya — lebih banyak poin dibandingkan pelatih mana pun dalam periode tersebut — termasuk kemenangan atas Arsenal, Manchester City, Liverpool, dan Chelsea.

Para pendukung United yang sempat khawatir dengan ancaman degradasi 18 bulan lalu kini melihat klub mereka kembali ke Liga Champions dengan sisa beberapa pertandingan di tangan.

Sementara itu, penurunan performa Liverpool jauh lebih sulit dijelaskan. Skuad yang mendominasi liga setahun lalu gagal tampil dengan intensitas yang sama, meskipun klub tersebut telah menghabiskan setengah miliar poundsterling di bursa transfer musim panas.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.