Belum Sempat Divaksin, Satu Anakan Sapi di Ngaliyan Mati Diduga PMK
Daniel Ari Purnomo May 25, 2026 06:16 PM

TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Jajaran Dinas Pertanian Kota Semarang mencatat temuan kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada ternak sapi di wilayahnya sepanjang tahun ini telah mencapai angka enam ekor. Kasus-kasus penularan tersebut berhasil ditemukan menyebar di kawasan Kecamatan Ngaliyan dan Kecamatan Banyumanik.

Kepala Dinas Pertanian Kota Semarang, Shotiah memaparkan bahwa masing-masing dari kedua wilayah kecamatan tersebut mencatat sebanyak tiga kasus penularan PMK. Kendati demikian, menurut penjelasannya, kondisi dari sejumlah hewan ternak yang sempat terpapar saat ini sudah mulai menunjukkan perkembangan pemulihan kesehatan yang cukup bagus.

"Kalau kasus PMK di Kota Semarang, informasi yang masuk memang kemarin sempat ada di Kecamatan Ngaliyan dan ada di Banyumanik. Itu sempat ada dan itu pun alhamdulillah tidak banyak dan saat ini sudah mulai penyembuhan. Sudah perkembangan juga bagus," ujarnya di sela-sela agenda inspeksi mendadak (sidak) di lapak hewan kurban kawasan Sendangmulyo, Kecamatan Tembalang, Senin (25/5/2026).

Baca juga: Dinas Pertanian Cilacap Genjot Vaksinasi PMK Jelang Iduladha 2026, Waspadai Penularan dari Luar

Shotiah mengutarakan, pola penanganan dan penanggulangan PMK pada saat ini dinilai sudah jauh lebih baik jika dibandingkan dengan masa awal mula kemunculan wabah tersebut beberapa waktu yang lalu. Para peternak lokal saat ini disebut sudah memiliki pemahaman yang lebih matang dalam mengenali gejala klinis maupun tata cara penanganan mandiri terhadap penyakit menular itu agar tidak panik.

"Artinya bahwa tidak seperti awal mula PMK waktu itu ada. Jadi kita dari petani sendiri, peternak sendiri juga panik untuk bagaimana cara penanganannya, mengenalinya juga masih bingung. Tapi saat ini sudah ada vaksin dan kita setiap saat juga melakukan vaksinasi untuk ternak-ternak yang ada di Kota Semarang," katanya menerangkan kondisi perbaikan di lapangan.

Ia mengimbuhi, pihak pemerintah daerah senantiasa terus menggalakkan program pelaksanaan suntik vaksinasi secara berkala terhadap populasi hewan ternak di wilayah Kota Semarang demi menekan laju penyebaran virus PMK sekecil mungkin.

"Jadi peternak sudah lebih paham, sudah lebih paham bagaimana cara menangani, cara mengenali, sehingga ini perkembangan sudah sudah bagus," lanjutnya menerangkan tingkat pemahaman peternak.

Terkait rincian jumlah akumulasi kasus, Shotiah kembali menegaskan bahwa sejauh ini terdata terdapat enam ekor hewan ternak sapi yang dikonfirmasi terpapar virus PMK.

"Kemarin tiga di Ngaliyan dan tiga di Banyumanik. Berarti enam itu," ucapnya merinci data statistik kasus.

Menurut penjelasannya, setiap hewan ternak yang kedapatan telah teridentifikasi atau memiliki indikasi kuat PMK akan langsung dipisahkan dari kelompok hewan ternak lainnya. Langkah karantina ketat ini diambil guna mencegah terjadinya potensi penularan virus yang lebih meluas di lingkungan peternakan sekitar.

"Itu berarti hewan ternaknya disendirikan dari yang lain, karena kalau sudah begitu harus disendirikan. Kalau sudah teridentifikasi PMK, harus diisolasi. Jadi nanti sampai sampai dia penyembuhan itu," jelasnya mengenai protokol penanganan.

Di samping itu, lanjut Shotiah, terdapat laporan mengenai adanya satu ekor sapi anakan atau pedet di wilayah Kecamatan Ngaliyan yang dilaporkan meninggal dunia dan diduga kuat terkait dengan serangan PMK. Shotiah membeberkan bahwa anak sapi yang nahas tersebut memang belum sempat menerima asupan dosis vaksinasi dari petugas.

"Itu salah satunya yang di ngaliyan ya itu. Itu juga dia kan masih anakan ya, jadi belum sempat divaksin, sehingga dia mungkin pas waktu itu sepertinya ada serangan," akunya menceritakan temuan kasus kematian ternak tersebut.

Meski begitu, pihaknya hingga saat ini masih belum dapat memastikan secara mutlak mengenai penyebab pasti atau jalur penularan awal pada hewan ternak anakan tersebut. Dugaan sementara itu muncul ke permukaan setelah adanya laporan proaktif dari pihak peternak lokal terkait dengan indikasi gejala fisik yang dialami oleh hewan peliharaannya.

"Ada laporan dari peternak waktu itu. Artinya, menunjukkan gejala-gejala seperti ini. Terus adanya dari petugas kesehatan, dari dokter hewan, dari paramedis kita ke lapangan, ternyata memang itu ada indikasi," pungkasnya mengakhiri penjelasan kepada awak media. (idy)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.