Kepatuhan pada jadwal dan pengaturan yang telah ditetapkan adalah bagian dari menjaga keselamatan jamaah sekaligus tetap dalam koridor syariat,

Jakarta (ANTARA) - Musyrif Dini Haji 2026 Asrorun Niam Sholeh mengajak jamaah untuk mempersiapkan diri secara optimal menghadapi puncak ibadah haji, yaitu wukuf di Arafah pada 9 Zulhijah dengan memperbanyak amalan seperti doa, zikir, hingga baca Al Quran.

“Hari Arafah adalah hari yang mustajab di tempat yang mustajab. Sebaik-baik doa adalah doa di Hari Arafah. Gunakan waktu tersebut untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memohon ampun atas kesalahan, baik kepada Allah maupun kepada sesama,” ujar Asrorun Niam dalam keterangannya di Jakarta, Senin.

Ia menjelaskan hari ini, 8 Zulhijah, jamaah akan mulai bergerak secara bertahap menuju Arafah. Kementerian Haji dan Umrah RI telah mengatur keberangkatan secara berangsur agar jamaah dapat tiba tepat waktu tanpa ada yang tertinggal.

Menurutnya, wukuf di Arafah adalah rukun utama dalam ibadah haji. Tanpa kehadiran fisik di Arafah pada tanggal tersebut, ibadah haji tidak sah. Karena itu, perlu kesiapan fisik dan mental yang matang.

Setelah wukuf di Arafah, jamaah akan melanjutkan perjalanan ke Muzdalifah untuk mabit, kemudian bergerak ke Mina guna melaksanakan lempar jumrah Aqabah dan mabit selama dua atau tiga hari disertai dengan lontar jumrah ula, wustha, dan aqabah.

Secara khusus Asrorun Niam mengapresiasi atas perbaikan skema pergerakan jamaah haji pasca Arafah, yang sejalan dengan prinsip syariah, mempertimbangkan menjaga agama (hifzhud din) dan menjaga jiwa (hifzhun nafs).

Pergerakan jamaah dari Arafah dikelompokkan menjadi tiga yakni jamaah yang bergerak dari Arafah pukul 19.00 WAS menuju Muzdalifah, akan turun dan berada di Muzdalifah hingga tengah malam untuk mabit setelah itu bergerak ke Mina naik bus.

Kedua, jamaah yang bergerak dari Mina pukul 23.00 WAS dan sampai Muzdalifah sudah lewat tengah malam, maka mabit di Muzdalifah di atas bus lanjut ke Mina.

“Ketiga, jamaah yang ada udzur syari, seperti kondisi sakit, bergerak dari Arafah langsung ke Mina. Pengaturan ini sejalan dengan prinsip kemaslahatan yang tetap berada dalam koridor ketentuan syariah,” ujar Guru Besar Bidang Fikih tersebut.

Di samping itu, Asrorun Niam juga mengingatkan jamaah terkait waktu pelemparan jumrah di hari tasyriq dengan mengikuti ketentuan syariat. Ia menegaskan bahwa waktu yang sah untuk melempar jumrah pada hari-hari tasyrik dimulai setelah shalat Subuh.

“Meski waktu afdal adalah setelah tergelincir matahari (zuhur), itu adalah waktu yang sangat padat dan panas. Karena itu, lebih baik mengikuti jadwal yang sudah ditetapkan oleh maktab dan syarikah demi keselamatan dan kenyamanan jamaah,” kata dia.

Kendati demikian, jamaah agar tidak memaksakan diri demi mengejar keutamaan waktu jika kondisi fisik tidak memungkinkan.

“Kepatuhan pada jadwal dan pengaturan yang telah ditetapkan adalah bagian dari menjaga keselamatan jamaah sekaligus tetap dalam koridor syariat,” kata Niam.