Kepala Daerah hingga Elite Politik Sulut Ramai-Ramai Gabung Gerindra, Pengamat: Konsolidasi Besar
Frandi Piring May 25, 2026 06:22 PM

 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Fenomena bergabungnya sejumlah kepala daerah, tokoh politik hingga staf khusus ke Partai Gerindra Sulawesi Utara (Sulut) dalam waktu berdekatan menjadi perhatian dalam dinamika politik daerah. 

Pergerakan politik tersebut dinilai bukan sekadar perpindahan biasa, melainkan bagian dari konsolidasi politik yang lebih besar.

Direktur Barometer Suara Indonesia, Baso Affandi, menilai ada sejumlah indikator yang mengarah pada penguatan konsolidasi politik Gerindra di Sulut.

"Jika kita melihat momentum dan pola perpindahannya yang terjadi serentak, maka sangat mungkin fenomena ini merupakan bagian dari konsolidasi politik yang lebih besar," ujar Baso, Senin (25/5/2026).

Menurutnya, perpindahan dilakukan oleh figur yang memiliki posisi strategis, terjadi saat pelaksanaan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Gerindra, serta berlangsung ketika tokoh nasional Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad, hadir langsung di Sulawesi Utara.

Ia menjelaskan dalam teori politik kondisi seperti ini dikenal sebagai realignment atau penyesuaian ulang posisi elite terhadap pusat kekuasaan baru. 

Selain itu juga terdapat fenomena bandwagon politics, yakni kecenderungan elite mendekati kekuatan politik yang dianggap dominan dan memiliki prospek besar.

"Bagi kepala daerah, kedekatan dengan partai besar yang memiliki akses kuat di tingkat nasional sering dianggap penting untuk memperkuat komunikasi pusat dan daerah, menjaga stabilitas politik, memperoleh dukungan pada kontestasi berikutnya hingga memperluas jejaring kekuasaan," katanya.

Karena itu, perpindahan figur seperti Hengky Honandar maupun Rendy Mangkat dinilai dapat dibaca sebagai penyesuaian strategis terhadap arah politik nasional dan daerah.

Baso juga menilai kehadiran Sufmi Dasco Ahmad memiliki pengaruh besar dalam proses konsolidasi politik di daerah.

Menurutnya, dalam kultur politik Indonesia, tokoh nasional bukan hanya simbol partai, melainkan representasi akses kekuasaan, legitimasi politik, dan jaminan komunikasi langsung dengan pemerintah pusat.

"Apalagi Dasco dikenal sebagai salah satu elite paling berpengaruh di lingkaran kekuasaan nasional saat ini. 

Kehadirannya dalam Rakerda bukan sekadar seremonial, tetapi bisa dibaca sebagai pesan bahwa Sulut menjadi wilayah yang diperhatikan secara strategis oleh Gerindra," ungkapnya.

Ia menambahkan, kedekatan elite daerah dengan tokoh nasional sering dianggap penting karena dapat membuka ruang negosiasi politik, memperkuat posisi internal, serta memberikan kepastian arah dukungan politik ke depan.

Sementara terkait dampaknya terhadap peta politik Sulawesi Utara, Baso menilai pergeseran kekuatan sangat mungkin terjadi apabila tren perpindahan elite terus berlanjut.

"Jika fenomena ini terus berlanjut dan mampu menarik lebih banyak kepala daerah maupun tokoh berpengaruh lainnya, maka Gerindra bisa berkembang dari sekadar partai kompetitor menjadi salah satu poros utama kekuatan politik di Sulawesi Utara," ujarnya.

Ia memprediksi dampaknya dapat terlihat melalui perubahan konfigurasi koalisi lokal menjelang Pilkada, Pileg, maupun distribusi kekuatan politik di DPRD.

Meski demikian, Baso mengingatkan perpindahan elite belum tentu otomatis mengubah pilihan masyarakat secara total.

Menurutnya, karakter politik Sulawesi Utara memiliki kekhasan tersendiri karena faktor figur personal, kedekatan sosial, rekam jejak, serta jaringan lokal masih menjadi penentu utama dibanding sekadar label partai.

"Keberhasilan konsolidasi Gerindra ke depan tidak hanya ditentukan banyaknya elite yang bergabung, tetapi juga kemampuan membangun struktur akar rumput, menjaga soliditas internal, serta menghadirkan kerja politik yang dirasakan langsung masyarakat," pungkasnya. (Pet)

Baca juga: Elite Politik Ramai-Ramai Gabung Gerindra Sulut, Akademisi Josef Kairupan: Efek Magnet Kekuasaan

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.