TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - PSIM Yogyakarta kembali mendapat titik terang terkait peluang untuk kembali 'pulang' ke Stadion Mandala Krida.
Seperti diketahui, selama ini PSIM Yogyakarta bisa dikatakan sebagai tim 'musafir" lantaran belum bisa menggunakan Stadion Mandala Krida sebagai homebase di kompetisi Super League.
Laskar Mataram selama ini menggunakan Stadion Sultan Agung (SSA) Bantul untuk menggelar laga kandang, bahkan sejak PSIM Yogyakarta berlaga di Liga 2 pada musim sebelumnya.
Harapan PSIM Yogyakarta dan para suporter untuk kembali pulang ke Stadion Mandala Krida pun kembali mendapat angin segar.
Peluang itu kembali terbuka setelah Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X dan Wali Kota Yogyakarta buka suara terkait status Stadion Mandala Krida.
Meski demikian, pihak manajemen klub PSIM Yogyakarta juga menyiapkan langkah alternatif apabila PSIM Yogyakarta belum bisa menggunakan Stadion Mandala Krida sebagai homebase di kompetisi musim depan.
Termasuk menyiapkan anggaran perbaikan untuk menambah sarana pelengkap di Stadion Sultan Agung (SSA) Bantul sebagai kandang alternatif.
Saat ditemui di Lapangan Padel Wii Social Hub, Yogyakarta, Minggu (24/5/2026) malam, Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X memberi sinyal kuat bahwa Stadion Mandala Krida dapat kembali digunakan oleh PSIM Yogyakarta sebagai kandang di Super League musim depan.
Sri Sultan menyebut persoalan hukum yang selama ini membayangi stadion tersebut telah selesai.
Sehingga, Laskar Mataram berpeluang mengakhiri status sebagai tim musafir.
“Saya kira sudah dimungkinkan sepertinya, karena aspek hukumnya sudah selesai. Kan menunggu mereka naik banding pada waktu itu. Jadi, saya kira sudah selesai itu. Kalau begitu selesai kan, sebetulnya sudah bisa digunakan,” ujar Sri Sultan HB X.
Saat dipertegas terkait status hukum Stadion Mandala Krida, Sri Sultan HB X kembali menegaskan bahwa stadion tersebut kini aman untuk digunakan kembali.
“Iya. Sepertinya sudah, ya. Karena ndak ada aspek hukumnya sudah, sudah putus, sudah ndak ada lagi,” tegasnya.
Baca juga: Alasan Van Gastel Perpanjang Kontrak Bersama PSIM Yogyakarta: Klub Ini Punya Jiwa
Sebelumnya, Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, juga mengungkapkan adanya titik terang terkait status Stadion Mandala Krida.
Hasto mengatakan pemerintah daerah kini memiliki keleluasaan untuk melakukan perbaikan fisik stadion.
Menurutnya, setelah tersandung kasus korupsi, bangunan stadion sebelumnya berstatus barang bukti sitaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), sehingga tidak bisa disentuh untuk renovasi.
“Saya mendapat kabar baik bahwa proses yang terkait dengan masalah hukum untuk fisik, informasinya sudah ada titik terang. Sehingga harapan saya bisa lebih dipercepat pembangunan sarana itu,” ujar Hasto di Stadion Sultan Agung, Bantul, Minggu (17/5/2026) lalu.
Ia menjelaskan, pemerintah kini bisa mulai melakukan rekonstruksi maupun perbaikan fasilitas penunjang stadion karena status sitaan tersebut telah berubah.
“Kalau dulu kan gedung atau bangunan itu masih menjadi barang bukti bagi KPK yang tidak boleh diubah-ubah. Kalau sekarang saya dengar sudah bisa dilakukan, katakanlah seperti rekonstruksi atau mungkin perbaikan di sana-sini karena sudah tidak disita sebagai barang bukti,” imbuhnya.
Salah satu syarat utama agar Mandala Krida lolos verifikasi sebagai homebase Super League adalah kelayakan pencahayaan stadion dan penambahan kursi single seat.
Karena itu, Hasto menegaskan pihaknya akan memprioritaskan pengadaan lampu stadion dengan skema terpisah dari bangunan utama agar tidak terkendala administrasi.
“Kalau seandainya lampu itu bisa terpisah dengan gedung, saya akan berusaha bagaimana lampu bisa diwujudkan, yang tidak harus bersentuhan dengan bangunan,” tandasnya.
Manajemen klub PSIM Yogyakarta hingga suporter Laskar Mataram juga menaruh harapan besar agar tim kebanggaan warga Kota Yogyakarta itu bisa segera kembali ke Stadion Mandala Krida.
