TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kulon Progo meminta masyarakat bijak saat menggunakan kemasan plastik untuk membungkus daging kurban Iduladha. Surat Edaran (SE) pun telah dibuat sebagai imbauan resmi.
Kepala Bidang Pengelolaan dan Pengembangan Persampahan dan Pertamanan, DLH Kulon Progo, Ade Wahyudiyanto mengatakan SE itu ditandatangani langsung oleh Bupati Kulon Progo Agung Setyawan.
"SE Nomor 600.4.1/1166/2026 itu isinya tentang Pelaksanaan Hari Raya Iduladha Tanpa Plastik," kata Ade pada wartawan, Senin (25/05/2026).
Inti dari SE itu salah satunya adalah mengimbau panitia kurban Iduladha dan masyarakat agar tak menggunakan plastik saat distribusi daging kurban. Sebab penggunaan plastik berpotensi membuat timbulan sampah baru.
Imbauan tersebut bukanlah yang baru karena sudah diterapkan saat Iduladha 2025 lalu.
Namun Ade mengatakan di Iduladha ini, imbauan lebih dipertegas sejak adanya Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 43 Tahun 2025 yang isinya tentang Pembatasan Kantong Plastik.
"Adanya Perbup tersebut membuat imbauan pengurangan sampah plastik menjadi lebih masif dan dapat diukur perkembangannya," ujarnya.
Ade mengatakan penggunaan plastik tak hanya menambah timbulan sampah, tapi juga bisa berdampak negatif pada tubuh.
Apalagi kemasan plastik yang tidak dikhususkan untuk wadah daging, yang mana memiliki kandungan karsinogenik dan bisa masuk ke dalam tubuh manusia.
Baca juga: Bukan Mistis, Ini Fakta di Balik Misteri Rumah di Sleman yang Alami 11 Kali Kebakaran Beruntun
Ia pun melihat Iduladha tahun ini jadi momentum yang tepat untuk lebih mengoptimalkan pengurangan sampah plastik. Salah satunya karena harga bahan plastik sedang mahal.
"Kondisi itu bisa menjadi pemantik masyarakat agar mulai beralih ke wadah yang lebih ramah lingkungan," jelas Ade.
Salah satu wilayah di Kulon Progo yang memilih kemasan ramah lingkungan untuk daging kurban adalah Padukuhan Kopat, Kalurahan Karangsari, Kapanewon Pengasih.
Pengurus Masjid Al-Ikhlas Kopat, Saleh Riyadi menyebut warga memakai kemasan berupa anyaman daun kelapa dan daun jati.
Anyaman itu disebut sebagai Dekon atau Sarangan.
Menurutnya, bahan tersebut sebenarnya sudah menjadi kemasan daging kurban sejak dulu, namun perlahan warga beralih ke kemasan plastik.
"Tradisi itu yang coba kami hidupkan dan lestarikan kembali sejak 2025 lalu," kata Saleh.(alx)