Fakta-fakta Insiden Penembakan di Gedung Putih: Trump Ada di Dalam Bahas Iran, Pelaku Tewas
Putra Dewangga Candra Seta May 25, 2026 01:49 PM

 

SURYA.co.id – Ketegangan mendadak menyelimuti kawasan Gedung Putih, Sabtu (23/5/2026) malam waktu setempat, setelah seorang pria bersenjata melepaskan tembakan ke arah petugas Secret Service di perimeter luar kompleks kepresidenan Amerika Serikat.

Insiden tersebut berakhir dengan tewasnya pelaku setelah baku tembak singkat terjadi di lokasi.

Peristiwa itu juga menyebabkan seorang warga sipil terluka akibat terkena tembakan.

Korban langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan medis.

Hingga kini, otoritas belum mengungkap kondisi terbaru korban maupun identitas lengkapnya.

Insiden terjadi saat Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan berada di dalam Gedung Putih untuk mematangkan pembahasan negosiasi kesepakatan dengan Iran.

Situasi tersebut membuat aparat keamanan bergerak cepat untuk memastikan tidak ada ancaman yang berhasil menembus area inti perlindungan presiden.

MENCAK-MENCAK - Foto Donald Trump yang diambil dari Facebook The White House pada Selasa (17/6/2025), Trump baru-baru ini murka karena militer Iran dikabarkan masih kuat.
MENCAK-MENCAK - Foto Donald Trump yang diambil dari Facebook The White House pada Selasa (17/6/2025), Trump baru-baru ini murka karena militer Iran dikabarkan masih kuat. (Facebook The White House)

Menurut keterangan resmi Secret Service, pelaku mendekati pos pemeriksaan keamanan di sisi barat kompleks Gedung Putih sebelum akhirnya melepaskan tembakan ke arah petugas yang berjaga.

Pembawa acara Fox News, Bret Baier, yang mengutip pejabat senior pemerintahan, menyebut pelaku sempat menembakkan senjata sebanyak tiga kali sebelum dibalas oleh agen Secret Service.

"Petugas polisi Secret Service membalas tembakan, mengenai tersangka, yang kemudian dibawa ke rumah sakit setempat, di mana ia kemudian tewas," tulis pernyataan resmi Secret Service, dikutip dari AFP, Minggu (24/5/2026).

Meski sempat memicu kepanikan besar di sekitar Gedung Putih, aparat memastikan pelaku tidak berhasil menerobos perimeter utama pertahanan presiden.

Saksi Mata Sebut Suara Tembakan Mirip Kembang Api

Sejumlah saksi mata menggambarkan suasana panik ketika suara tembakan mulai terdengar beruntun di sekitar lokasi kejadian.

Banyak pengunjung dan wisatawan berlarian mencari perlindungan setelah menyadari situasi yang sebenarnya.

Seorang turis asal Kanada bernama Reid Adrian mengaku sempat mengira suara keras tersebut berasal dari pesta kembang api.

"Kami mendengar sekitar 20 hingga 25 suara yang terdengar seperti kembang api, tetapi itu adalah tembakan, kemudian semua orang mulai berlari," kata Adrian.

Baca juga: Alasan Mojtaba Khamenei Ogah Turuti Trump untuk Keluarkan Uranium dari Iran

Kepanikan juga merambat hingga ke area dalam kompleks Gedung Putih. 

Para jurnalis yang sedang berada di halaman utara dilaporkan langsung diperintahkan aparat keamanan untuk masuk dan berlindung di ruang konferensi pers.

Koresponden ABC News, Selina Wang, bahkan sempat merekam suasana mencekam saat dirinya harus merunduk di tanah untuk menghindari tembakan.

"Kedengarannya seperti puluhan tembakan," tulis Wang melalui akun X miliknya.

FBI dan Garda Nasional Turun Tangan

MEMANAS - Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan pernyataan keras terhadap Iran setelah menolak proposal damai dari Teheran. Ketegangan kedua negara memicu kekhawatiran dunia terhadap konflik baru di Timur Tengah dan dampaknya pada harga minyak global.
MEMANAS - Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan pernyataan keras terhadap Iran setelah menolak proposal damai dari Teheran. Ketegangan kedua negara memicu kekhawatiran dunia terhadap konflik baru di Timur Tengah dan dampaknya pada harga minyak global. (Surya.co.id/Via Kompas.com)

Pasca-insiden, aparat kepolisian bersama Garda Nasional langsung menutup akses menuju kawasan Gedung Putih untuk mencegah potensi ancaman lanjutan.

Pengamanan diperketat di sejumlah titik strategis di sekitar pusat pemerintahan Amerika Serikat tersebut.

Federal Bureau of Investigation atau FBI kini turut membantu proses investigasi bersama Secret Service guna mengungkap motif pelaku.