Direktur Utama PSIM Yogyakarta, Yuliana Tasno, juga mengonfirmasi bahwa kepulangan PSIM Yogyakarta ke Mandala Krida masih harus tertunda.
Meskipun, wacana tersebut telah mendapat dukungan dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Yogyakarta.
"Sudah didukung oleh teman-teman dari DPRD setempat juga untuk dianggarkan. Jadi nanti kita tunggu saja bagaimana dan kita dukunglah secara penuh. Karena kita dari manajemen juga maunya kembali ke rumah sesungguhnya (Stadion Mandala Krida). Maunya kan gitu ya. Karena di sana (Stadion Mandala Krida) juga bagaimanapun juga kita ada cost transportasi dan lain-lain, pasti kan lebih dekat. Kita juga pasti untuk teman-teman pecinta PSIM juga lebih dekat. Kita tahu kok bagaimana, apa namanya, kerinduannya teman-teman untuk pulang ke rumah. Kita doakanlah sama-sama. Kita bantu doa saja," ungkap Liana ditemui di sela laga PSIM Yogyakarta kontra Madura United, Minggu (17/5/2026) malam di Stadion Sultan Agung (SSA) Bantul.
Namun, ketika ditanya mengenai estimasi pasti kapan tim bisa kembali berlaga di stadion bersejarah tersebut, Liana bersikap realistis.
"Saya kurang tahu ya. Cuman kayaknya kalau untuk benar-benar musim depan itu belum bisa," tegasnya.
Merespons situasi tersebut, manajemen klub PSIM Yogyakarta mengambil langkah cepat dengan menyiapkan anggaran khusus yang bernilai besar.
Anggaran tersebut dialokasikan untuk membenahi fasilitas di Stadion Sultan Agung (SSA) Bantul, demi memenuhi standar lisensi kompetisi.
Menghadapi kenyataan birokrasi dan proses penganggaran infrastruktur pemerintah yang membutuhkan waktu, manajemen PSIM Yogyakarta tidak tinggal diam.
Klub berjuluk Laskar Mataram menginisiasi penganggaran mandiri guna memperbaiki Stadion Sultan Agung Bantul yang saat ini menjadi homebase alternatif mereka.
Pembenahan difokuskan pada penambahan lampu, perawatan rumput, hingga pengadaan kursi tunggal (single seat).
"Jadi karena kan mereka harus melalui proses administratif, penganggaran, dan lain-lain. Tapi kalau dari klub, karena komitmen penuh kita cinta dengan klub ini dari manajemen, kita sudah menganggarkan khusus untuk penambahan lampu sesuai dengan lux yang ditentukan oleh operator Liga dan juga PSSI gitu. Dan juga rumput ini juga kita rawat, kita perbaiki, dan kita anggarkan. Dan itu besar, anggarannya besar, besar sekali gitu. Dan kita juga menganggarkan sendiri penambahan bangku single seat gitu kan ya. Kita penganggaran sendiri dari klub. Kita lakukan apapun, pokoknya buat PSIM Jogja yang terbaik. Kita komitmen untuk melakukan itu," urai Liana merinci keseriusan manajemen.
Langkah masif ini diambil bukan tanpa alasan kuat. Liana menekankan bahwa kelengkapan fasilitas stadion berhubungan langsung dengan aspek lisensi klub profesional.
"Karena kenapa? Karena itu kaitannya dengan licensing," jelasnya.
Terkait perbaikan rumput, Liana juga telah melakukan tinjauan langsung.
"Kalau masalah rumput gini, saya kebetulan ngobrol juga sama tukang rumput. Ini karena kelamaan sudah gak dipakai, jadinya udah nyampur sama alang-alang yang gitu-gitu ya. Jadi ini kalau mau, harus diganti, benar-benar diganti. Nah, itu sudah tugasnya pemerintah. Jadi ini kan bukan punya kita sendiri," tambahnya.
Meski klub mengucurkan dana besar, Liana memastikan bahwa Pemerintah Kota (Pemkot) juga terus bergerak dan menunjukkan iktikad baik dalam mendukung PSIM. Ia menampik anggapan bahwa pemerintah lamban.
"Pemerintah itu benar-benar bergerak dalam artian, kemarin itu pas kita masih puasa yang kemarin, benar-benar baru kemarin itu, Pemkot mengadakan buka puasa bersama dengan PSIM dan stakeholder yang berkepentingan untuk pengadaan anggaran tersebut. Nah, di situ Pak Wali (Hasto Wardoyo) mengajak untuk sama-sama berkolaborasi dan bersinergi untuk pemasangan lampu ini. Jadi, luar biasa sekali sih effort-nya dari pemerintah kota. Saya sangat berterima kasih, tapi saya harapannya adalah betul-betul bisa direalisasikan," ujar Liana.
( tribunjogja.com/ mur )