"FBI berada di lokasi kejadian dan mendukung Dinas Rahasia dalam menanggapi tembakan yang terjadi di dekat halaman Gedung Putih," tegas Direktur FBI Kash Patel melalui unggahan di media sosial X.

Hingga Minggu (24/5/2026), aparat keamanan federal masih mengumpulkan informasi terkait identitas pelaku, latar belakang, hingga kemungkinan motif serangan bersenjata tersebut.

Insiden ini kembali menyoroti tingginya tingkat ancaman keamanan di sekitar Gedung Putih, terutama ketika presiden sedang menjalankan agenda strategis berskala internasional.

Meski pelaku gagal memasuki area inti, kejadian tersebut menunjukkan bahwa perimeter luar Gedung Putih tetap menjadi titik rawan yang membutuhkan pengawasan ketat setiap saat.

Respons cepat Secret Service dinilai berhasil mencegah situasi berkembang menjadi ancaman yang lebih besar.

Namun, peristiwa ini diperkirakan akan memicu evaluasi ulang terhadap sistem keamanan perimeter luar Gedung Putih, termasuk prosedur pemeriksaan dan kesiapsiagaan personel di lapangan.

Penembakan di Jamuan Makan Gedung Putih

Sebelumnya, Insiden penembakan juga mengguncang acara bergengsi White House Correspondents' Dinner di Washington, Sabtu (25/4/2026).

Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersama Ibu Negara Melania Trump terpaksa dievakuasi setelah terdengar suara tembakan di lokasi.

Peristiwa mencekam itu terjadi saat Trump dan Melania tengah berbincang di ballroom Washington Hilton.

Tiba-tiba, suasana berubah tegang setelah terdengar dentuman keras dari area sekitar.

Beberapa anggota Dinas Rahasia AS langsung bergerak cepat mengamankan presiden.

"Tetap tiarap, tetap tiarap," teriak anggota Dinas Rahasia AS kepada para tamu undangan, dikutip SURYA.co.id dari Kompas.com.

Para tamu yang terdiri dari pejabat tinggi, jurnalis, hingga selebritas pun panik dan bersembunyi di bawah meja.

Dinas Rahasia AS memastikan Presiden Trump, Ibu Negara, serta seluruh pihak yang dilindungi berada dalam kondisi aman.

Penembakan terjadi di area skrining keamanan di luar ruang makan utama.

Saat itu, Trump berada di panggung bersama Wakil Presiden JD Vance, serta sejumlah pejabat kabinet seperti Marco Rubio dan Pete Hegseth.

Seorang tamu, Erin Thielman, veteran militer, mengaku mendengar tiga dentuman keras yang diyakininya sebagai tembakan.

Ia juga melihat seorang pria jatuh tersungkur sambil membawa sesuatu yang tampak seperti senapan dan magasin.

Tak lama kemudian, petugas keamanan terlihat mengeluarkan senjata mereka.

Dalam konferensi pers usai kejadian, Trump mengungkap kronologi awal insiden.

“Pria itu dilumpuhkan oleh beberapa anggota Secret Service yang sangat berani," kata Trump. dikutip dari Kompas.com.

“Ruangan itu sangat, sangat aman. Dia menyerang dari jarak 50 yard (sekitar 45 meter), jadi dia sangat jauh dari ruangan.”

Trump juga mengungkap seorang petugas sempat tertembak, namun selamat berkat rompi antipeluru.

“Dia ditembak dari jarak yang sangat dekat dengan senjata yang sangat kuat, dan rompi anti peluru itu berhasil melindunginya,” ujarnya.

Saat ditanya apakah dirinya menjadi target, Trump mengiyakan.

“Kurasa begitu.” ujarnya.

Pelaku penembakan berhasil ditangkap di lokasi. Dalam unggahan di Truth Social, Trump menyatakan:

“Dinas Rahasia dan Penegak Hukum melakukan pekerjaan yang fantastis. Mereka bertindak cepat dan berani. Pelaku penembakan telah ditangkap.”

Menurut laporan, tersangka adalah pria berusia 31 tahun bernama Cole Tomas Allen asal California.

Saat ini, Federal Bureau of Investigation (FBI) tengah memeriksa balistik, senjata api laras panjang, serta mewawancarai para saksi untuk mendalami motif penyerangan.

Trump menegaskan bahwa insiden tersebut seharusnya menjadi momentum persatuan nasional.

“Saya meminta agar seluruh warga Amerika berkomitmen kembali dengan sepenuh hati dan menyelesaikan perbedaan kita secara damai,” katanya.

“Kita harus menyelesaikan perbedaan kita. Saya akan mengatakan bahwa ada Republikan, Demokrat, independen, konservatif, liberal, dan progresif. Kata-kata itu dapat saling menggantikan.”

Ia juga menyoroti bahwa acara tersebut sejatinya didedikasikan untuk kebebasan berbicara dan menjadi ruang pertemuan lintas kelompok.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.